Tradisi Rajaban di Jawa Barat, Botram Jadi Simbol Kebersamaan

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Kamis, 15 Jan 2026 07:00 WIB
Ilustrasi botram (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Tradisi Rajaban atau peringatan Isra Mi'raj di Jawa Barat tak sekadar diisi pengajian dan doa bersama. Momentum ini identik dengan botram, tradisi makan bersama di atas daun pisang yang mencerminkan kebersamaan dan kesederhanaan warga Sunda.

Merujuk KBBI, botram berasal dari bahasa Sunda yang bermakna acara makan bersama secara santai dan kekeluargaan dengan saling berbagi bekal yang dibawa dari rumah masing-masing.

Botram biasanya digelar seusai pengajian Isra Mi'raj. Bertempat di halaman masjid, madrasah, atau balai kampung, makanan disusun memanjang di atas daun pisang lalu dinikmati bersama tanpa sekat status sosial.

Tradisi ini memperkuat ikatan warga dalam suasana religius. Pada peringatan Isra Mi'raj 27 Rajab 1447 H yang jatuh pada 16 Januari 2026 mendatang, tradisi makan bersama ini diprediksi tetap lestari di berbagai pelosok Jawa Barat.

Sejarah Ringkas Makan Bersama dalam Memuliakan Bulan di Jawa Barat

Tradisi makan bersama telah mengakar kuat dalam kehidupan religius masyarakat Jawa Barat, termasuk saat memuliakan Rajab, bulan terjadinya peristiwa agung Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Dalam praktik masyarakat Sunda, Rajaban tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah individual, melainkan upacara kolektif yang menggabungkan doa, sajian makanan, dan kebersamaan sosial.

Studi Eka Kurnia Firmansyah dan Nurina Dyah Putrisari dalam jurnal Sistem Religi dan Kepercayaan Masyarakat Kampung Adat Kuta (2017) menyebutkan, upacara keagamaan dalam tradisi Sunda umumnya terdiri atas unsur pokok: bersaji, berkorban, berdoa, dan makan bersama.

Dalam konteks Rajaban, makan bersama adalah bagian inti dari peringatan. Makanan dipersiapkan secara khusus dan didoakan sebelum disantap. Praktik ini menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan media pengiring doa dan simbol rasa syukur kepada Allah SWT.

Buku karya Dra. Yetti Herayati, dkk. (1986) berjudul Makanan: Wujud Variasi dan Fungsi serta Cara Penyajiannya pada Orang Sunda Daerah Jawa Barat menjelaskan bahwa upacara tradisional Sunda selalu berkaitan dengan peristiwa penting, seperti daur hidup, pemuliaan bulan tertentu, hingga momentum religius.

Memperingati Isra Miraj pada bulan Rajab adalah bagian dari 'memuliakan bulan'. Di dalamnya terdapat aturan waktu, tempat, keterlibatan warga, hingga jenis makanan yang disajikan secara khas. Dokumentasi budaya Sunda mencatat Rajaban biasanya digelar pada 27 Rajab malam, selepas salat Magrib. Upacara dipimpin tokoh agama dan diikuti seluruh anggota keluarga atau masyarakat.

Sajian yang dihadirkan mencerminkan nilai simbolik, seperti nasi tumpeng, seupan cau (pisang kukus), wajit, angleng, rengginang, serta minuman teh dan kopi. Nasi tumpeng disajikan dalam porsi besar sebagai pusat hidangan. Seluruh makanan tersebut disiapkan sebagai pengiring doa, kemudian disantap bersama tanpa pengecualian.




(iqk/iqk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork