Laga Grup D Piala Dunia 2026 antara Turki dan Paraguay di San Francisco Bay Area Stadium, Sabtu (20/6/2026), diwarnai insiden yang menarik perhatian. Gelandang Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah akibat melanggar aturan baru FIFA yang melarang pemain berbicara sambil menutupi mulut.
Aturan tersebut mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 dan dikenal luas dengan sebutan Prestianni Law. Melansir detikSport, regulasi ini dibuat untuk meningkatkan transparansi di lapangan sekaligus mencegah terjadinya ujaran bernuansa diskriminatif, rasis, maupun seksis yang sulit terdeteksi saat pemain menutupi mulut mereka ketika berbicara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden yang melibatkan Almiron terjadi menjelang berakhirnya babak pertama. Saat terjadi pelanggaran di area tengah lapangan, pemain berusia 31 tahun itu terlihat berbicara kepada bek Turki, Mert Muldur, sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
Aksi tersebut kemudian dilaporkan kepada wasit Ivan Barton. Setelah melakukan peninjauan melalui tayangan ulang, wasit asal El Salvador itu memutuskan mengeluarkan kartu merah langsung untuk Almiron.
Keputusan tersebut memicu protes dari para pemain Paraguay. Namun, Barton tetap pada keputusannya dan Paraguay harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama.
Meski kehilangan satu pemain, Paraguay mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan usai. Gol cepat MatΓas Galarza pada menit kedua menjadi penentu kemenangan 1-0 atas Turki sekaligus menjaga peluang Paraguay untuk melaju ke fase gugur.
Asal-usul Prestianni Law
Prestianni Law lahir dari kontroversi yang terjadi pada laga playoff Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid pada Februari 2026.
Dalam pertandingan tersebut, pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh oleh Vinicius Junior melontarkan hinaan bernada rasis sambil menutupi mulutnya. Tuduhan itu memicu penyelidikan dari UEFA.
Prestianni kemudian membantah telah melontarkan ujaran rasis. Dalam keterangannya kepada otoritas sepak bola Eropa, ia mengakui mengucapkan kata-kata ofensif kepada Vinicius, namun bukan seperti yang dituduhkan sebelumnya.
Meski demikian, UEFA tetap menjatuhkan sanksi berupa larangan bermain enam pertandingan, dengan tiga pertandingan di antaranya ditangguhkan selama masa percobaan dua tahun.
Kasus tersebut memicu perdebatan luas di dunia sepak bola. Banyak pihak menilai kebiasaan berbicara sambil menutupi mulut menyulitkan proses investigasi terhadap dugaan penghinaan, ujaran kebencian, maupun tindakan diskriminatif di lapangan.
Sebagai respons, FIFA kemudian mengesahkan regulasi yang melarang pemain menutupi mulut saat berbicara dalam situasi pertandingan, terutama ketika berinteraksi dengan lawan, wasit, atau ofisial.
Tujuan utama aturan ini adalah menciptakan lingkungan pertandingan yang lebih terbuka serta mempermudah penegakan disiplin terhadap tindakan verbal yang melanggar nilai-nilai sportivitas.
Dengan kartu merah yang diterima Miguel Almiron, sejarah baru pun tercipta. Gelandang Paraguay itu resmi menjadi pemain pertama yang mendapat hukuman langsung akibat pelanggaran Prestianni Law di ajang Piala Dunia 2026.
Artikel ini sudah tayang di detikSport
