Soccer Update

Aksi Bersih-bersih Fans Jepang Dipuji Dunia, tapi Dikritik di Rumah

Rahmi Anjani - detikJabar
Sabtu, 20 Jun 2026 18:00 WIB
Aksi bersih-bersih stadium oleh suporter Jepang di Piala Dunia 2026 (Foto: FIFA)
Jakarta -

Jepang selama ini dikenal sebagai negara dengan budaya disiplin, tertib, dan menjaga kebersihan. Dalam berbagai ajang olahraga internasional, para pendukung dari Negeri Sakura kerap mencuri perhatian karena kebiasaan mereka membersihkan area stadion setelah pertandingan usai.

Aksi tersebut sering mendapat pujian dari masyarakat dunia dan dianggap sebagai contoh sikap bertanggung jawab di ruang publik. Namun, di balik apresiasi itu, muncul kritik dari kalangan perempuan Jepang yang menilai kebiasaan tersebut menunjukkan adanya standar ganda dalam kehidupan sehari-hari.

Melansir Wolipop, perdebatan itu mencuat setelah sebuah unggahan viral di media sosial menyindir para penggemar sepak bola pria Jepang yang rajin memungut sampah di stadion, tetapi dinilai kurang berkontribusi dalam pekerjaan rumah tangga.

Unggahan tersebut menampilkan ilustrasi seorang pria yang terlihat santai di sofa saat seorang perempuan mencuci piring. Pada gambar lain, pria yang sama tampak membersihkan stadion seusai pertandingan sepak bola.

Di atas ilustrasi itu tertulis pesan satir berbunyi, "Silakan lakukan di rumah," yang terinspirasi dari poster etika yang biasa ditemukan di kereta bawah tanah Tokyo.

Pesan tersebut memicu diskusi luas di media sosial. Banyak perempuan Jepang mengaku setuju dengan kritik tersebut. Mereka menilai sebagian besar pekerjaan domestik masih dibebankan kepada perempuan, meskipun para pria sering terlihat aktif dalam kegiatan kebersihan di ruang publik.

"Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tetapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring," tulis seorang pengguna media sosial X, mengutip pernyataan penulis Amerika Serikat, PJ O'Rourke.

Komentar lain menyoroti kemungkinan adanya ketimpangan peran dalam rumah tangga.

"Mungkin ada seorang pria di antara mereka yang memungut sampah di stadion, tetapi meninggalkan istrinya di rumah untuk mengurus anak-anak demi menonton Piala Dunia," tulis pengguna lainnya.

Sebagian warganet juga mengingatkan bahwa citra kebersihan masyarakat Jepang tidak selalu sempurna. Mereka menyinggung masih ditemukannya sampah yang berserakan di sejumlah lokasi setelah acara besar berlangsung.

Perdebatan ini turut diperkuat oleh data mengenai pembagian pekerjaan domestik di Jepang.

Berdasarkan data Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), laki-laki Jepang merupakan kelompok yang menghabiskan waktu paling sedikit untuk pekerjaan perawatan dan pekerjaan rumah tangga tanpa bayaran dibandingkan negara-negara maju lainnya.

Sementara itu, survei pemerintah Jepang pada 2021 menunjukkan laki-laki hanya menghabiskan rata-rata 51 menit per hari untuk pekerjaan rumah tangga dan keluarga. Sebaliknya, perempuan menghabiskan sekitar tiga jam 24 menit setiap hari untuk tugas serupa.

Meski demikian, tidak semua pihak sepakat dengan kritik tersebut. Sebagian warganet menilai kebiasaan membersihkan stadion tetap merupakan tindakan positif yang patut diapresiasi.

Mereka berpendapat budaya menjaga kebersihan di ruang publik seharusnya didorong, bukan dijadikan sasaran kritik.
"Di mana rasa malunya?" tulis seorang pengguna.

Pengguna lain menambahkan bahwa kebiasaan tersebut jauh lebih baik dibandingkan jika masyarakat Jepang dikenal karena meninggalkan sampah saat bepergian ke luar negeri.

Terlepas dari perdebatan yang muncul, kebiasaan suporter Jepang membersihkan stadion tampaknya mulai menginspirasi penggemar sepak bola dari negara lain.

Baru-baru ini, sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan pendukung Portugal mengumpulkan sampah di tribun stadion menggunakan kantong plastik besar setelah pertandingan berakhir.

Banyak warganet menilai Jepang menjadi pelopor tren positif tersebut. Namun, diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa apresiasi terhadap budaya kebersihan di ruang publik juga memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai kesetaraan peran dan tanggung jawab di dalam rumah tangga.

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan hanya tentang memungut sampah di stadion, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial juga diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel ini sudah tayang di Wolipop



Simak Video "Kajian Ramadan Roblox bersama Wipol: Build a Pure World: membangun lingkungan bersih sebagai bagian dari gaya hidup Islami"

(ami/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork