PSGC Ciamis resmi menjadi tim satelit Persib Bandung untuk menghadapi kompetisi Liga 2 musim 2026/2027. Kerja sama ini diharapkan menjadi jalur pengembangan pemain muda Persib agar mendapatkan menit bermain lebih banyak sebelum menembus tim utama.
Namun, status baru PSGC sebagai tim satelit memunculkan pertanyaan. Bagaimana jika PSGC berhasil promosi ke Super League musim depan? Apakah mereka bisa bermain di kasta yang sama dengan Persib?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto menilai bahwa secara prinsip tim satelit tidak seharusnya berada dalam kompetisi yang sama dengan klub induknya.
"Harusnya nggak bisa, kan kalau satelit itu kan bukan untuk berhadap-hadapan," kata Eko saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Menurut Eko, konsep tim satelit memang dibentuk sebagai bagian dari pembinaan pemain, bukan untuk menjadi pesaing klub utama di level kompetisi yang sama.
Ia mencontohkan praktik yang diterapkan sejumlah klub besar Eropa. Salah satunya Real Madrid yang memiliki tim cadangan, Real Madrid Castilla, namun tidak diperbolehkan promosi ke kasta yang sama dengan tim utama.
"Ambil contoh di luar negeri, seperti Real Madrid punya Real Madrid B, nggak bisa mereka naik gitu," ujarnya.
Eko menegaskan bahwa larangan tersebut semakin kuat apabila pengelolaan kedua klub berada di bawah entitas perusahaan yang sama. Dalam konteks Persib dan PSGC, ia menilai hal itu akan menimbulkan konflik kepentingan apabila kedua tim bermain di kompetisi yang sama.
"Betul. Apalagi kalau pengelolaannya masih satu PT, PT PBB. Ya nggak bisa masa satu PT pegang dua klub di level yang sama," tegasnya.
(bba/orb)
