Rahasia Canggih di Balik 'Trionda', Bola Piala Dunia 2026

Soccer Update

Rahasia Canggih di Balik 'Trionda', Bola Piala Dunia 2026

Fahri Zulfikar - detikJabar
Minggu, 05 Jul 2026 15:00 WIB
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Round of 32 - Switzerland v Algeria - BC Place, Vancouver, Canada - July 2, 2026 A close-up of the match balls inside the stadium before the match REUTERS/Lee Smith
Bola Piala Dunia Trionda (Foto: Lee Smith/REUTERS)
Jakarta -

Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan inovasi dari sisi teknologi wasit, tetapi juga melalui bola pertandingan resminya. Bola bernama Trionda ini dibekali sensor pintar yang mampu mengirimkan data secara real-time mengenai setiap gerakan, posisi, hingga sentuhan yang terjadi selama pertandingan.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu wasit mengambil keputusan yang lebih akurat, terutama dalam situasi krusial seperti offside, handball, hingga insiden penalti.

Melansir detikEdu yang mengutip laman resmi FIFA, di dalam bola Trionda tertanam inertial measurement unit (IMU), yakni sensor yang bekerja dengan frekuensi hingga 500 Hz. Artinya, sensor tersebut merekam data pergerakan bola sebanyak 500 kali setiap detik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sensor ini melacak percepatan dan pergerakan bola dalam tiga dimensi. Informasi tersebut kemudian dikirim secara langsung ke ruang operasi Video Assistant Referee (VAR) untuk dipadukan dengan data pelacakan pemain yang berasal dari kamera-kamera di stadion.

ADVERTISEMENT

"Data ini digunakan untuk menghitung kapan terjadi sentuhan, dan informasi ini kemudian ditransmisikan secara real-time ke ruang operasi video, di mana informasi tersebut digabungkan dengan data pelacakan pemain dari kamera stadion untuk membantu asisten wasit video (VAR)," tulis FIFA.

Sensor Ringan, Dibantu 16 Kamera dan Kecerdasan Buatan

Meski dibekali teknologi canggih, sensor IMU dibuat sangat ringan sehingga tidak memengaruhi keseimbangan maupun performa bola saat digunakan. Sensor tersebut juga dapat diisi ulang secara nirkabel melalui sistem induksi.

Kecanggihan Trionda tidak hanya bergantung pada sensor di dalam bola. Sistem ini juga terhubung dengan 16 kamera pelacak khusus yang dipasang di stadion. Kamera-kamera tersebut memantau posisi bola dan seluruh pemain di lapangan, sekaligus mengumpulkan 29 titik data dari setiap pemain sebanyak 50 kali per detik.

Seluruh data kemudian diproses menggunakan kecerdasan buatan (AI). Sistem akan mengirimkan peringatan otomatis kepada tim VAR apabila terdeteksi potensi pelanggaran atau kejadian penting. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit.

Dengan dukungan teknologi tersebut, bola Trionda dapat membantu wasit dalam berbagai situasi pertandingan, antara lain:

  • Mengidentifikasi secara presisi sentuhan terakhir pada bola untuk membantu penentuan offside.
  • Menyediakan data rinci mengenai kontak dengan bola dalam analisis handball maupun insiden penalti.

FIFA menjelaskan bahwa teknologi bola terhubung ini bukanlah hal yang benar-benar baru. Sistem tersebut telah melalui berbagai uji coba sejak 2020 dan kembali disempurnakan menjelang Piala Dunia 2026 guna memastikan integrasi yang mulus dengan teknologi VAR.

Sebelum turnamen dimulai, tim inovasi FIFA juga melakukan serangkaian pengujian ketat bersama seluruh penyedia teknologi agar sistem bekerja secara optimal dan mampu mendukung pengambilan keputusan wasit secara lebih akurat.

Dirancang Berdasarkan Matematika dan Fisika

Keunikan Trionda tidak hanya terletak pada teknologi di dalamnya, tetapi juga pada desain fisiknya.

Mengutip Scientific American, bentuk bola ini dirancang menggunakan konsep bangun ruang tetrahedron, salah satu bangun ruang Platonik yang terdiri atas empat bidang segitiga.

Berbeda dengan bola sepak konvensional, panel-panel Trionda memiliki sisi berbentuk lengkung sehingga saat disusun mampu membentuk permukaan yang lebih mendekati bulat sempurna. Desain tersebut membantu menghasilkan karakter pantulan dan lintasan bola yang lebih konsisten.

Selain itu, para perancang juga memperhatikan aspek aerodinamika dengan meminimalkan hambatan udara. Permukaan bola dibuat memiliki tekstur khusus serta jahitan berlekuk yang dirancang melalui berbagai simulasi fisika.

Kombinasi tekstur permukaan, panjang jahitan, dan kedalaman lekukan tersebut menghasilkan tingkat kekasaran yang ideal. Hasilnya, bola tetap stabil saat melaju di udara sekaligus memberikan kontrol yang nyaman bagi para pemain selama pertandingan.

Artikel ini sudah tayang di detikEdu

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Brasil Hajar Skotlandia 3-0, Vinicius Brace"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads