Cesc Fabregas akhirnya buka-bukaan mengenai rahasia di balik akselerasi kariernya yang begitu cepat di dunia kepelatihan. Ternyata, situasi sulit saat pandemi COVID-19 menjadi pemicu utama sang maestro lapangan tengah ini banting setir lebih awal.
Sebagaimana diketahui, pandemi COVID-19 yang melanda sejak akhir 2019 dan baru dinyatakan berakhir oleh WHO pada pertengahan 2023 telah melumpuhkan banyak sektor. Dunia sepak bola pun tak luput dari imbasnya, di mana kompetisi global sempat terhenti total selama hampir satu tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi vakum tersebut justru mengubah garis hidup Fabregas. Alih-alih hanya berdiam diri, ia memilih untuk mengambil langkah progresif dengan mengikuti kursus kepelatihan demi mengamankan lisensi resmi.
Saat itu, Fabregas sebenarnya masih aktif merumput bersama AS Monaco di Liga Prancis. Namun, cedera panjang pada musim 2021 membuatnya lebih banyak menepi, hingga akhirnya ia memutuskan hijrah ke klub Serie B Italia, Como, pada Agustus 2022.
Perjalanan di Como menjadi babak penutup kariernya sebagai pemain. Setelah resmi pensiun pada akhir musim 2022/2023, Fabregas langsung tancap gas memulai pengabdiannya sebagai pelatih kepala untuk tim U-19 dan tim B Como.
Karier manajerialnya melesat saat ia ditunjuk sebagai pelatih sementara tim utama Como pada November 2023. Kini, statusnya telah naik menjadi pelatih kepala tetap setelah berhasil mengantongi lisensi UEFA Pro yang bergengsi.
"Jika bukan karena Covid, saya tidak akan mengambil keputusan untuk mendapatkan lisensi UEFA B dan kemudian lisensi A. Tanpa momen itu, saya rasa saya tidak akan siap secepat ini," kata Fabregas kepada Telegraph.
"Ketika saya memutuskan untuk datang ke Como, saya tahu berada di tahap akhir karier bermain. Saya tidak terlalu peduli di mana saya akan berakhir. Saya hanya ingin menyelesaikan karier bermain bukan di bangku cadangan, bukan di daftar cedera, bukan itu semua," sambungnya.
"Kemudian gairah saya beralih ke bekerja dengan Primavera (tim muda Como). Suatu hari, setelah pertandingan, saya memberi tahu istri bahwa saya bermain sangat buruk. Saya bermain sangat buruk dalam tiga pertandingan terakhir musim itu (2022/2023)," tuturnya.
"Saya berkata, 'Saya bermain sangat buruk, saya tidak menikmati latihan, apa yang saya lakukan?' Jadi saat itulah saya memutuskan untuk berhenti. Dan kemudian, ya, saya bersama tim U-19 selama tiga atau empat bulan, dan kemudian saya membuat keputusan untuk bergabung dengan tim utama," kata mantan pemain Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu.
Kini, tangan dingin Fabregas terbukti ampuh membawa Como tampil impresif di kasta tertinggi Liga Italia, Serie A. Saat ini, Como bertengger kokoh di posisi kelima dengan raihan 62 poin dan sedang berjuang keras mengamankan tiket menuju Liga Champions.
(ran/orb)
