"Ini bukan wisata tubing, tapi edukasi mengajak siapapun untuk peduli Sungai Ciliwung. Wisata tubing itu bonusnya," kata Budi Sugiono, salah satu penggagas Komunitas Domba Tubing, memulai perbincangan dengan detikJabar, Selasa (7/7/2026).
Kalimat itu menjadi penjelasan sekaligus bantahan atas anggapan banyak orang yang mengenal Domba Tubing hanya sebagai destinasi bermain air. Di balik ban-ban pelampung (tubing) yang mengapung di Sungai Ciliwung, sesungguhnya ada pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar menyusuri arus. Setiap hari, komunitas kecil itu berjibaku memunguti sampah yang datang tanpa henti dari hulu.
Tak ada tiket masuk. Tak ada loket. Tak ada tarif untuk menikmati sungai yang mulai kembali jernih. Satu-satunya 'bayaran' yang diminta hanyalah kesediaan memungut sampah.
"Kalau mau dibilang bayar, ya bayarnya pakai keringat. Ambil sampah di sungai. Itu saja," ujar Budi sambil tersenyum.
Komunitas itu justru lahir dari dunia yang sama sekali berbeda. Sebelum dikenal sebagai pegiat lingkungan, Budi lebih dulu mengumpulkan anak-anak muda yang menganggur untuk belajar beternak domba. Mereka diajari memelihara kambing, mencari pakan hingga memahami cara menjual ternak. Beberapa berhasil. Salah satunya bahkan mampu mengembangkan usaha sendiri.
Namun, rutinitas mencari rumput membawa mereka pada persoalan lain. Setiap kali beristirahat di tepian Ciliwung, mereka menyaksikan pemandangan yang miris sebagai warga yang tinggal dekat dengan sungai purba yang dipenuhi sampah.
"Nah, waktu habis cari pakan kambing kami istirahat di pinggir kali. Lama-lama kami lihat kok sungainya makin tercemar, sampahnya makin banyak. Dari situ kami mulai bersihin pelan-pelan," tuturnya.
Mulanya hanya membersihkan tumpukan sampah di sekitar tempat mereka berkumpul. Sedikit demi sedikit. Tanpa target besar. Tanpa kamera. Tanpa dukungan siapa pun.
Belakangan mereka menyadari, membersihkan sungai yang menjadi saksi bisu peradaban saja tidaklah cukup. Dibutuhkan wadah yang mampu menarik lebih banyak anak muda agar mau turun tangan. Dari situlah lahir Komunitas Domba Tubing, sebuah nama yang sengaja dipertahankan sebagai pengingat bahwa gerakan itu bermula dari kandang domba, bukan dari bisnis wisata.
Membangun komunitas ternyata tidak lebih mudah daripada membersihkan sungai. Budi mengaku banyak anak muda tertarik ketika melihat hasilnya. Mereka melihat ada anggota yang berhasil memelihara belasan ekor kambing hingga meraup puluhan juta rupiah saat Iduladha. Namun ketika diajak menjalani proses, satu per satu memilih mundur.
"Mereka banyak yang lihat hasilnya. Tapi waktu masuk prosesnya, banyak yang gugur di jalan. Berat buat mereka," kata laki-laki 34 tahun ini.
Pengalaman itu membuatnya mengubah pendekatan. Ia tidak lagi sekadar mengajak bekerja, tetapi menunjukkan manfaat yang bisa dirasakan langsung.
"Kita kasih lihat dulu. Bahwa bersih itu indah. Setelah mereka lihat sungai bersih, baru kita edukasi. Enak enggak kalau lingkungan seperti ini kita jaga?" kata Budi.
Kini, sekitar 20 anggota aktif bergantian merawat sungai. Sebagian besar memiliki pekerjaan masing-masing sehingga aktivitas bersih-bersih dilakukan seusai bekerja atau pada akhir pekan. Meski demikian, bagi mereka, Ciliwung tidak mengenal hari libur.
Namun, bersih-bersih sungai tidak pernah tuntas. Persoalan kembali muncul setiap hujan turun di kawasan hulu, sampah kembali berdatangan.
"Setiap hari kami dikirim sampah. Debit air naik sedikit saja, sampah numpuk lagi. Makanya harus dirawat setiap hari," ujarnya.
Kiriman sampah itu bahkan tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Budi dan rekan-rekannya kerap menyusuri sungai hingga wilayah Cilebut untuk memungut sampah yang hanyut sebelum akhirnya menumpuk di lokasi mereka.
"Kami sampai izin ke warga Cilebut untuk bersih-bersih di wilayah mereka. Mudah-mudahan semua warga sadar supaya tidak buang sampah ke sungai," kisah Budi.