Menyusuri Masa Lalu Persib Lewat Bobotoh Story Walk

Menyusuri Masa Lalu Persib Lewat Bobotoh Story Walk

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Sabtu, 18 Apr 2026 19:30 WIB
Kegiatan Bobotoh Walking Tour bersama Eko Maung.
Kegiatan Bobotoh Walking Tour bersama Eko Maung. (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar)
Bandung -

Sabtu (18/4/2026) pagi, udara Kota Bandung terasa bersahabat. Di antara deru kendaraan dan aktivitas warga, sekelompok orang tampak berkumpul dengan antusiasme yang berbeda.

Mereka bukan sedang melakukan aksi demonstrasi, melainkan sedang bersiap untuk sebuah perjalanan melintasi waktu bertajuk 'Bobotoh Story Walk'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dipandu pengamat hukum olahraga sekaligus pendukung setia Persib, Eko Noer Kristiyanto atau yang akrab disapa Eko Maung, kegiatan ini mengajak para peserta berdialog dengan masa lalu. Ini adalah sebuah inisiatif walking tour yang unik, dimana Bobotoh lintas generasi berkumpul untuk menyusuri jejak-jejak sejarah yang mungkin selama ini hanya menjadi mitos di pinggiran lapangan.

Berbeda dengan tur wisata pada umumnya, Bobotoh Story Walk menawarkan pengalaman yang organik dan membumi. Para peserta diajak menikmati estetika Kota Bandung dengan berjalan kaki dan menaiki angkutan kota.

ADVERTISEMENT

Konsep ini sengaja dipilih untuk memberikan kesan mendalam. Berjalan kaki di atas trotoar yang pernah menjadi saksi bisu euforia kemenangan maupun kepahitan kekalahan Persib memberikan perspektif baru bagi para pendukung muda.

"Intinya kita senang-senang saja, sambil napak tilas mengunjungi titik-titik yang mungkin bobotoh muda sekarang enggak sempat mengalami masanya," ujar Eko.

Perjalanan dimulai dari kawasan Stadion Siliwangi, sebuah tempat yang bagi banyak Bobotoh dianggap sebagai 'Kuil Persib' sebelum era Stadion GBLA atau Si Jalak Harupat. Di sini, Eko membuka tabir tentang sisi kelam dan liar sepak bola Bandung.

Ia menunjukkan titik-titik di mana gaya pendukung casual pertama kali menampakkan diri di tribun Siliwangi, sebuah pergeseran budaya berpakaian dan cara mendukung yang kini menjamur.

Namun, sejarah tak selalu indah. Eko menceritakan kembali memori tentang bentrokan antarsuporter yang pernah pecah di sana. Salah satu momen paling ikonik sekaligus brutal yang dikenang adalah pembakaran mobil OB Van saat kompetisi Liga Bank Mandiri, sebuah simbol kemarahan massa yang tak terbendung saat itu.

Tak jauh dari situ, ia juga menunjuk lokasi di mana ribuan Bobotoh pernah mengepung stadion dalam demo besar-besaran untuk menuntut pelatih Risnandar Soendoro mundur dari jabatannya.

Kegiatan Bobotoh Walking Tour bersama Eko Maung.Kegiatan Bobotoh Walking Tour bersama Eko Maung. (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar)

Tribute untuk Bobotoh "Toxic" Oldskul

Bergerak ke arah Jalan Asia Afrika, Eko membawa narasi yang cukup provokatif: Tribute to Bobotoh Toxic Oldskul. Di sepanjang jalan ikonik ini, ia mengenang kembali perilaku pendahulu yang sering berbuat rusuh, bahkan hobi menggulingkan pot kembang sebagai bentuk peluapan emosi setelah pertandingan.

"Ini edukasi buat yang muda biar tahu kenyataan sejarahnya dan buat yang senior ya untuk bernostalgia," tambahnya.

Dari Lapangan Legendaris ke Apartemen Mewah

Salah satu sorotan utama adalah saat rombongan melintasi sebuah bangunan apartemen modern. Siapa sangka, lahan tersebut dulunya adalah Lapangan UNI, markas klub internal Persib yang sangat legendaris dan telah melahirkan banyak bintang.

"Mereka mungkin sering nginep di apartemen itu tanpa tahu kalau itu dulunya lapangan legendaris, Lapangan UNI," ungkap Eko.

Meskipun kini telah berubah fungsi, citra positif lapangan tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif Bobotoh lama.

Memasuki area Jalan Gurame, suasana berubah lebih melankolis namun edukatif. Eko mengajak peserta melihat secara langsung kantor tempat para legenda Persib mengadu nasib di masa lalu.

"Mereka mungkin tahunya kantor Persib itu di Sulanjana, padahal sejarah besarnya ada di sini," kata Eko.

Kegiatan ini pun akhirnya ditutup dengan diskusi hangat. Eko menegaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk meneruskan cerita kepada generasi yang lebih muda agar mereka tidak kehilangan akar sejarahnya.

"Ini baru pilot project pertama, karena pesertanya membludak dan banyak yang tidak kebagian. Kami menjanjikan akan ada gelombang berikutnya," pungkas Eko.

Dengan cara yang sederhana, berjalan kaki dan naik angkot, sejarah Persib kini bukan lagi sekadar teks di buku, melainkan pengalaman yang hidup di trotoar Kota Bandung.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads