Infografis: Cuanki Itu Bukan Cari Uang Jalan Kaki!

Infografis: Cuanki Itu Bukan Cari Uang Jalan Kaki!

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 30 Okt 2026 15:21 WIB
Infografis asal-usul cuanki.
(Foto: Olah visual menggunakan ChatGPT)
Tasikmalaya -

Semangkuk cuanki sudah menjadi bagian dari kuliner khas Bandung yang mudah ditemui di berbagai sudut kota. Namun, di balik kuah gurih dan isian bakso, siomay, serta tahu, tersimpan cerita menarik tentang asal-usul namanya.

Selama ini cuanki kerap disebut sebagai kependekan dari 'Cari Uang Jalan Kaki'. Padahal, penelusuran sejarah menunjukkan nama tersebut tidak berasal dari singkatan bahasa Indonesia.

Lantas seperti apa kisahnya? Bagaimana asal-usul nama cuankie yang sebenarnya? Simak ulasannya berikut ini:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berawal dari Choan Kie

Dalam Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis Volume 4 Nomor 2 Mei 2025 berjudul 'Strategi dan Analisis Pemasaran Usaha Home Industry Cuanki Asep Pride Sebagai Upaya Meningkatkan Volume Penjualan', disebutkan bahwa cuanki berasal dari produk Bakso Tahu Kuah Choan Kie.

Choan Kie merupakan istilah dalam bahasa Hokkien yang berarti rezeki atau keberuntungan. Makanan tersebut awalnya diproduksi oleh pabrik Tim Sam atau dimsum di kawasan Bandung-Cimahi dan menyasar konsumen warga Tionghoa.

ADVERTISEMENT

Pada awalnya, cuanki berupa siomay atau bakso tahu kering yang disiram kuah kaldu gurih. Seiring waktu, makanan ini berkembang menjadi jajanan khas Bandung dengan bahan seperti ikan, daging sapi, tepung tapioka, serta bumbu penyedap.

Dalam satu porsi cuanki biasanya terdapat bakso, siomay kukus, siomay goreng, tahu goreng, dan tahu rebus, lengkap dengan taburan bawang goreng serta daun seledri.

Resep Diubah agar Makin Merakyat

Memasuki dekade 1980-an, sejumlah mantan pegawai pabrik Choan Kie mulai membuat dan menjual cuanki secara mandiri. Mereka berasal dari sejumlah daerah, seperti Bandung, Garut, dan Ciamis.

Resep awal yang menggunakan minyak dan daging babi kemudian dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan selera masyarakat yang lebih luas. Bahan tersebut diganti dengan ikan, terutama ikan tenggiri.

Perubahan itu membuat cuanki dapat dinikmati masyarakat non-Tionghoa. Respons pasar pun positif hingga cuanki berkembang sebagai jajanan rakyat yang bersaing dengan bakso dan mi ayam.

Dari Pedagang Keliling Muncul 'Cari Uang Jalan Kaki'

Ada alasan mengapa istilah "Cari Uang Jalan Kaki" kemudian begitu lekat dengan cuanki. Para penjualnya dahulu banyak berkeliling sambil memikul dagangan dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam kajian 'Tinjauan Pustaka Rupa Huruf Vernakular dan Teori' karya Hafidz Maulana dari UNIKOM, perdagangan dengan cara dipanggul atau digendong merupakan salah satu bentuk aktivitas pedagang kaki lima. Pola serupa juga ditemukan pada penjual bakso tahu, tahu gejrot, dan mi bakso.

Dari kebiasaan berjualan secara berkeliling itulah muncul istilah populer 'Cari Uang Jalan Kaki'. Sebagian masyarakat kemudian menganggapnya sebagai kepanjangan dari kata cuanki. Namun, bagi pelaku usaha cuanki, anggapan tersebut hanyalah sebuah guyonan.

'Cuanki Itu Siomay Kering'

Mengutip arsip detikJabar dalam artikel "Benarkah Bakso Cuanki Kependekan dari Cari Uang Jalan Kaki?", Itang, penjual sekaligus pengusaha cuanki asal Garut di Pangandaran, menjelaskan bahwa cuanki memang berasal dari Bandung.

"Cuanki itu asalnya dari Bandung. Resep aslinya milik orang Tionghoa. Almarhum bapak saya adalah pegawainya. Pabriknya di Cimahi," kata Itang.

Menurutnya, cuanki merujuk pada jenis siomay kering, bukan sebuah singkatan. Resep awalnya menggunakan daging babi karena konsumennya merupakan warga Tionghoa, sebelum kemudian dimodifikasi dengan mengganti minyak dan daging babi menggunakan ikan tenggiri.

"Lah (sebutan cari uang jalan kaki) itu mah bercanda, Cuanki itu siomay kering," ujarnya.

Bagi Itang, cuanki juga bukan sekadar makanan yang dijual untuk mencari penghasilan. Kuliner tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya karena banyak anggota keluarga dan kerabatnya menggantungkan hidup dari berjualan cuanki di berbagai daerah.

Itang menyebut Pak Soleh, ayahnya, sebagai salah satu bagian dari sejarah tersebut. Ia juga mengenang Mang Yaya dari Bayongbong, Garut, yang disebutnya sebagai bos cuanki pertama asal Garut yang paling kesohor, serta Mang Toni dari Pameungpeuk, Garut, yang merupakan anak buah Mang Yaya.

"Almarhum bapak saya namanya Pak Soleh. Kemudian yang lebih terkenal, ada yang namanya Mang Yaya dari Bayongbong Garut. Beliau bos Cuanki pertama asal Garut yang paling kesohor. Generasi selanjutnya ada Mang Toni asal Pameungpeuk Garut. Mang Toni ini asalnya anak buah Mang Yaya," kata Itang.

Jadi, 'Cari Uang Jalan Kaki' lebih tepat disebut sebagai ungkapan populer yang muncul dari kebiasaan pedagang cuanki berjualan secara berkeliling. Sementara akar nama cuanki sendiri berkaitan dengan Choan Kie, makanan Tionghoa yang kemudian bertransformasi menjadi kuliner khas Bandung dan begitu dekat dengan masyarakat.

Sudah tahu kan detikers bagaiman sejarah cuanki dan asal-usulnya?

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads