Di tepi Jalan Raya Sukabumi-Cibadak, tepatnya di Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi, sebuah warung sederhana menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Warung Abah Udin, begitu orang mengenalnya. Dari luar, tak ada papan nama mewah.
Dindingnya kusam, catnya memudar, dan lantai tanpa keramik dengan retakan di beberapa sudut. Tapi di balik kesederhanaannya, warung ini adalah legenda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu melangkah masuk, aroma masakan langsung menyergap. Di atas meja panjang, piring-piring penuh lauk berjejer rapi. Ada kepala sapi semur, pepes daun pisang, ayam goreng, sate, ikan asin, sambal pedas, lalapan segar, dan aneka hidangan yang membuat perut otomatis memanggil. Inilah jantung warung Abah Udin meja sederhana yang tak pernah benar-benar kosong.
Dimulai Sebelum Subuh
Abah Udin, atau akrab dipanggil Udin Kejo (76), memulai harinya ketika sebagian besar orang masih terlelap. Pukul setengah dua dini hari, ia sudah berdiri di dapur kecilnya, menanak nasi, menumis bumbu, dan menyiapkan lauk satu per satu. Semua masakan ia garap sendiri, tanpa koki, tanpa asisten.
"Masak sendiri semuanya, bangun mulai sekitar setengah dua atau jam dua pagi sampai jam lima sore, buka jam 5 pagi tutup jam 5 sore," tuturnya, tangannya tetap sibuk mengatur piring dan sendok di atas meja, Sabtu (30/8/2025).
Warungnya resmi buka pukul lima pagi. Di jam-jam itu, para pekerja, sopir angkutan, dan driver ojek online satu per satu berdatangan. Ada yang mampir sebentar, ada yang duduk santai sambil menyeruput teh manis. Dari pagi hingga sore, kursi panjang di sisi meja jarang kosong.
![]() |
Salah satu daya tarik warung Abah Udin adalah dindingnya. Dari jauh tampak seperti tembok biasa, tapi mendekat, puluhan foto berbingkai menghiasi setiap sudut. Di sana, terpampang momen-momen berharga, bupati Sukabumi dari masa ke masa, pejabat kepolisian, rombongan PJR, artis, bahkan grup komunitas yang sengaja datang dari luar kota.
Setiap foto punya cerita. Ada pejabat yang mampir saat dinas, ada polisi yang singgah selepas patroli, ada konvoi pejabat tinggi yang sengaja berhenti hanya untuk sarapan di warung sederhana ini.
"Kan sering melintas, makan gitu lalu lintas, seperti polisi, provos, PM, sering melintas kan makan disini kalau ngawal, patwal atau PJR," ungkap Abah Udin, bangga tapi tetap rendah hati.
Kepala Sapi Semur, Legenda dari Dapur Kecil
Jika ada satu menu yang menjadi ikon warung ini, jawabannya jelas, kepala sapi semur. Dagingnya yang empuk berpadu dengan bumbu manis-gurih yang meresap sempurna. Disajikan bersama sambal dan lalapan, menu ini sudah jadi incaran pelanggan setia sejak pertama kali Abah Udin berjualan.
"Kepala sapi semur, makanan tempe, sambel, lalap, pertama itu," ujarnya sambil menunjuk panci besar di sudut dapur.
Pelanggan warung ini datang dari berbagai penjuru Sukabumi. Ada yang dari Parungkuda, Kalapanunggal, Cibadak, Sukaraja, Sagaranten, Gegerbitung, hingga Nyalindung. Nama Abah Udin sudah begitu dikenal, bahkan tukang sayur yang melintas di jalur utama pun hafal siapa dia.
Suasana warung Abah Udin punya kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain. Di sini, meja panjang menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda. Sopir truk, driver ojol, tukang tambal ban, polisi, hingga rombongan bupati pernah berbagi meja dan menyendok sambal yang sama.
![]() |
Abah Udin tersenyum ketika bercerita soal ini. Baginya, warungnya bukan hanya soal nasi dan lauk. Ada filosofi sederhana yang ia pegang sejak pertama kali berjualan.
"Warung mah sederhana, tapi kudu ngajak urang karasa boga bumi sorangan. Nya, di dieu mah teu aya bédana bupati jeung ojol, kabeh sarua datangna keur nyumponan lapar (Warung ini memang sederhana, tapi harus membuat orang merasa seperti di rumah sendiri. Di sini tidak ada bedanya antara bupati dan ojol, semua sama-sama datang untuk mengenyangkan lapar)," ujarnya.
Kalimat itu seolah merangkum esensi warung Abah Udin. Makanan memang penting, tapi suasana lah yang membuat orang kembali.
Dari warung sederhana ini, Abah Udin membesarkan empat anaknya. Hasil keringatnya mengantar mereka meraih pendidikan dan pekerjaan yang layak. Ada yang kini menjadi guru setelah lulus dari UIN, ada yang bekerja di Bank BRI, dan ada pula yang meneruskan jejak kuliner keluarga.
"Dari jualan nasi punya anak 4 orang, ini warung juga, anak-anak ada yang kuliah di UIN sekarang ngajar di SMP sampai jadi guru, juga ada yang kerja di Bank BRI, ada yang biasa jualan baso ini," katanya, suaranya sarat rasa syukur.
(sya/orb)