Pagi itu di awal Agustus 2026, suasana Stadion Jayaraga, Garut, terasa lebih tenang. Nugraha Subagja, pria 35 tahun yang lebih dikenal dengan sapaan Coach Ariel, baru saja menuntaskan perjuangan panjang di Liga 4 Piala Presiden 2026. Sebagai analis tim Persigar Garut, ia baru saja pulang membawa segudang cerita dari kompetisi musim ini.
Persigar sebenarnya nyaris mengukir tinta emas. Di bawah asuhan talenta-talenta lokal Garut, tim ini melesat hingga babak 8 Besar Liga 4 Piala Presiden 2026. Namun, takdir berkata lain. Langkah mereka terhenti, padahal tiket promosi ke Liga Nusantara (Liga 3) musim depan sudah di depan mata jika saja mereka mampu mengamankan posisi keenam klasemen kumulatif.
"Kami kemarin finish di peringkat ketujuh dari delapan tim yang bertanding secara kumulatif. Sayang sekali. Kami sudah berjuang semaksimal mungkin, tapi inilah sepak bola," ungkap Coach Ariel dengan nada tegar saat berbincang dengan detikJabar.
Lelah mental dan energi rupanya tak membuat Ariel beristirahat lama. Ia kembali dipanggil untuk mengabdi pada tanah kelahirannya, kali ini sebagai analis bagi Persigar junior yang bersiap mengarungi ketatnya persaingan Piala Soeratin U-15 dan U-17 musim ini.
Namun, ada hal yang jauh lebih menarik dari sekadar statistik pertandingan. Bagaimana mungkin seorang pria yang secara fisik bahkan tidak bisa berlari, mampu menjadi otak jenius di olahraga yang sangat mengandalkan kekuatan fisik?
Semuanya bermula pada malam musim panas Juli 1998. Nugraha kecil yang baru berusia 7 tahun terpaku di depan layar televisi, menyaksikan keajaiban Zinedine Zidane yang "menari" di lapangan hijau, menghancurkan kedigdayaan Brasil di Final Piala Dunia.
"Zidane cetak dua gol. Satu gol lain sebelum pertandingan berakhir, Emmanuel Petit yang cetak," kenang Ariel, mengingat momen hangat menonton bersama sang ayah.
Sejak malam itu, sepak bola menjadi napasnya. Namun, realita hidup memberikan tantangan berbeda. Lahir pada 24 Oktober 1991, Ariel didiagnosa mengalami tunadaksa. Pertumbuhan kaki dan tangannya tidak berjalan normal.
"Saya bahkan masuk sekolah SD itu di umur yang ke-9. Itu karena orang tua saya bingung. Katanya, ini anak mau dimasukkan ke SLB atau ke sekolah biasa, karena takut minder. Tapi, saya gak pernah minder. Justru saya anaknya nyerenteng sering main pukul saat kecil," ucapnya mengenang masa kecil yang penuh warna.
Johan Cruyff dan Ariel 'Noah' yang Penting di Hidup Nugraha
Darah sepak bola itu mengalir dari ayahnya, almarhum Yayat Sutaryat, seorang penggemar berat AC Milan era Maldini-Baresi dan pendukung setia Timnas Belanda. Sang ayah pula yang memperkenalkan sosok legendaris Johan Cruyff kepadanya.
"Katanya Johan Cruyff itu pintar dan jago. Dulu hanya bisa lihat di televisi, tanpa tahu makna pintar dan jago itu seperti apa. Pas zaman internet, mulailah mencari siapa dan kenapa Johan Cruyff dikatakan sebagai pemain yang jenius oleh bapak saya," tutur Nugraha.
Ariel kemudian menyelami filosofi Cruyff melalui berbagai literatur digital. Ia menemukan kekuatan dalam keterbatasan. "Perkataannya yang penuh pemikiran," tambahnya singkat.
Satu kutipan Cruyff yang selalu ia pegang teguh adalah "Para penyandang disabilitas yang berolahraga tidak memikirkan apa yang tidak mereka miliki. Melainkan berusaha menjadi lebih baik dengan apa yang mereka miliki. Hal yang sama berlaku bagi saya."
Selain Cruyff, inspirasi Ariel datang dari dunia musik, tepatnya dari Nazril Irham alias Ariel Noah. Baginya, lirik-lirik lagu Noah memiliki kedalaman makna yang menguatkan jiwanya.
"Salah satunya adalah lagu Terbangun Sendiri. Lagunya sederhana tapi diisi dengan kejeniusan. Saat berdosa, orang-orang menjauh dan Tuhan merangkul. Itu salah satu lirik yang menarik," katanya. Nama panggung "Ariel" pun melekat padanya karena kecintaannya pada sang vokalis. "Itu karena saya tampannya mirip dengan Ariel Noah," candanya.
Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "
(dir/dir)