Siang itu, Minggu (12/7/2026), aspal panas jalur Pantura Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, menjadi saksi bisu sebuah perpisahan abadi. Niat hati Ayu Wulandari (26) pulang ke kampung halamannya di Indramayu untuk melepas rindu pada sang ibu, Yunah, justru berakhir dengan kepulangan menghadap Sang Pencipta.
Ayu, perempuan asal Desa Cempeh Blok Cemeti, Kecamatan Lelea, sebenarnya telah menetap di Sragen, Jawa Tengah, mengikuti kediaman suaminya. Namun, takdir membawanya kembali ke Kota Mangga sebulan terakhir ini. Tak ada yang menyangka, keikutsertaannya dalam rombongan pengantin siang itu menjadi perjalanan terakhirnya bersama sang ibunda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darsinih (34), warga setempat, menceritakan bahwa Ayu berada di Indramayu memang khusus untuk menjenguk Yunah.
"Sudah sekitar satu bulan di sini Ayu lagi nengok ibunya, terus ikut rombongan pengantin yang masih satu desa," ujar Darsinih kepada detikJabar.
Lara semakin terasa mengingat sang suami saat ini tengah mengadu nasib sebagai pekerja migran di Korea Selatan. Mendengar kabar duka ini, sang suami dikabarkan segera bertolak pulang ke tanah air. Sementara itu, keluarga mertua Ayu dari Sragen juga tengah dalam perjalanan menuju Indramayu untuk memberikan penghormatan terakhir.
Di mata para tetangga, Ayu dikenal sebagai sosok yang hangat dan bersahaja. Sembari menahan isak tangis, Darsinih mengenang betapa ramahnya perempuan muda tersebut.
"Ayu orangnya 'grapyak', masih muda, dan gampang bersosial dengan tetangga. Duh, ya, kenapa dia ikut mengantar pengantin, padahal katanya cuma kenalan," ucap Darsinih dengan nada pelan.
Tak jauh dari sana, Catu (48) duduk termangu. Raut kesedihan mendalam tak mampu ia sembunyikan dari wajahnya. Sebagai tetangga, ia tahu betul perjuangan cinta Ayu dan suaminya yang baru berjalan sekitar dua tahun. Pasangan muda ini bahkan belum sempat menimang buah hati. Sang suami harus terbang ke Negeri Gingseng hanya beberapa bulan setelah mereka mengecap manisnya mahligai rumah tangga.
"Lagi berbunga-bunga ibaratnya, mah, terus ke Korea lagi. Katanya, sih, pulang dulu mau nikah terus beberapa bulan terbang lagi, tapi Ayu dari awal tinggalnya di Sragen sama mertuanya," ungkap Catu.
Kini, keceriaan itu telah padam. Di ruang tamu rumah duka, jasad Ayu dan Yunah terbaring berdampingan, menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Yunah sendiri meninggalkan lima orang anak dari pernikahan sebelumnya.
Suasana haru menyelimuti pelataran rumah duka saat warga silih berganti berdatangan. Jika tak ada aral melintang, seluruh korban asal Desa Cempeh ini akan diantarkan ke peristirahatan terakhir pada Senin, 13 Juli 2026, sekitar pukul 07.00 WIB. Jalur Pantura mungkin akan kembali sibuk esok hari, namun bagi keluarga Ayu, waktu seolah berhenti di hari Minggu yang kelabu ini.
