Viking Persib Sambut Baik Wacana Pencabutan Larangan Away

Viking Persib Sambut Baik Wacana Pencabutan Larangan Away

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 08 Jul 2026 14:30 WIB
Sejumlah pendukung Persib Bandung mulai mendatangi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Sabtu (23/5/2026). Persib Bandung melakoni laga terakhir dengan menjamu Persijap Jepara di GBLA, laga ini menjadi penentu mereka dalam meraih gelar juara ketiga kali secara beruntun.
Viking Persib Club (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)
Bandung -

Rencana PSSI untuk menghapus larangan suporter tamu secara bertahap mendapat respons positif dari Viking Persib Club (VPC). Kelompok suporter terbesar Persib Bandung ini menilai kebijakan tersebut sudah semestinya dilakukan mengingat aturan larangan away selama ini terbukti tidak efektif dan justru membebani klub dengan sanksi denda.

Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, menegaskan bahwa kehadiran suporter di kandang lawan bukan sekadar urusan dukungan teknis, melainkan instrumen penting untuk merajut silaturahmi antar-kelompok suporter.

"Sangat menyambut baik ya kalau memang itu benar terjadi. Karena kan bagaimanapun away itu sarana silaturahmi untuk mendekatkan antar suporter sebenarnya. Kalaupun ada risiko-risiko bentrok dan lain sebagainya kan sebenarnya itu bisa mitigasi," kata Tobias saat dihubungi, Rabu (8/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tobias berpendapat, potensi gangguan keamanan tidak bisa dijadikan alasan tunggal untuk menutup pintu bagi suporter tamu. Menurutnya, aparat keamanan memiliki kapabilitas untuk memetakan risiko serta menentukan kelayakan sebuah pertandingan dihadiri pendukung lawan.

ADVERTISEMENT

"Karena ada aparat keamanan, ada koordinasi awal sebelum pertandingan dan lain sebagainya, kan pasti aparat keamanan punya pertimbangan lah apakah suporter tersebut boleh datang atau tidak. Jadi sebenarnya sangat baik kalau dihapus, jadi tidak dipukul rata semua tidak boleh gitu. Tapi dikembalikan kepada hubungan antar kedua suporter dan dikembalikan kepada pertimbangan dari kepolisian," ujarnya.

Ia juga menyoroti realitas di lapangan di mana larangan tersebut kerap diabaikan. Bobotoh maupun suporter klub lain tetap nekat melakukan perjalanan tandang, yang pada akhirnya hanya berujung pada kerugian finansial bagi klub akibat denda regulasi.

"Karena kan sekarang juga larangan away ada tapi kenyataannya di lapangan orang away-away aja, jadi buat apa bikin aturan tersebut kalau memang tidak efektif gitu. Jadi sudah benar sekali kalau memang mau dicabut," tegasnya.

Viking berharap pencabutan aturan ini dibarengi dengan penguatan koordinasi antara PSSI, iLeague, klub, suporter, hingga kepolisian guna merumuskan mekanisme keberangkatan yang aman.

"Tinggal bagaimana PSSI berkoordinasi atau iLeague, PSSI, klub, suporter saling berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk membuat skema away yang aman dan bisa aman buat semuanya gitu aja sih kalau dari saya," katanya.

Kebijakan ini juga dinilai selaras dengan kampanye "No Denda" yang diusung Viking untuk musim 2026/2027. Tobias melihat selama larangan away masih berlaku, risiko denda akan terus membayangi klub karena antusiasme Bobotoh sulit dibendung.

"Dan ini juga kan sejalan ya sama kampanye yang mau kita gaungkan di musim ini bahwa kita kan mau gaungkan no denda atau zero denda. Nah cuma kan kalau ada larangan away bagaimanapun pasti ada denda aja, da Bobotoh mah nggak akan bisa dilarang ya untuk menonton Persib gitu," ungkapnya.

Mengenai wacana tanggung jawab penuh klub atas pelanggaran suporter di laga tandang, Tobias menganggap hal itu bukan perkara baru. Ia menyebut tanggung jawab klub terhadap perilaku pendukungnya sudah melekat dalam regulasi kompetisi yang ada.

"Jadi kan sebenarnya memang tanpa harus ada dicabut atau nggak itu mah sudah melekat kepada klub bahwa perilaku suporter itu ada tanggung jawab juga dari klubnya. Tapi kan bentuk tanggung jawabnya berupa edukasi dan lain sebagainya kan sebenarnya mah udah ada aturannya," ujarnya.

"Kayak misalnya ketika suporternya berulah membuat kerusuhan kan memang ada aturannya, ada denda buat klub dan lain sebagainya yang memang itu ada. Jadi sebenarnya tidak ngaruh dengan apakah ada larangan away atau tidak gitu. Dan kalau ada larangan away juga ketika berulah kan ada denda juga tambahan gitu, jadi sama-sama aja sebenarnya mah," sambung Tobias.

Meski menekankan pentingnya kedewasaan suporter, Tobias mengingatkan agar suporter tidak melulu dijadikan kambing hitam saat terjadi insiden. Ia mendesak pihak penyelenggara dan keamanan untuk lebih serius dalam melakukan mitigasi.

"Iya itu kan kembali lagi ke suporter masing-masing, tapi kan suporter juga tidak bisa selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab satu-satunya ya. Kan kadang-kadang juga baik liga maupun kepolisian kan bisa membuat mitigasi-mitigasi gitu yang bisa meminimalisir itu gitu," katanya.

Tobias merujuk pada standar sepak bola internasional, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia yang sedang berlangsung saat ini, di mana suporter dari berbagai negara bisa berada dalam satu stadion dengan aman berkat manajemen risiko yang matang.

"Jadi selama mitigasinya sudah dilakukan, analisis risikonya sudah diindikasikan dengan matang saya kira mah tidak akan ada masalah. Da dari zaman dulu juga away ada dan kita ini lagi Piala Dunia sekarang kita lihat orang-orang di berbagai macam dunia juga bisa nonton di satu tribun tidak dilarang," terangnya.

"Tapi kan mitigasinya mereka buat dengan benar, ada tribun khusus yang suporter yang bener-bener dari away fans-nya di mana ditempatkannya, home fans-nya di mana, mana yang bisa bercampur dan sebagainya kan itu kan bisa dilakukan sebenarnya gitu," pungkasnya.




(bba/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads