Ini Dugaan Sumber Suara Dentuman yang Terdengar di Bandung

Ini Dugaan Sumber Suara Dentuman yang Terdengar di Bandung

Bima Bagaskara - detikJabar
Sabtu, 05 Sep 2026 08:38 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau malam ini
Erupsi Gunung Anak Krakatau (Foto: Dok. PVMBG).
Bandung -

Suara dentuman misterius yang dilaporkan terdengar oleh warga di sejumlah wilayah Jawa Barat dan sekitarnya pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi mencatat, saat laporan suara dentuman dan getaran itu muncul dari sejumlah wilayah di Jawa Barat, Banten, hingga Lampung, Gunung Anak Krakatau juga tengah mengalami erupsi terus-menerus yang disertai suara gemuruh.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, keterkaitan antara suara yang dilaporkan masyarakat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berupa dugaan. Namun, waktu kemunculan kedua fenomena tersebut berlangsung secara bersamaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," kata Lana dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

ADVERTISEMENT

Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Secara administratif, wilayah tersebut masuk ke Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Aktivitas gunung tersebut dipantau melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, serta Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Anak Krakatau memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik. Erupsi besar pada 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah dan memicu tsunami.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2018. Saat itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau disertai longsoran sebagian tubuh gunung yang memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Setelah kejadian tersebut, Anak Krakatau terus mengalami serangkaian erupsi berskala rendah sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh gunung hingga 16 Desember 2023.

Setelah sempat mengalami jeda erupsi cukup lama, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III atau Siaga.

"Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026," ujarnya.

Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi yang cukup intens terjadi pada malam hingga dini hari. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi terus-menerus yang disertai suara gemuruh selama beberapa jam.

"Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK. Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus," papar Lana.

Fenomena erupsi tersebut disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Aktivitas itu menghasilkan semburan lava pijar yang terlihat jelas dari kawasan pengamatan.

"Fenomena erupsi ini menyerupai "lava fountain" atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," ucapnya.

Meski demikian, Badan Geologi memastikan hingga saat ini pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi menyebabkan keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," jelasnya.

Hingga Sabtu dini hari, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Ancaman utama dari aktivitas erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.

"Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Nasib Warga Sekitar Gunung Sinabung Pasca Erupsi"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads