Mengenal Kopi Anjing, Buah Langka Warisan Belanda di Majalengka

Mengenal Kopi Anjing, Buah Langka Warisan Belanda di Majalengka

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Selasa, 11 Agu 2026 13:03 WIB
Buah kopi anjing.
Foto: Erick Disy Darmawan
Majalengka -

Ada buah unik yang tumbuh di Desa Cieurih, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka. Buah tersebut dikenal warga dengan nama kopi anjing atau dengan nama ilmiah Cynometra cauliflora.

Buah kopi anjing memiliki bentuk yang cukup unik. Buahnya sekilas berbentuk seperti kentang. Saat masih mentah, kulitnya cenderung berwarna kecokelatan atau kuning kusam. Ketika matang, warnanya berubah menjadi kuning lebih jelas.

Di balik kulitnya terdapat daging buah berwarna putih kekuningan. Dagingnya cukup tebal dengan tekstur yang mirip jambu kristal. Di bagian tengah terdapat satu biji berukuran cukup besar berwarna cokelat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buah ini bisa langsung disantap setelah dicuci. Rasanya segar dengan perpaduan asam dan manis, meski rasa asam lebih dominan.

Buah kopi anjing.Buah kopi anjing. Foto: Erick Disy Darmawan

Kepala Desa Cieurih Acep Beny Bunyanudin mengatakan, keberadaan pohon kopi anjing di desanya sudah ada sejak dirinya masih kecil. Menurut cerita yang berkembang dari orang-orang tua terdahulu, tanaman tersebut merupakan warisan dari zaman Belanda.

ADVERTISEMENT

"Kalau kopi anjing itu sebetulnya saya juga tidak terlalu paham. Cuma dari zaman saya masih kecil, buah tersebut sudah ada," kata Acep saat diwawancarai detikJabar belum lama ini.

"Menurut orang-orang tua terdahulu, katanya itu warisan dari zaman Belanda, zaman perang dahulu. Ada kopi namanya kopi anjing," sambungnya.

Nama kopi anjing sendiri, kata Acep, bukan karena bentuk buahnya menyerupai biji kopi. Sebutan itu justru dikaitkan dengan bentuk bijinya.

"Kenapa disebut kopi anjing? Katanya karena bentuknya itu seperti kotoran anjing," ujarnya.

Keberadaan kopi anjing dulunya cukup mudah ditemukan di Desa Cieurih. Acep menyebut, pohon tersebut bahkan banyak tumbuh di pekarangan rumah warga.

Namun, seiring waktu, jumlahnya semakin berkurang. Warga mulai menebang pohon kopi anjing karena belum mengetahui manfaat maupun nilai ekonomi dari tanaman tersebut.

"Kalau dulu ada. Hampir di setiap rumah, di setiap pekarangan, di belakang rumah itu ada pohon tersebut," kata Acep.

"Cuma karena belum tahu manfaatnya apa, jadi banyak yang ditebang. Sekarang hanya ada beberapa rumah yang masih ada kopi itu," sambungnya.

Padahal, bagi warga yang masih mengenalnya, buah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai camilan. Buah kopi anjing biasanya disantap langsung dan tidak banyak diolah.

"Kalau untuk rasa asam-asam manis. Biasanya hanya untuk cemilan saja," katanya.

Buah kopi anjingPohon buah kopi anjing.Buah kopi anjingPohon buah kopi anjing. Foto: Erick Disy Darmawan

Acep menyebut, kopi anjing kini tergolong tanaman yang mulai langka di wilayahnya. Pemerintah Desa Cieurih pun membuka peluang untuk mengembangkan dan membudidayakan tanaman tersebut.

Namun, menurutnya, upaya pelestarian membutuhkan dukungan, terutama untuk mengetahui lebih jauh manfaat dan potensi ekonomi dari buah tersebut.

"Kalau budidaya, sebetulnya memang ini tanaman langka. Tapi pertama saya juga butuh dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah tentang pengembangan ini, terus tentang manfaatnya apa," ujarnya.

Menurut Acep, masyarakat saat ini juga mempertimbangkan nilai ekonomi sebelum mempertahankan suatu tanaman.

"Harus ada nilai ekonomisnya. Ketika dijual, ada nilai ekonomisnya atau tidak," katanya.

Karena itu, ia berharap ada pihak yang melakukan penelitian terhadap kopi anjing. Pemerintah Desa Cieurih, kata dia, terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi maupun lembaga pemerintah.

"Kalau kita dari pemerintah desa untuk saat ini terbuka. Misalkan dari universitas ataupun dari lembaga pemerintahan untuk bekerja sama, ayo siap. Kami pemerintah desa siap," pungkasnya.



(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads