Soccer Update

Langkah Ekstrem Edu untuk Benahi Bobrok Arsenal

Tim detikSport - detikJabar
Rabu, 27 Jul 2022 03:00 WIB
ORLANDO, FLORIDA - JULY 23: Gabriel Jesus, Thomas Partey, Granit Xhaka and Oleksandr Zinchenko celebrate the 2nd Arsenal goal during the Florida Cup match between Chelsea and Arsenal at Camping World Stadium on July 23, 2022 in Orlando, Florida. (Photo by David Price/Arsenal FC via Getty Images)
Skuad anyar Arsenal. (Foto: Arsenal FC via Getty Images/David Price)
Jakarta -

Arsenal terseok-seok di Premier League sejak beberapa musim terakhir, termasuk musim lalu. Direktur Teknik Arsenal, Edu, mengungkap pemicu bobroknya performa The Gunners.

Meriam London sendiri sudah kesulitan bersaing di papan atas Premier League sejak musim 2016/2017. Bahkan pada musim 2019/2022, Arsenal finis di posisi delapan. Ini jadi catatan terburuk Arsenal sejak 1994/1995!

Namun Arsenal mulai membangun ulang tim dengan menunjuk Edu sebagai Direktur Teknik Arsenal sejak 2019. Sejak kedatangannya, pria Brasil itu bahkan mengambil langkah berani dengan melepas pemain-pemain top di Arsenal.


Gelandang kelas dunia seperti Mesut Oezil ditendang. Yang masih membekas adalah Pierre-Emerick Aubameyang dilepas dan akhirnya gabung Barcelona, tapi justru moncer di sana.

Skhodran Mustafi jadi nama berikutnya korban Edu. Ada juga Sead Kolasinac dan Sokratis Papastathopoulos. Bukannya untung melepas mereka, Arsenal justru memberi kompensasi agar mereka pergi.

Dilansir dari detikSport, langkah ini Edu penting dilakukan Ed. Sebab pemain-pemain top ini bergaji besar, tapi minim kontribusi buat tim. Daripada menjadi benalu karena sulit dijual, ia memilih mengeluarkan modal untuk mendepak mereka dan membuka jalan bagi pemain lain.

"Ketika seorang pemain berusia 26 tahun atau lebih tua, punya gaji besar, dan tak menunjukkan permainan terbaiknya, dia membunuh Anda. Dulu, 80% skuad ini punya karakteristik itu dan tidak mungkin ada yang membeli mereka," ujarnya kepada The Sun dilansir Metro.

Bagi Edu, membayar kompensasi agar mereka pergi bukan sebuah kerugian. Sebaliknya, ia menganggap langkah itu sebagai investasi.

"Mereka tak punya nilai transfer dan nyaman dengan kontrak panjang, tinggal di London. Jadi kami perlu membersihkan skuad dan kalau kami harus membayar beberapa agar mereka pergi, saya menganggapnya sebagai investasi," katanya.

"Itu lebih baik daripada membiarkan mereka menutup jalan pemain lain. Enggak masalah kalau seorang pemain punya gaji besar dan tampil bagus. Saya tahu memang aneh untuk mendatangi direksi dan memberi tahu, terkadang lebih baik untuk membayar pemain agar pergi ketimbang mempertahankannya," tandas Edu.

(ors/ors)