PSIM Yogyakarta harus pulang tanpa poin usai takluk 0-1 dari Persib Bandung dalam laga pekan ke-31 Super League 2025/26 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Senin (4/5/2026).
Pelatih PSIM Jean Paul van Gastel menilai kekalahan timnya berawal dari start buruk yang langsung dimanfaatkan Persib sejak awal pertandingan. Di laga ini, Persib mencetak gol cepat di menit 2 melalui sundulan Patricio Matricardi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memulai pertandingan dengan sangat buruk, karena dalam satu menit kami sudah kebobolan dari situasi bola mati. Itu menjadi awal yang sulit bagi kami, dan sekaligus memberi keuntungan bagi Persib, karena mereka bisa bermain lebih bertahan dan menunggu kesalahan yang kami buat," ujar Van Gastel.
Meski kalah, ia tetap memberikan apresiasi terhadap keberanian para pemainnya yang mencoba tampil menyerang dan mengembangkan permainan.
"Saya tetap mengapresiasi tim saya karena mereka berani bermain, ingin bermain, dan sebenarnya bisa bermain cukup baik. Satu hal yang tidak saya puas dari babak pertama adalah kami memilih solusi yang sulit," katanya.
Menurutnya, PSIM seharusnya bermain lebih sederhana agar bisa lebih efektif dalam membongkar pertahanan Persib. "Kami seharusnya menjaga permainan tetap sederhana, karena dengan begitu kami bisa lebih efektif dibandingkan di babak pertama," ujarnya.
Di babak kedua, PSIM mencoba tampil lebih agresif demi mengejar ketertinggalan. Namun, strategi tersebut juga membuka ruang bagi tuan rumah untuk melakukan serangan balik.
"Di babak kedua kami mencoba menyamakan kedudukan, tetapi tentu saja ketika Anda mengambil lebih banyak risiko, Anda juga memberi peluang kepada lawan. Persib tidak mencetak gol kedua, sehingga mereka membuat kami tetap sedikit punya harapan hingga akhir pertandingan," jelasnya.
Van Gastel juga menanggapi pertandingan yang sempat terhenti akibat ulah penonton yang menyalakan petasan. Ia menilai insiden tersebut tidak terlalu memengaruhi performa timnya, namun justru berpotensi membahayakan keselamatan.
"Hal itu tidak terlalu memengaruhi permainan kami. Saya rasa justru lebih berdampak pada keselamatan orang-orang yang berada di area tempat kembang api itu dilempar," ungkapnya.
"Jadi menurut saya, situasi itu lebih berbahaya bagi mereka dibandingkan bagi para pemain saya. Sementara para pemain saya hanya menunggu pertandingan dilanjutkan kembali," pungkasnya.
(sud/sud)
