Pernahkah Anda rindu masakan nenek saat kepala sedang penat-penatnya? Di tengah riuhnya rutinitas Kota Bandung, tepatnya di kawasan Ciumbuleuit yang rimbun, ada satu tempat pelarian yang bisa mengobati rindu itu.
Bersembunyi tak jauh dari hiruk-pikuk aktivitas kampus Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sebuah bangunan bergaya kolonial menyambut siapa saja yang butuh sejenak menepi. Di sini, tamu tidak sekadar disodori buku menu, tapi disambut oleh senyum hangat para pramusaji lanjut usia yang sigap melayani layaknya menyambut cucu sendiri yang baru pulang ke rumah.
Suasana bak pulang kampung itu terasa amat kental di Kedai Panjang Umur. Baru resmi beroperasi pada 28 Agustus 2026 lalu di Jalan Rancabentang I No. 3A, kedai ini tak butuh waktu lama untuk mencuri hati banyak orang. Daya tariknya bukan cuma pada deretan piring berisi comfort food yang nikmat, melainkan keberanian mereka mendobrak kebiasaan: mempekerjakan ibu-ibu lanjut usia (lansia) produktif untuk menjadi wajah di garis depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyusuri Lorong Kenangan Lewat Rasa
Aroma wangi rempah langsung tercium saat kaki melangkah masuk. Interiornya ditata apik dengan perabotan kayu antik, menciptakan nuansa teduh khas rumah lawas di daerah atas Bandung. Para pengunjung, yang mayoritas diisi kelompok anak muda dan mahasiswa, tampak betah duduk berlama-lama meresapi suasana.
Untuk urusan perut, kedai ini seolah mengajak indera pengecap melintasi waktu. Bayangkan saja seporsi Ayam Goreng Lengkuas rumahan yang bertabur serundeng melimpah dan daun kari renyah. Ada juga Nasi Panjang Umur dan Mie Lendir Melayu sajian mi berkuah kental kaya rempah yang mengingatkan kita pada gurihnya Laksa Johor.
Kalau sekadar ingin ngemil manis, sepotong Es Gabus siap menemani. Jajanan SD legendaris itu kini disulap dengan varian rasa kekinian seperti matcha dan ube. Bersanding dengan Pisang Goreng Wijen yang disajikan hangat, rasanya amat pas untuk menutup hari. Menariknya, harga menu di sini tidak akan bikin dompet meringis. Aneka camilan dan menu pendamping dibanderol mulai dari Rp6.000 hingga Rp18.000, sedangkan untuk kenyang menikmati makanan berat, cukup siapkan dana sekitar Rp25.000 sampai Rp50.000 saja per orang.
Kedai Panjang Umur di Jalan Rancabentang I No. 3A Foto: Nedzar Rabbany El Haq |
Ruang Berkarya Tanpa Batasan Angka
Kehadiran ibu-ibu lansia berseragam rapi di kedai ini rupanya lahir dari obrolan panjang pengelola sejak tahun 2025. Sukma, Operasional Manajer Kedai Panjang Umur, bercerita bahwa tempat ini sengaja dibangun dengan membawa misi sosial. Mereka melihat realitas bahwa banyak lansia yang terpaksa tersingkir dari dunia kerja akibat batasan usia, padahal semangat dan tenaga mereka masih menyala.
"Sebenarnya mereka itu bisa saja kalau mau produktif mah. Makanya kita coba buka lowongan kerja untuk para ibu-ibu ini, yang bisa dibilang pengin kerja lagi. Enggak cuma pengin di rumah doang," ujar Sukma.
Begitu lowongan dibuka, antusiasme pencari kerja di usia senja ternyata luar biasa. Dari puluhan pelamar yang mendaftar, kedai ini akhirnya mempekerjakan tiga ibu tangguh yang kini aktif melayani para tamu, di antaranya Bu Rini, Bu Een, dan Bu Fiska.
Senyum Mengembang di Garis Depan
Bertemu Fiska (56) di sela-sela jam operasional kedai rasanya seperti mengobrol dengan kerabat dekat. Sebagai seorang ibu tunggal, bekerja menemaninya menjalani hari-hari dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar urusan mencari nafkah agar dapur tetap mengebul, melainkan ruang pembuktian bahwa dirinya masih berharga.
"Saya merasa dihargai. Umur yang sudah 56 ini, ternyata masih bisa berkarya, masih bisa mencari nafkah," tutur Fiska dengan mata berbinar bangga.
Menghadapi ragam pengunjung setiap hari rupanya jadi hiburan tersendiri buatnya. Mengusung konsep 'kafe oma-oma', tak jarang ia mendadak jadi sasaran ajakan berfoto.
"Selalu ada beberapa rombongan ibu-ibu minta foto sama saya. Serasa saya artis, ya," ucap Fiska seraya tertawa lepas.
Momen-momen manis penuh kehangatan kerap tercipta di antara meja-meja kayu kedai tersebut. Fiska mengenang suatu waktu ada pengunjung seumurannya yang merayakan ulang tahun dan menyatukan meja untuk berbagi kebahagiaan. "Dia juga merasa bahagia lah di sini," katanya mengingat suasana akrab hari itu.
Kedai Panjang Umur di Jalan Rancabentang I No. 3A Foto: Nedzar Rabbany El Haq |
Meretas Stigma Industri Kuliner
Di balik riuhnya pesanan yang keluar masuk dapur, Sukma sebenarnya sedang menitipkan sebuah pesan penting untuk para pelaku industri makanan dan minuman (F&B) di luar sana.
"Sebenarnya banyak lho lansia yang masih produktif. Makanya dimulai dari Kedai Panjang Umur ini, mungkin bisa jadi ada pencerahan juga ke depannya untuk resto-resto lain," kata Sukma.
Lebih jauh, ia menilai perekrutan lansia bisa menjadi jurus ampuh mengatasi tingginya angka keluar-masuk (turnover) karyawan yang lazim terjadi di dunia kuliner. "Karena mereka selain masih produktif, mereka itu ada pemikiran dewasanya lah. Jadi kayak lebih loyal," ujarnya meyakinkan.
Senja di Ciumbuleuit mungkin mengalirkan udara dingin, tetapi ruang di dalam Kedai Panjang Umur membuktikan sebaliknya. Kehangatan, produktivitas, dan ketulusan nyatanya tak pernah mengenal batas kedaluwarsa.
"Harapan saya, semakin banyak lowongan kerja untuk seumuran saya ataupun di atasnya," tutur Fiska sebelum obrolan kami berakhir.
Harapan yang tulus itu pun mengalir tenang, mengudara bersama semerbak wangi daun kari dari dapur, seolah menuntun setiap tamu yang datang untuk merebahkan penat dan merasakan kembali tenangnya pulang ke pelukan rumah nenek.
(yum/yum)


