Aroma tempurung kelapa yang terbakar menyeruak di kawasan Jalan Cisokan, Kota Bandung. Kepulan asap dari lapak penjual kelapa muda menjadi pemandangan unik ketika banyak warga yang sibuk berburu takjil jelang berbuka puasa.
Di bulan Ramadan, air kelapa muda kerap diburu sebagai pelepas dahaga alami. Namun, di antara deretan penjual kelapa yang menjamur, sebuah lapak di Jalan Cisokan menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni menu kelapa bakar.
Menjual kelapa bakar rupanya bukan sekadar meletakkan kelapa di atas bara api. Iwan, selaku pemilik lapak, mengungkapkan bahwa proses ini menuntut ketelitian mulai dari pemilihan bahan baku hingga teknik pembakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak semua kelapa bisa dibakar. Harus teliti memilih yang pas, tidak boleh terlalu tua, tidak boleh terlalu muda, apalagi yang kosong. Cara membakar dan mengipasnya pun ada tekniknya, tidak bisa asal jadi" ujar Iwan saat ditemui detikJabar belum lama ini.
Di lapak yang telah berdiri sejak 2014 ini, konsumen bisa memilih air kelapa murni atau varian rempah yang dicampur jahe, madu, serta ramuan tradisional lainnya. Satu porsinya dibanderol mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000, tergantung komposisi isiannya.
Menurut Iwan, kelangkaan penjual kelapa bakar di Bandung bukan tanpa alasan. Proses pembuatannya memakan waktu lama, membutuhkan keahlian khusus, hingga pemilihan lokasi karena asap tebal hasil pembakaran.
"Tidak semua penjual kelapa muda menjual kelapa bakar, di samping tempat lokasi yang sulit karena asapnya, yang keduanya keahliannya, mau itu keahlian membakarnya ataupun meracik rempah-rempahnya" tambahnya.
Bagi banyak pelanggan, kelapa bakar diyakini memiliki khasiat medis. Iwan bercerita tentang konsumen yang datang rutin karena merasa sembuh dari keluhan kista, batu ginjal, hingga empedu setelah mengonsumsi air kelapa bakar.
"Saya sebagai penjual tidak menyarankan atau menjanjikan kesembuhan, nanti dikira hanya iklan. Tapi konsumen sendiri yang membuktikan dan kembali lagi bercerita kalau kondisi mereka membaik" ujarnya.
Iwan sendiri meyakini bahwa manfaat utama tetap berasal dari kemurnian air kelapa itu sendiri yang kemudian diperkuat oleh sifat hangat rempah-rempah.
"Dasarnya semua kelapa itu sudah bagus khasiatnya. Mungkin karena tambahan rempah dan konsumen meminumnya secara rutin, waktu itu konsumen datang seminggu 2-3 kali" pungkas Iwan.
(yum/yum)










































