Kisah Alvin Rela Tinggalkan Gaji Rp 174 Juta/Bulan demi Jualan Mie

Kisah Alvin Rela Tinggalkan Gaji Rp 174 Juta/Bulan demi Jualan Mie

Diah Afrilian - detikJabar
Minggu, 16 Agu 2026 13:30 WIB
Demi Jualan Mie, Mantan Software Engineer Ini Tinggalkan Gaji Rp174 Juta
Mantan software engineer jualan Hokkien Mee (Foto: YouTube/CNA Insider)
Bandung -

Mantan software engineer tinggalkan gaji Rp 174 juta per bulan demi jualan Hokkien Mee. Meski penghasilan turun dan jam kerja bertambah, ia mengaku lebih bahagia.

Pilihan karier seseorang tak selalu berakhir pada pekerjaan dengan gaji besar. Terkadang, kepuasan justru datang dari sesuatu yang dibangun dengan tangan sendiri.

Keputusan mengubah jalan hidup juga membutuhkan keberanian. Apalagi jika pilihan tersebut berarti meninggalkan kenyamanan demi menghadapi risiko dan tantangan baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Says, (7/8/2026), Alvin Tan merupakan warga Singapura yang sebelumnya bekerja sebagai software engineer. Ia memiliki penghasilan mencapai 40.000 Ringgit atau setara Rp174 juta.

Namun, Tan memilih meninggalkan pekerjaan tersebut dan membuka kedai Hokkien Mee. Penghasilannya kini jauh lebih kecil dibandingkan saat bekerja di perusahaan teknologi.

ADVERTISEMENT

Keputusan itu juga dipengaruhi oleh kondisi perusahaan tempatnya bekerja. Tan melihat sekitar 10% karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja.

Tan kemudian membuka kedai Hokkien Mee bernama Umami. Kini, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp41 juta-Rp55 juta per bulan.

Tan tidak langsung menyewa tempat dan menghabiskan banyak modal untuk membuka kedai. Ia terlebih dahulu membuat Hokkien Mee di rumah untuk menguji resepnya.

Makanan itu kemudian dibagikan secara gratis kepada orang-orang untuk mendapatkan masukan. Setelah yakin, ia mulai menjualnya di sejumlah acara kuliner.

"Mulailah dari kecil dan perlahan kembangkan menjadi produk yang tepat," ujar Tan menceritakan jerih payahnya mencari pasar dan bersaing dengan penjual makanan lainnya.

Ia kemudian menyadari bahwa rasa enak saja tidak cukup untuk membuat bisnis bertahan. Harga jual juga harus sesuai dengan biaya dan kemampuan pelanggan.

Beruntung, usahanya membuahkan hasil. Kedai milik Tan kini berhasil meraup omzet hampir Rp265 juta per bulan.

"Saya juga pernah membuang banyak bahan makanan, dan rasanya sangat menyedihkan," ungkapnya.

Sayangnya, kini kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Harga udang dan gas untuk memasak yang meningkat membuat penghasilan Tan ikut tertekan.

Tetapi Tan tak menyerah. Ia terus memutar otak untuk mempertahankan bisnisnya. Salah satu alasannya bertahan ialah karena pengalaman menjadi penjual makanan jauh lebih membuatnya bahagia daripada menjadi pekerja kantoran.

Artikel ini telah tayang di detikFood

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads