Memasak ternyata bukan hanya sekedar mencampur bahan dan mengikuti setiap langkah dari resep. Namun, juga penting untuk mengetahui seberapa besar yang api yang diperlukan untuk memasak.
Dua istilah yang sering muncul dalam dapur adalah high heat (suhu tinggi) dan low heat (suhu rendah). Secara sederhana, high heat cooking berarti memasak dengan panas yang tinggi, biasanya untuk waktu singkat.
Sementara low heat cooking adalah memasak dengan api kecil atau sedang selama waktu yang lebih lama. Hasil makanan yang dihasilkan akan berbeda, sehingga perlu dipahami perbedaan penggunaannya.
Apa yang Membedakan Hasil Masakan dengan Suhu Tinggi dan Rendah?
1. Pembentukan Rasa
High heat cooking sangat efektif dalam menciptakan rasa yang intens dan kontras. Panas tinggi memicu reaksi Maillard dan karamelisasi, proses kimia yang terjadi ketika gula dan protein dalam makanan bereaksi di permukaan panas sehingga membentuk warna cokelat keemasan, aroma yang kaya, serta lapisan rasa yang kuat.
Sementara itu, low heat cooking membangun rasa secara perlahan. Saat memasak seperti kari, gulai, atau rebusan lain disarankan dengan api kecil agar rempah-rempah dan bahan menyatu dengan lebih seimbang karena waktu memasaknya lebih lama.
2. Tekstur yang Dihasilkan
Bicara soal tekstur, high heat sering memberikan kontras pada makanan. Sisi luar makanan yang renyah, namun bagian dalamnya tetap juicy.
Sebaliknya, low heat membuat bahan menjadi lebih lembut. Daging dan sayuran yang dimasak perlahan akan menjadi lebih empuk karena kolagen dan seratnya pecah secara alami selama proses memasak.
3. Pentingnya Mengendalikan Suhu
Salah satu perbedaan penting antara kedua metode ini adalah kontrol selama proses memasak. High heat membutuhkan perhatian yang tinggi karena makanan bisa cepat gosong jika dibiarkan terlalu lama.
Aksi cepat dan cekatan diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sebaliknya, low heat jauh lebih 'ramah' bagi pemula atau mereka yang tidak ingin fokus terus menerus di depan kompor.
(yum/yum)