Gemuruh suporter belum terdengar dari dalam Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (25/7/2026) sore. Namun, perayaan sesungguhnya sudah pecah di pelataran parkir dan sepanjang jalan menuju area stadion.
Asap dari panggangan sate, wangi seduhan kopi lokal, hingga riuhnya antrean transaksi jual-beli menjadi pemandangan utama. Laga pembuka Piala Presiden 2026 yang menyajikan double-header antara DPMM FC vs Tampines Rovers dan Persib Bandung vs Arema FC rupanya tak cuma soal adu taktik.
Di luar arena, turnamen pramusim ini hadir bak 'napas buatan' bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbas Kebijakan 'Tiket Gocap'
Kunci meledaknya daya beli penonton di pelataran stadion tak lepas dari gebrakan berani panitia penyelenggara. Penyeragaman harga tiket menjadi Rp 50.000 untuk seluruh kategori tribun, bahkan untuk kelas VIP sekalipun, membuat dompet suporter jauh lebih tebal dari biasanya.
Kebijakan ini terbukti efektif menyedot animo masyarakat. Tercatat, laga utama antara tuan rumah Persib Bandung melawan Arema FC disaksikan oleh hampir 24 ribu penonton. Kehadiran puluhan ribu massa ini secara otomatis menciptakan efek multiplikator perputaran uang yang sangat masif di luar lapangan.
Penonton memenuhi area UMKM sebelum pertandingan Persib vs Arema FC Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Sisa anggaran menonton dari hampir 24 ribu suporter yang tadinya harus dialokasikan untuk membeli tiket mahal, kini beralih menjadi jatah jajan massal. Roda ekonomi kerakyatan pun berputar dengan sangat deras.
"Saya kira harga tiket itu, biasanya minimal kan Rp 100 ribu, Rp 150 gitu. Tapi kok ini murah banget, cuma Rp 50 ribu, makanya anak langsung pesan," ujar Manaf Saefullah (47), Bobotoh asal Tasikmalaya yang jauh-jauh datang ke Si Jalak Harupat untuk menyaksikan pembukaan Piala Presiden 2026.
Dengan tiket yang sangat terjangkau itu, Manaf dengan santai bisa menikmati beragam jajanan yang berjejer di luar stadion. Bersama sang anak, ia berkeliling mencicipi aneka makanan dan minuman sebelum masuk ke dalam stadion.
"Iya dong (jajan banyak). Kayak ini lah cemilan-cemilan UMKM yang ada di sini. Sekalian bantu-bantu juga ya, mudah-mudahan UMKM-nya juga terbantu ya," ujarnya.
Daffa (24) warga Soreang juga merasakan hal serupa. Harga tiket yang hanya Rp 50 ribu membuat ia dan kerabatnya bisa leluasa membeli berbagai menu jajanan dari pelaku UMKM.
"Kan tiket sekarang murah. Untuk menikmati pra-musim ini ya kurang afdol rasanya kalau nggak bawa cemilan kan. Apalagi di sini banyak UMKM, ya sangat membantu UMKM juga dengan harga (tiket) segitu," ucap Daffa.
Hal ini menjadi bukti bahwa jargon 'hiburan rakyat' benar-benar terimplementasi. Uang penonton kini mengalir langsung memutar pundi-pundi ekonomi di tingkat akar rumput.
Pemandangan serupa juga terlihat di titik penukaran tiket di Kodim 0624, Soreang. Kewajiban menukar e-ticket menjadi gelang fisik sejak pukul 09.00 WIB menciptakan titik kumpul massa yang masif di luar radius stadion.
Kondisi ini membuat warung-warung dan pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang koridor Jalan Terusan Soreang-Cipatik panen raya. Arus hilir mudik ribuan manusia menjadi ladang cuan dadakan bagi mereka.
"Alhamdulillah, dari jam 10 pagi suporter sudah pada antre beli es kelapa dan gorengan sambil nunggu tukar tiket. Biasanya dagangan baru habis sore, ini jam 1 siang sudah habis," kata Mamat (45) salah satu pedagang asongan dengan senyum sumringah.
Lapak Gratis
Lapak UMKM di event Piala Presiden 2026 Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Di area dalam stadion, raut bahagia juga terpancar dari wajah para pelaku UMKM binaan panitia. Kebijakan afirmatif yang membebaskan biaya sewa lapak di area stadion berdampak langsung pada margin keuntungan mereka.
"Nggak bayar, free, kita ditempatin, disediakan tenan, meja, sama kursi, nggak dipungut sepeser pun," tutur Cerdagus, karyawan Mih Kocok Mang Dedeng, salah satu UMKM yang hadir di gelaran Piala Presiden 2026.
"Dibandingkan sama event-event yang lain kan harus bayar di belakangnya sekian persen, pemotongan dari penghasilan. Di sini gratis," sambungnya.
Sementara Dody, owner Pempek Kiarin yang sehari-harinya berjualan online di kawasan Margaasih mengaku bersyukur bisa berpartisipasi di Piala Presiden 2026 dan ikut menjajakan dagangannya.
Selain tanpa dipungut biaya, Dody menyebut dirinya berkesempatan untuk memperkenalkan pempek buatannya kepada para suporter yang hadir langsung di stadion.
"Selaku UMKM terbantu banget dengan kita diajak berkontribusi di sini. Jadi di sini kita difasilitasi, gratis, kesempatan kita juga untuk mengenalkan produk," ujar Dody.
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait saat meninjau lapak UMKM di Jalak Harupat Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Visi Ekonomi Kerakyatan
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait menegaskan bahwa turnamen ini memang dirancang khusus untuk menghidupkan ekosistem ekonomi bawah. Sepak bola, menurutnya, harus menjadi panggung hiburan yang memberdayakan.
"Kita berusaha yang terbaik untuk menjaga arahan Presiden Prabowo. Nomor satu, benar-benar transparan, jadi kita diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), auditor yang levelnya internasional. Yang kedua, kita tidak menggunakan uang negara," kata Maruarar.
"Kemudian juga UMKM. UMKM-nya ada dua jenis, yang sudah bagus, sudah mapan di daerah sekitar Bandung, dan yang dipilih yang akan juga bagus ke depannya. Dan senangnya adalah ramai ya, dan laku. Jadi kita mengenalkan juga UMKM yang baru berkembang supaya ada dampaknya dari Piala Presiden ini," lanjutnya.
Ia juga menilai harga tiket yang dipatok Rp 50 ribu menjadi salah satu alasan tingginya antusiasme masyarakat. Menurutnya, sepak bola harus menjadi hiburan yang berkualitas namun tetap terjangkau.
"Kan buat hiburan rakyat, dan supaya rakyat itu bisa mendapatkan hiburan yang berkualitas ya. Terjangkau, berkualitas, aman, makanannya juga terjangkau juga. Kan harusnya negara begitu kan, kalau negara hadir itu ya membuat hiburan yang berkualitas, bayar tiketnya murah, makanannya juga oke, tempatnya bersih, aman," tegasnya.
(bba/yum)



