Menyesap 24 Cangkir Kopi dalam 8 Menit di QCTC 2026 Bandung

Menyesap 24 Cangkir Kopi dalam 8 Menit di QCTC 2026 Bandung

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 07 Jul 2026 10:31 WIB
Qaca Cup Taster Competition 2026
Foto: Nur Khansa Ranawati
Bandung -

Dalam satu ruangan tertutup yang dipenuhi aroma kopi, empat orang berdiri di sebuah meja besar dengan marka garis berwarna kuning. Di hadapan masing-masing, terdapat 24 cangkir kopi yang harus mereka cicipi dalam waktu delapan menit.

Tugasnya terihat sederhana, namun butuh kepekaan lidah di atas rata-rata. Pasalnya, mereka harus menemukan 8 cangkir kopi yang memiliki cita rasa berbeda yang tersembunyi di antara ke-24 cangkir tersebut.

Kompetisi bertitel Qaca Cup Taster Competition 2026 ini berlangsung di Qaca Coffee, Jalan Malabar, Kota Bandung, Senin (6/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 60 peserta yang terdiri dari profesional di bidang kopi maupun masyarakat umum saling beradu kepekaan palet lidah terhadap citarasa kopi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kompetisi yang memasuki penyelenggaraan tahun kedua ini menggaet peserta yang datang dari dalam maupun luar Kota Bandung. Bahkan, peserta terjauh datang dari Malang untuk menguji kemampuan sensorinya.

Head Coffee Department Qaca Coffee sekaligus Ketua Pelaksana QCTC 2026, Edward Christian, mengatakan kompetisi ini menggunakan sistem triangulasi. Dalam setiap set terdapat tiga cangkir kopi.

ADVERTISEMENT

Dua di antaranya memiliki karakter rasa yang sama, sedangkan satu lainnya berbeda. Tugas peserta adalah menemukan cangkir yang berbeda dalam waktu sesingkat mungkin.

"Dari tiga gelas yang ada, peserta harus mencari satu kopi yang berbeda. Total ada delapan set atau 24 cangkir dan harus diselesaikan dalam waktu delapan menit. Pemenangnya yang jawabannya paling banyak benar dan paling cepat," kata Edward.

Ia menjelaskan, konsep kompetisi dibuat sederhana agar tetap menyenangkan, tetapi tetap menuntut kemampuan sensori yang tinggi. Menurutnya, banyak orang mengira kompetisi seperti ini hanya bisa diikuti oleh barista atau orang yang bekerja di industri kopi.

"Orang awam juga bisa ikut kalau sensorinya memang peka. Jadi kompetisi ini terbuka untuk siapa saja, bukan cuma orang yang bekerja di dunia kopi," ujarnya.

Ia menilai cabang cup taster menjadi salah satu kompetisi kopi yang relatif lebih ramah bagi masyarakat umum dibandingkan nomor lain seperti latte art atau manual brew yang membutuhkan teknik khusus. Pada cup taster, faktor terpenting justru terletak pada kemampuan membedakan karakter rasa.

"Kalau orang punya sensori yang bagus, dia bisa saja menang walaupun bukan barista. Yang dicari memang kepekaan lidahnya, bukan kemampuan menyeduh kopi," ucapnya.

Menurut Edward, kemampuan sensori memiliki peran penting dalam industri kopi. Kepekaan lidah dibutuhkan untuk mengetahui perubahan rasa sekecil apa pun sehingga dapat membantu proses pengendalian kualitas atau quality control terhadap kopi yang disajikan.

"Misalnya tingkat manisnya berubah sedikit, orang yang sensorinya bagus akan langsung tahu. Tapi memang kemampuan ini harus dijaga. Kondisi fisik, makanan yang dikonsumsi sampai kondisi lidah juga berpengaruh," ujarnya.

Karena itu, peserta biasanya memiliki cara masing-masing untuk menjaga kepekaan indera pengecap sebelum bertanding. Ia menyarankan peserta untuk menghindari makanan yang terlalu pedas, terlalu berminyak, terlalu panas maupun terlalu dingin agar sensitivitas lidah tetap terjaga.

"Kalau lagi flu juga sebaiknya jangan ikut karena pasti berpengaruh. Intinya kondisi badan harus fit dan lidah dijaga supaya tetap peka," katanya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, mayoritas peserta berasal dari kalangan pekerja industri kopi, mulai dari barista hingga pemilik kedai kopi. Namun, ada pula peserta yang hanya berstatus sebagai penikmat kopi dan ingin menguji kemampuan sensorinya.

Edward menambahkan, pada hari kedua penyelenggaraan akan digelar babak 16 besar, semifinal hingga final. Setelah itu, panitia juga membuka tantangan khusus bagi pengunjung umum yang ingin mencoba sensasi menjadi cup taster dengan format yang lebih sederhana.

"Untuk orang awam nanti kami buka challenge. Mereka cukup mencoba 12 cangkir saja supaya bisa merasakan sendiri ternyata gampang atau susah membedakan rasa kopi," ujarnya.

Salah seorang peserta, Dendi Saepuloh (25), mengaku kembali mengikuti kompetisi tersebut karena tingkat kesulitannya cukup tinggi dibandingkan kompetisi serupa yang pernah diikutinya. Barista Bean and Butter Bandung itu mengatakan setiap set soal sering kali dirancang untuk mengecoh peserta.

"Di sini memang susah-susah. Sistemnya triangulasi, ada tiga cup, dua cangkir rasanya sama dan satu berbeda. Banyak soal yang menggocek," kata Dendi.

Menurut Dendi, perbedaan rasa yang harus dicari sering kali sangat tipis. Karakter yang berubah bisa berasal dari tingkat keasaman, tingkat kemanisan, atau nuansa rasa lainnya sehingga peserta dituntut benar-benar fokus saat mencicipi.

"Kadang yang beda cuma acidity-nya atau manisnya. Misalnya dua cup enggak terlalu manis, satu lebih manis. Itu harus benar-benar bisa dibedakan. Tipis banget bedanya," ujarnya.

Pria yang telah berkecimpung di dunia perkopian sejak 2018 itu mengatakan latihan sensori menjadi modal utama untuk mengikuti kompetisi cup taster. Semakin sering lidah mengenali berbagai karakter kopi, semakin mudah pula membedakan perubahan rasa yang sangat kecil.

"Intinya harus suka banget ngopi karena indra pengecap harus terus terlatih. Skill sensori ini juga membantu pekerjaan barista karena saat menyeduh kopi kan banyak variabel yang harus dicoba," katanya.

Meski demikian, Dendi mengungkapkan setiap peserta memiliki cara berbeda dalam mempersiapkan diri. Ada yang rutin berlatih setiap hari, ada pula yang memilih menjaga pola makan, mengurangi rokok, bahkan berpuasa sebelum bertanding.

"Kalau saya sih justru jarang latihan khusus. Takutnya kalau terlalu banyak latihan malah kebanyakan pertimbangan. Saya tetap seperti biasa saja, yang penting memang harus sering ngopi," ujarnya.

Jadi Ajang Kolaborasi

Qaca Cup Taster Competition tahun ini diikuti oleh lebih banyak peserta dibanding tahun lalu. Jika sebelumnya ada 48 peserta yang bertanding, tahun ini terdapat 60 orang yang ikut berpartisipasi.

Lebih lanjut, Edward berharap kompetisi ini dapat menjadi ruang berkumpul bagi komunitas kopi di Bandung maupun daerah lain. Menurutnya, pertemuan semacam ini dapat membuka peluang kolaborasi sekaligus memperluas jaringan antarpelaku industri kopi.

"Harapannya ini jadi tempat kumpul teman-teman kopi. Mereka bisa saling berbagi pengalaman, dapat relasi baru, bahkan mungkin muncul kolaborasi. Jadi bukan sekadar lomba atau senang-senang saja," katanya.




(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads