Gelandang bertahan andalan Afrika Selatan, Sphephelo 'Yaya' Sithole, mencatatkan namanya sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah pada gelaran akbar Piala Dunia 2026.
Insiden dramatis pengusiran Yaya Sithole ini terjadi di tengah atmosfer panas laga pembuka Grup A saat Afrika Selatan menantang ketangguhan sang tuan rumah, Meksiko, di Stadion Azteca, Jumat (12/6/2026) waktu Indonesia. Pertandingan pembuka yang sarat gengsi tersebut akhirnya berujung pada kekalahan pahit Bafana Bafana dengan skor akhir 0-2.
Detik-Detik Petaka Menit ke-49 di Stadion Azteca
Memasuki paruh kedua pertandingan dengan ketertinggalan satu gol, Afrika Selatan mencoba tampil lebih menekan guna menyamakan kedudukan. Namun, petaka justru datang dari sebuah skema serangan balik cepat yang diperagakan oleh anak-anak asuh Meksiko pada menit ke-49.
Berawal dari lini tengah, gelandang Meksiko mengirimkan umpan terobosan akurat membelah pertahanan Afrika Selatan. Penyerang lincah Meksiko, Brian Gutierrez, dengan kecerdikan luar biasa berhasil lolos dari jebakan offside yang dipasang oleh barisan pertahanan lawan. Gutierrez langsung menggiring bola dengan kecepatan penuh menuju gawang Afrika Selatan yang dikawal ketat.
Sithole, yang menyadari dirinya kalah langkah, mencoba melakukan aksi defensif darurat. Ia berlari kencang dari koridor tengah lapangan menuju area kotak penalti untuk memutus momentum pergerakan Gutierrez. Tepat sekitar satu meter sebelum garis kotak terlarang, dalam situasi satu lawan satu yang krusial, Sithole melakukan kontak fisik keras dengan menabrak badan Gutierrez dari arah belakang hingga sang penyerang tersungkur di lapangan.
Wasit asal Brasil yang memimpin jalannya laga, Wilton Sampaio, berada dalam posisi pandang yang sangat ideal. Tanpa keraguan sedikit pun, Sampaio langsung meniup peluit tanda pelanggaran berat dan segera merogoh saku belakangnya untuk mengacungkan kartu merah langsung ke arah wajah Sithole pada menit ke-49. Keputusan tegas ini seketika meruntuhkan moral bertanding skuad Bafana Bafana.
Edukasi Aturan: Mengenal Istilah DOGSO dalam Regulasi IFAB
Keputusan wasit Wilton Sampaio mengeluarkan kartu merah langsung tanpa didahului kartu kuning pertama didasarkan pada aturan tegas sepak bola modern yang dirumuskan oleh International Football Association Board (IFAB), yakni Hukum 12 mengenai pengusiran akibat pelanggaran DOGSO (Denying an Obvious Goal-Scoring Opportunity).
Dalam regulasi resmi IFAB, DOGSO didefinisikan sebagai tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain bertahan terhadap pemain lawan yang sedang menguasai bola atau memiliki peluang sangat nyata untuk mencetak gol, di mana tindakan ilegal tersebut menggagalkan peluang emas tersebut secara tidak sah.
Untuk menjatuhkan hukuman DOGSO berupa kartu merah langsung, korps wasit harus mempertimbangkan empat parameter utama di lapangan:
- Jarak antara lokasi pelanggaran dengan gawang lawan.
- Arah umum permainan yang mengarah langsung ke gawang.
- Kemungkinan besar pemain penyerang untuk menguasai atau mengontrol bola.
- Posisi serta jumlah pemain bertahan lain yang berada di sekitar area kejadian.
Dalam kasus pelanggaran Sithole terhadap Gutierrez, sang gelandang Afrika Selatan dinilai sebagai orang terakhir di lini pertahanan (last man) yang menghentikan laju lawan secara ilegal dalam situasi berbahaya di luar kotak penalti. Karena pelanggaran terjadi di luar garis kotak terlarang, hukuman yang diberikan adalah kartu merah langsung disertai tendangan bebas langsung bagi pihak lawan, tanpa adanya kompromi penalti.
Simak Video "Video Grup A Piala Dunia 2026: Ceko vs Afsel Selesai dengan Skor 1-1"
(bbp/bbp)