Napak Tilas Persib Lewat Pameran Wall of Champions

Napak Tilas Persib Lewat Pameran Wall of Champions

Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 07 Jun 2026 18:30 WIB
Jersey yang dipajang di pameran bertajuk Wall of Champions.
Jersey yang dipajang di pameran bertajuk 'Wall of Champions'. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Jakarta -

Begitu memasuki ruangan di Visual Space Bandung, Jalan Asia Afrika, pengunjung seolah diajak melakukan perjalanan waktu menyusuri sejarah panjang Persib Bandung.

Di dinding-dinding ruangan itu, puluhan jersei berwarna biru dan putih tersusun rapi. Masing-masing bukan sekadar kain yang pernah dikenakan pemain, melainkan potongan kisah yang merekam perjalanan klub kebanggaan Jawa Barat dari generasi ke generasi.

Pameran bertajuk 'Wall of Champions' ini berlangsung hingga 24 Juni 2026. Di dalamnya, sekitar 100 jersei orisinal dipajang, mulai dari era 1990-an hingga musim terbaru saat Persib mencatatkan sejarah dengan meraih gelar juara beruntun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deretan jersei itu menghadirkan nuansa yang berbeda di setiap sudut ruangan. Ada jersei lawas dengan desain sederhana khas era sepak bola Indonesia tahun 1990-an.

Ada pula seragam-seragam dari berbagai era kejayaan Persib yang menjadi saksi perubahan zaman, mulai dari pergantian sponsor, perkembangan desain, hingga perjalanan klub di kompetisi nasional.

ADVERTISEMENT

Di antara koleksi yang dipamerkan, beberapa memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Salah satunya adalah jersei yang pernah dikenakan mantan bintang dunia Persib, Michael Essien.

Kehadiran jersei eks gelandang Chelsea dan Real Madrid itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat jejak salah satu nama terbesar yang pernah berseragam Maung Bandung.

Jersey yang dipajang di pameran bertajuk 'Wall of Champions'.Jersei Achmad Jufriyanto yang dipajang di pameran bertajuk 'Wall of Champions'. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)

Tak kalah istimewa, terdapat pula jersei yang dikenakan Achmad Jufriyanto saat laga final Indonesia Super League 2014 melawan Persipura Jayapura. Jersei itu menjadi saksi salah satu malam paling bersejarah dalam perjalanan Persib ketika berhasil mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Seluruh koleksi tersebut merupakan milik Fahri Abdul Rasyid, seorang Bobotoh yang selama bertahun-tahun mengumpulkan jersei Persib hingga akhirnya menjadi salah satu kolektor yang dikenal di kalangan suporter.

Menurut Fahri, pameran ini sengaja digelar untuk merayakan capaian bersejarah Persib yang berhasil meraih tiga gelar juara secara beruntun sekaligus menyambut hadirnya lima bintang di atas logo klub.

"Ini dalam rangka menyambut three-peat Persib, lima bintang juara dan tiga kali juara berturut-turut. Jadi saya bekerja sama dengan Visual Space membuat pameran di studio foto ini supaya Bobotoh bisa datang dan berfoto di sini," kata Fahri.

Jumlah jersei yang dipamerkan mencapai sekitar seratus buah. Koleksi tersebut membentang dari salah satu jersei tertua yang dimilikinya hingga seragam musim terbaru.

"Kurang lebih ada seratus jersei. Dari yang paling tua tahun 1994 saat Persib melawan AC Milan sampai yang terakhir musim juara sekarang," ujarnya.

Mengumpulkan jersei-jersei bersejarah itu bukan perkara mudah. Terlebih pada era sebelum Persib memiliki penjualan merchandise resmi seperti saat ini. Untuk mendapatkan koleksi lawas, Fahri harus menjalin hubungan dengan banyak bobotoh senior hingga mantan pemain.

"Karena dulu Persib belum ada penjualan resmi. Jadi untuk jersei sebelum tahun 2004, sebelum era Villour, saya banyak mendapatkannya dari Bobotbh senior. Ada juga dari pemain, tapi kebanyakan dari bobotoh senior," tuturnya.

Jersey yang dipajang di pameran bertajuk 'Wall of Champions'.Jersei yang dipajang di pameran bertajuk 'Wall of Champions'. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)

Menurut Fahri, proses berburu jersei sering kali terjadi secara sederhana. Percakapan santai di stadion bisa menjadi awal dari bertambahnya koleksi yang kini bernilai sejarah tersebut.

"Dulu kalau di stadion ada yang pakai baju itu, saya ngobrol. Dari situ kadang bisa dapat. Setelah ada di tangan saya, jersei-jersei itu dijaga dan disimpan dengan baik di rumah karena saya anggap sebagai arsip juga," katanya.

Menariknya, Fahri mengaku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang kolektor. Kegemarannya berawal dari kebiasaan membeli jersei Persib yang kemudian terus bertambah tanpa disadari.

"Saya awalnya tidak sengaja. Tahun 2004 beli satu, lalu ngumpul, ngumpul, ngumpul terus sampai jadi banyak. Awalnya tidak ada niatan jadi kolektor. Istilah kolektor juga saya baru tahu beberapa tahun terakhir. Ternyata yang saya lakukan ini disebut kolektor," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(bba/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads