Di Indonesia, mencuci bahan makanan sebelum dimasak sudah menjadi kebiasaan yang dianggap wajib. Air mengalir, perasan jeruk nipis, hingga garam kerap digunakan sebagai ritual awal sebelum proses memasak dimulai.
Salah satu bahan pangan yang hampir selalu dicuci adalah daging. Namun, kebiasaan ini ternyata masih menjadi perdebatan panjang dalam dunia kesehatan dan keamanan pangan.
Tidak semua jenis daging dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Daging segar seperti ayam, ikan, dan sapi termasuk bahan pangan berisiko tinggi karena berpotensi mengandung bakteri patogen, seperti Salmonella, Campylobacter, dan E. coli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa kontaminasi silang di dapur justru sering terjadi akibat proses pencucian bahan makanan yang tidak tepat. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara mencuci daging yang benar sesuai dengan jenisnya.
Jenis-Jenis Daging Berdasarkan Klasifikasinya
Dalam ilmu pangan, daging umumnya diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu daging putih dan daging merah. Pengelompokan ini tidak hanya didasarkan pada warna, tetapi juga struktur serat, kadar air, serta potensi risiko mikrobiologis.
Daging Putih
Daging putih merujuk pada daging unggas dan ikan yang berwarna lebih terang dengan serat relatif halus. Jenis daging ini memiliki kadar air yang cukup tinggi, sehingga lebih rentan terhadap penyebaran bakteri.
Contoh daging putih meliputi:
- Daging ayam
- Daging bebek
- Daging kelinci
- Ikan putih (kod, dori, kakap, dan sejenisnya)
- Makanan laut seperti udang dan kepiting
Daging Merah
Daging merah berasal dari hewan mamalia dengan warna lebih gelap serta serat yang lebih padat. Struktur seratnya membuat daging merah tidak mudah menyerap air.
Jenis daging merah antara lain:
- Daging sapi
- Daging kambing
- Daging domba
Cara Mencuci Daging Berdasarkan Jenisnya
Cara Mencuci Daging Putih
Berlawanan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia, berbagai lembaga kesehatan justru tidak menganjurkan mencuci daging putih secara berlebihan, khususnya daging ayam.
Dalam pedoman keamanan pangan rumah tangga, Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa mencuci daging unggas dengan air mengalir tidak mampu membunuh bakteri. Sebaliknya, air cucian berisiko memercik ke area dapur lain dan menyebarkan bakteri ke peralatan makan atau permukaan meja.
Kondisi ini dikenal sebagai kontaminasi silang, yang menjadi salah satu penyebab utama keracunan makanan.
Daging putih sebaiknya hanya dicuci secara terbatas untuk menghilangkan kotoran fisik, seperti sisa darah atau lemak berlebih. Proses pencucian dilakukan dengan aliran air kecil, perlahan, dan menggunakan wadah tertutup agar tidak menimbulkan percikan.
Setelah itu, daging harus segera dimasak hingga matang sempurna. Suhu tinggi terbukti efektif membunuh bakteri. Menurut Food Safety Authority, daging unggas dinyatakan aman dikonsumsi setelah mencapai suhu internal minimal 74 derajat Celsius.
Cara Mencuci Daging Merah
Berbeda dengan daging putih, daging merah masih dapat dibilas secara singkat menggunakan air bersih. Tujuan utama proses ini hanya untuk membersihkan kotoran fisik, bukan untuk mensterilkan daging dari mikroorganisme.
Setelah dibilas, daging merah disarankan untuk segera dikeringkan sebelum dipotong atau dimasak.
Merendam daging merah dalam waktu lama tidak dianjurkan karena dapat melarutkan nutrisi penting, terutama vitamin B yang bersifat larut dalam air. Jurnal Meat Science juga mencatat bahwa perendaman berlebihan dapat memengaruhi tekstur daging, sehingga membuatnya lebih alot saat dimasak.
Penggunaan bahan tambahan seperti garam atau perasan jeruk nipis memang dapat membantu mengurangi aroma khas, terutama pada daging kambing. Namun, bahan-bahan tersebut tidak berfungsi sebagai pembunuh bakteri dan sebaiknya digunakan secukupnya.
Kesalahan Umum dalam Mencuci Daging
Beberapa kesalahan yang masih sering dilakukan saat mencuci daging antara lain:
Mencuci daging dengan air panas, yang justru dapat mematangkan bagian luar daging tanpa membunuh bakteri di bagian dalam.
Mencuci daging menggunakan sabun atau deterjen, yang berbahaya karena meninggalkan residu kimia.
Merendam daging terlalu lama dengan anggapan agar lebih bersih, padahal justru berisiko menurunkan kualitas daging.
Artikel ini ditulis oleh Gheyna Sabila Z, peserta program magangHub kerjasama Kementrian Tenaga Kerja dan detikcom.
(tya/tya)











































