Mengenal Ganyol, Pangan Langka Sumedang yang Kaya Manfaat

Mengenal Ganyol, Pangan Langka Sumedang yang Kaya Manfaat

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 07:30 WIB
Ganyol kukus
Ganyol kukus (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar)
Bandung -

Warga di Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, hingga kini masih konsisten menanam umbi ganyol. Tanaman ini menjadi pangan alternatif serupa ubi atau talas, meski di beberapa wilayah lain di Sumedang, ganyol sudah dianggap sebagai pangan langka.

Dari Kutamandiri, umbi ganyol dibawa ke sekitar Kecamatan Cimanggung. Usai dibersihkan dari tanah dan akar yang menempel, ganyol dikukus menggunakan panci bertekanan tinggi. Hasilnya, sebuah pangan yang 'mewah' karena kelangkaannya. Warga setempat pun mengakui bahwa ganyol kini merupakan pangan langka.

Umbi ganyol yang matang memiliki aroma menyerupai kacang tanah rebus. Saat dikunyah, terasa teksturnya yang khas dan berserat. Memang tidak selembut ubi Cilembu, tetapi pangan ini tetap mengenyangkan dan mengandung segudang manfaat. Kenalan yuk dengan umbi ganyol lewat artikel ini!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ganyong atau Ganyol

Di Nusantara, umbi ganyol dikenal juga sebagai 'Ganyong'. Istilah tersebut lebih populer dibandingkan penyebutan aslinya di Tatar Sunda. Ganyong atau ganyol sering dinikmati dengan cara dikukus, direbus, atau diolah menjadi bubur ganyong.

Berbagai cara menikmati umbi langka ini menjadi kekayaan kuliner masyarakat Nusantara. Namun, mengukusnya terlebih dahulu merupakan cara yang paling praktis untuk menikmatinya.

ADVERTISEMENT

Cara Mengukus Ganyol

Umbi ganyol atau ganyong biasanya diolah dengan cara dikukus karena lebih praktis serta mampu mempertahankan rasa alami dan teksturnya yang lembut. Sebelum dikukus, umbi terlebih dahulu dibersihkan dari tanah yang menempel lalu dicuci hingga bersih. Jika ukurannya terlalu besar, umbi dapat dipotong menjadi beberapa bagian agar lebih cepat matang.

Setelah itu, susun umbi ganyol di dalam kukusan yang sudah dipanaskan sebelumnya. Kukus menggunakan api sedang selama sekitar 30 hingga 45 menit, tergantung ukuran umbi. Selama proses pengukusan, aroma khas ganyol biasanya mulai tercium dan teksturnya perlahan menjadi empuk.

Umbi ganyol yang sudah matang dapat diketahui dari teksturnya yang mudah ditusuk menggunakan garpu atau pisau. Setelah diangkat, ganyol bisa langsung disantap selagi hangat. Rasanya cenderung gurih dan sedikit manis dengan tekstur lembut, sehingga cocok dimakan begitu saja maupun dipadukan dengan kelapa parut, gula aren, atau teman minum teh dan kopi hangat.

Morfologi Tanaman Ganyol

Dikutip dari laman pertanian.go.id, disebutkan bahwa ganyong atau ganyol merupakan tanaman herba yang tumbuh bergerombol atau berumpun. Seluruh bagian vegetatifnya, seperti batang, daun, dan kelopak bunga, memiliki lapisan tipis menyerupai lilin. Tanaman ini tetap hijau sepanjang hidupnya, meski pada fase tua batang dan daunnya akan mengering.

Batang

Tanaman ganyong umumnya memiliki tinggi antara 0,9 hingga 1,8 meter. Di beberapa daerah, tinggi tanaman bahkan dapat mencapai 2,7 meter. Batangnya memanjang dan jika diukur lurus bisa mencapai sekitar 3 meter dari pucuk hingga bagian umbi atau rimpang. Warna batang dan pelepah daun bervariasi, mulai dari hijau hingga ungu, tergantung jenis atau varietasnya.

Daun

Daun ganyong berbentuk elips memanjang dengan ujung dan pangkal yang meruncing. Ukuran daun cukup lebar dengan panjang sekitar 15-60 sentimeter dan lebar 7-20 sentimeter. Tulang daun di bagian tengah tampak tebal dan jelas. Warna daun beragam, mulai dari hijau muda, hijau tua, kemerahan, hingga bercorak garis ungu atau seluruhnya berwarna ungu.

Bunga

Bunga ganyong berukuran relatif kecil dibandingkan jenis bunga kana hias. Warna bunganya merah jingga dengan bagian pangkal kuning. Bunga terdiri dari tiga kelopak dengan panjang sekitar 5 sentimeter dan memiliki benang sari yang tidak sempurna.

Buah

Tanaman ganyong juga menghasilkan buah meski tidak berkembang sempurna. Buahnya terdiri dari tiga ruang yang masing-masing berisi sekitar lima biji berwarna hitam.

Umbi

Umbi ganyong berukuran cukup besar dengan diameter sekitar 5-9 sentimeter dan panjang 10-15 sentimeter, bahkan dapat mencapai 60 sentimeter. Bagian luar umbi diselimuti sisik berwarna ungu atau cokelat serta dilengkapi akar serabut yang tebal. Bentuk dan kandungan gizi umbi dapat berbeda-beda tergantung varietas, umur tanaman, dan lokasi tumbuhnya. Umbi ganyong umumnya dapat dipanen pada usia 4-8 bulan setelah tanam. Panen biasanya dilakukan dengan cara dicabut atau digali.

Manfaat Umbi Ganyong untuk Kesehatan

Berikut ini adalah manfaat umbi ganyol atau ganyong untuk kesehatan dikutip dari laman desaterbah.gunungkidulkab.go.id:

Sumber Karbohidrat Alternatif

Umbi ganyong mengandung karbohidrat cukup tinggi sehingga dapat menjadi pengganti bahan pangan pokok, terutama saat harga beras meningkat atau masa paceklik.

Mengenyangkan

Dalam setiap 100 gram ganyong terkandung sekitar 95 kalori dan 22,6 gram karbohidrat yang mampu menjadi sumber energi bagi tubuh.

Baik untuk Balita

Kandungan fosfor, zat besi, dan kalsium pada ganyong dinilai baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Menyehatkan Tulang

Kalsium dalam umbi ganyong bermanfaat membantu pembentukan dan pemeliharaan kekuatan tulang.

Mudah Dicerna

Tepung ganyong dikenal memiliki daya cerna tinggi sehingga cocok dijadikan bahan makanan bayi maupun orang dengan sistem pencernaan sensitif.

Bahan Obat Tradisional

Dalam pengobatan tradisional, ganyong dipercaya membantu mengatasi panas dalam, diare, hipertensi, radang saluran kencing, hingga hepatitis akut.

Kaya Vitamin dan Mineral

Ganyong memiliki kandungan vitamin C, vitamin B1, zat besi, fosfor, dan kalsium yang dibutuhkan tubuh.

Diolah Jadi Berbagai Produk Pangan

Kandungan pati yang tinggi membuat ganyong berpotensi dijadikan tepung, bubur bayi, hingga bahan baku industri pangan seperti sirup glukosa.

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads