Menyantap Sayuran Tak Pernah Seasyik di Kehidupan

Anindyadevi Aurellia - detikJabar
Selasa, 24 Mei 2022 14:47 WIB
Restoran Kehidupan di Kota Bandung
Restoran Kehidupan di Kota Bandung (Foto: Anindyadevi Aurellia/detikJabar)
Bandung -

Sebuah restoran vegan yang telah berdiri sejak Mei 2012 silam. Restoran ini kembali ramai diperbincangkan warganet di Twitter, sebab nama yang unik dan konsep yang beda. Mereka menebak bahwa makna filosofis yang diusung adalah percaya terhadap adanya reinkarnasi.

Masuk ke bagian dalam restoran, detikers akan disambut dengan 10 televisi dengan tayangan video yang menerangkan tentang korelasi antara penyakit dan makanan yang kita konsumsi. Seperti diabetes, kanker, kolesterol, dan lainnya. Terpajang pula foto-foto artis baik dalam negeri maupun internasional, yang mendeklarasikan hidup sehat tanpa makan daging.

"Nama ini tercipta dari adanya musyawarah, serta punya filosofis tertentu. Kami mengajak orang untuk hidup sehat dengan makan vegan. Stop makan daging dari hewan, karena mereka juga makhluk hidup. Saat mereka disakiti, pasti ada balasannya salah satunya adalah banyaknya efek samping dari konsumsi daging," ujar Andrea Suwandi (70), Owner Representative Restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir.


Restoran Kehidupan di Kota BandungRestoran Kehidupan di Kota Bandung Foto: Anindyadevi Aurellia/detikJabar

Andreas, begitu sapaannya, mencoba menjelaskan melalui berbagai literasi yang ia baca. Seperti penyebab terbesar perubahan iklim dan pemanasan global justru datang dari limbah ternak. Misi inilah yang dibawa restoran untuk menyajikan makanan sehat, halal, tanpa harus membahayakan diri dan bumi.

"IPCC (Intergovernmental Panel Climate Change) telah melakukan penelitian bahwa hewan ternak justru menyumbang emisi yang cukup besar. Maka, disarankan untuk lahan lebih baik dialokasikan ke pertanian dibanding peternakan. Mulai untuk makan makanan sehat dengan mengganti daging ke plant-based," tegasnya saat ditemui detikJabar di restoran yang diurusnya beberapa waktu lalu.

Sebelum membaca banyak literasi tersebut, ia mengaku awalnya juga makan daging-dagingan. Hingga sekitar tahun 90-an, ia diajak oleh teman-teman kerohaniannya untuk tidak makan daging. Sang istri juga diajari bagaimana cara mengolah sayur supaya rasanya tak kalah dengan olahan daging.

"Memang semuanya harus pelan-pelan dan bertahap. Mengolah sayur agar sedap dimakan sebetulnya sangat mudah, selama ada niat untuk mempelajari. Kemudian saya coba perkaya literasi tentang efek samping daging yakni berkaitan dengan lingkungan dan penyakit. Akhirnya sejak itu saya tidak pernah lagi makan daging," cerita pria yang lahir di Medan tersebut.

Ia pun juga turut menceritakan kisah karyawannya yang mengalami pembengkakan pada kelenjar getah bening. Karyawannya sendiri yang justru membuktikan secara langsung bahwa makan sayur memiliki manfaat positif bagi tubuh.

"Karena tidak sanggup untuk operasi habis jutaan rupiah, ia coba untuk setiap hari dimasakkan istrinya sayur bening dan tanpa MSG. Empat hari mulai tidak sakit lagi, hingga akhirnya satu bulan mulai kempes dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Manfaat sayur memang luar biasa, namun belum banyak yang menyadarinya," tuturnya.

Sate, Dendeng dan Bakso Vegan

Dari misi itu, restoran ini terus berusaha melakukan inovasi pada masakan yang dihasilkan. Dengan menyajikan lebih dari 60 menu makanan rumahan yang lezat seperti sate, dendeng, bakso, dan masih banyak lagi. Namun jika kamu makan di resto ini, kamu tak akan menyangka kalau semua menunya ternyata terbuat dari sayur mayur alias makanan vegan.

"Sate kita buat dari sari kedelai dan jamur, bakso dan dendeng juga. Tapi kami tidak buat sendiri, seperti sate begitu kami impor dari Malaysia agar lebih rapi juga potongannya. Kami perhatikan sterilnya makanan serta penampilan makanan tersebut agar tetap menggugah selera," tutur Andreas.

Restoran Kehidupan di Kota BandungRestoran Kehidupan di Kota Bandung Foto: Anindyadevi Aurellia/detikJabar

Begitu sudah duduk dan mencicipi makanan, detikers akan dibuat terkejut karena tekstur dan rasa yang dihasilkan betul-betul tidak ada bedanya dengan olahan daging yang biasanya kita temui. Bahkan untuk sate, memiliki tekstur yang lebih lembut daripada daging biasa.

"Di sini tidak ada yang tidak laris, semua laris tapi memang paling dicari itu satenya. Selain itu, kisaran harga juga terjangkau antara Rp 10.000-30.000. Jadi tidak heran biasanya di jam makan siang ramai, saat makan malam kami sudah harus isi banyak sayur dan lauk yang sudah habis," jelasnya.

Didatangi Artis Ibu Kota

Restoran ini juga mengajak kamu untuk mandiri dengan melakukan self service, membuang sampah dan meletakkan piring pada tempatnya setelah selesai makan. Rupanya, hal-hal positif yang coba diusung restoran seperti pola makan sehat, buang sampah pada tempatnya, serta cita rasa yang lezat, mampu menarik perhatian masyarakat bahkan artis ibukota.

"Beberapa artis seperti Sophia Latjuba, Eva Celia, Tara Basro, mereka yang merupakan seorang vegan pernah datang kesini. Suatu kebanggaan untuk kami, dan kami harap lebih banyak orang yang turut mengikuti langkah makan makanan sehat," ujarnya.

"Karena antusias yang tinggi inilah, kami ada niatan untuk membuka franchise dan cabang di Jakarta tahun ini. Tapi masih dalam rencana, karena tentu saja modal yang dibutuhkan tidak sedikit. Semoga kami bisa memperluas pasar untuk mengajak lebih banyak orang makan sayur," imbuh Andreas.

(aau/yum)