Infrastruktur Persib Dinilai Belum Sebanding dengan Reputasi

Infrastruktur Persib Dinilai Belum Sebanding dengan Reputasi

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 14 Jul 2026 19:00 WIB
Umuh Muchtar saat melihat latihan perdana Persib di bawah asuhan Igor Tolic
Umuh Muchtar saat melihat latihan perdana Persib di bawah asuhan Igor Tolic. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Persib Bandung terus menunjukkan ambisi menjadi klub elite di Indonesia, baik lewat prestasi maupun aktivitas di bursa transfer. Namun, di balik citra sebagai klub dengan kekuatan finansial yang mapan, pekerjaan rumah di sektor infrastruktur dinilai masih jauh dari kata selesai.

Memang, Persib telah mencatat kemajuan dengan mengambil alih pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) selama 30 tahun sejak akhir 2024. Di kawasan stadion, manajemen juga membangun lapangan pendamping sebagai tempat latihan tim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar klub profesional. Pelatih Persib Igor Tolic bahkan mengakui kondisi lapangan latihan pendamping belum ideal untuk menunjang persiapan tim.

Di sisi lain, fasilitas penting seperti pusat latihan (training center), pusat kebugaran (gym), hingga sport center yang selama ini dijanjikan manajemen juga belum terealisasi.

ADVERTISEMENT

Sorotan terhadap kondisi rumput Stadion GBLA yang tengah menjalani perbaikan semakin menambah daftar evaluasi terhadap kesiapan infrastruktur Maung Bandung menjelang musim 2026/2027.

Bobotoh senior Eko Noer Kristiyanto atau yang akrab disapa Eko Maung menilai ukuran profesionalisme sebuah klub tidak hanya dilihat dari prestasi di lapangan maupun legalitas perusahaan, tetapi juga dari infrastruktur yang dimiliki.

"Kalau kita ngomongin klub profesional itu kan banyak aspek, diantaranya yang paling penting legalitas Persib sudah oke, terus aspek SDM bisa jadi oke bisa jadi belum karena semua pegawai harus punya lesson, itu yang bisa jadi Persib akan mengklaim oke," kata Eko, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, justru aspek infrastruktur menjadi indikator yang paling mudah dinilai publik karena terlihat secara nyata.

"Tapi yang kasat mata bisa dinilai sama orang itu terkait insfratruktur ya, stadium aja sebetulnya bukan punya sendiri, latihan juga bukan tempat sendiri, masih dalam pembangunan kan. Kasat mata, suporter bisa menilai jadi apa tidaknya," ujarnya.

Eko membandingkan Persib dengan sejumlah klub lain di Indonesia yang dinilai lebih dulu membangun fasilitas penunjang meski belum memiliki stadion sendiri.

"Beda sama Bali (United), memang belum ada klub yang punya stadion sendiri sampai sekarang, tapi sarana latihan mereka punya sendiri, tempat gym, sport center punya sendiri," katanya.

Karena itu, ia menilai pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi prioritas utama manajemen apabila ingin membawa Persib naik kelas sebagai klub profesional berstandar internasional.

"Jadi harus punya, harus diutamakan. Ini masalah reputasi, bonafit, klub yang selama ini katanya finansialnya kuat harus ke sana," tegasnya.

Meski memahami pembangunan fasilitas membutuhkan proses panjang, Eko menilai publik berhak mempertanyakan realisasi berbagai janji yang telah disampaikan manajemen sejak beberapa tahun terakhir.

"Itu manajemen pasti punya segudang alasan soal proses, negosiasi, pengadaan, cuma masalahnya pernyataan ini muncul dari tahun lalu. Ini mungkin gak ada progres, gitu aja jadi Bobotoh menilai dan ini keinginan lebih baik buat klub," katanya.

Baginya, berbeda dengan aspek manajemen atau sumber daya manusia yang sulit diukur dari luar, pembangunan infrastruktur merupakan bukti nyata yang bisa langsung dilihat dan dirasakan publik.

"Soal infrastruktur itu kasat mata, beda dengan SDM, orang kita gak tahu tapi infrastruktur kasat mata dan ini yang mungkin buat Bobotoh gak nampak," ujarnya.

Di sisi lain, Eko juga melihat perubahan cara pandang Bobotoh dalam mengawal perkembangan klub. Menurutnya, suporter kini tidak lagi hanya menyoroti hasil pertandingan atau isu transfer pemain.

"Jadi memang wajar dan ini bagus tren di Bandung suporter sekarang bukan cuma bicara tentang hasil pertandingan atau rumor pemain baru, mereka mampu mengkritisi aspek lain selain pertandingan termasuk soal FIFA ban yang belum dicabut itu bagus," pungkasnya.

(bba/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads