Panas, keras, dan penuh aroma rivalitas menjadi bumbu yang kerap tersaji saat Persib Bandung dan Persija Jakarta bertemu. Itu karena ada sejarah panjang hingga adu gengsi dan prestasi di antara kedua tim.
Setiap keduanya bermain, tak jarang emosi pemain tumpah di lapangan. Bahkan, tak jarang pelatih hingga staf kedua tim juga bersitegang di pinggir lapangan.
Di sisi lain, suporter di tribun stadion juga sesekali terbakar emosi melihat situasi di lapangan. Tetabuhan hingga nyanyian dari tribun pun seolah jadi pengiring jalannya pertarungan.
Persib vs Persija adalah pertarungan Maung dan Macan yang tersaji di lapangan dalam wujud para pemain kualitas jempolan. Setiap dari mereka yang bertempur kerap 'kerasukan' semangat yang tak wajar, membara, dan sesekali sulit menahan diri.
Seringkali emosi juga tak bisa dikunci. Sedangkan di hadapan sang pengadil lapangan, ada aturan yang harus ditegakkan. Setiap pelanggaran yang tak bisa ditolerir bakal diganjar kartu kuning atau merah.
Hujan kartu pun seolah jadi hal biasa dalam pertarungan yang kerap disebut 'El Clasico Indonesia' tersebut. Jumlah kartu yang keluar di laga Persib vs Persija pun cukup mencengangkan.
Akan tetapi, semua itu berubah di semifinal Piala Presiden 2026 yang digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8/2026). Di sini, Persib dan Persija bertarung satu sama lain.
Hasilnya, Persib menang 2-1 atas Persija. Uilliam Barros mencetak gol lewat sepakan first time di kotak penalti memaksimalkan umpan sepak pojok dari Luciano Guaycochea pada menit 23. Satu gol lagi lewat eksekusi penalti Balsa Sekulic menit 29.
Sedangkan gol Persija dicetak Kwon Chang-hoon pada menit 86 memanfaatkan umpan dari Victor Dethan. Namun, itu jadi satu-satunya gol Persija. Sehingga, Persib pada akhirnya menang 2-1.
Kemenangan itu membuat Persib melenggang ke babak final Piala Presiden 2026. Persib akan bertemu Persebaya Surabaya yang mengalahkan Arema FC 1-0 di semifinal.
Tradisi Hujan Kartu
Yang menarik, duel Persib vs Persija di semifinal Piala Presiden 2026 menghadirkan wajah baru. Tak ada lagi hujan kartu yang selama ini menjadi 'tradisi' dalam pertemuan kedua tim.
Di laga semifinal, duel Persib vs Persija hanya diwarnai tiga kartu kuning yang dikeluarkan wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto. Ini jadi kartu kuning paling sedikit bagi pemain dalam pertemuan kedua tim sepanjang 5 tahun terakhir.
Jika ditarik ke belakang, dalam 5 musim pertemuan kedua tim di kompetisi domestik, baik saat era Liga 1 atau Super League, total keduanya sudah 10 kali bertarung. Dari 10 pertarungan itu, setidaknya 64 kartu kuning sudah keluar.
Selain itu, ada empat kartu merah. Rinciannya adalah tiga kartu merah langsung dan satu kartu merah tidak langsung alias akumulasi akibat dua kartu kuning dalam satu laga.
Jika ditotalkan, 68 kartu sudah melayang bagi pemain dari kedua kubu hanya dalam 10 laga pada 5 musim terakhir, tepatnya sejak musim 2021/2022. Itu hanya untuk pemain, tidak termasuk untuk pelatih hingga staf yang sesekali juga kerap mendapatkan kartu.
Jika dikalkulasi, rata-rata setiap laga Persib vs Persija diwarnai hampir 6,8 atau nyaris 7 kartu untuk pemain. Namun, fakta di lapangan, yang terjadi justru kadang jauh lebih banyak. Duel 'El Clasico Indonesia' bahkan pernah diwarnai 12 kartu kuning dalam satu laga.
Ini terjadi pada Liga 1 2022/2023, tepatnya pada 31 Maret 2023. Saat itu, laga yang digelar di Stadion Patriot Chandrabhaga itu berakhir 2-0 untuk kemenangan Persija.
Yang cukup menyita perhatian saat itu adalah terjadi hujan kartu. Tak ada kartu merah yang keluar dari saku wasit, tapi jumlah kartu kuning mencapai 12, masing-masing enam untuk pemain dari kedua kubu.
Jumlah kartu ini jadi bukti jika pertemuan kedua tim memang kerap panas. Benturan keras dan terkadang tak bisa ditolerir kerap terjadi.