detikers, Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota kreatif dengan hawa sejuk, kuliner legendaris, dan lanskap pegunungan yang memikat. Di balik kesibukan jalanan serta pertumbuhan penduduknya, kota ini juga menyimpan jejak panjang pada kebijakan hunian vertikal.
Rumah susun atau rusun hadir sebagai jawaban atas keterbatasan lahan, kebutuhan warga berpenghasilan rendah, hingga penataan kawasan rawan bencana. Beberapa rusun di Bandung bahkan telah berdiri sejak akhir 1970-an, jauh sebelum istilah rusunawa populer di ruang publik.
Menelusuri keberadaan mereka berarti membaca sejarah urbanisasi Bandung, bagaimana negara, pemerintah daerah, militer, lembaga negara, dan warga saling berinteraksi dalam menyediakan tempat tinggal yang lebih terjangkau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Rusun Sarijadi
Rusun Sarijadi merupakan salah satu rumah susun tertua di Bandung dan sering disebut sebagai bagian penting dari sejarah rusun nasional. Mengutip dari jurnal karya Titihan Sarihati berjudul "Penerapan konsep teritori pada area teras dan koridor di Rusun Sarijadi Bandung. Idealog: Ide dan Dialog Desain Indonesia" 2017, menyebutkan bahwa kompleks ini dibangun pada 1979 di atas lahan seluas sekitar 3,8 hektare.
Mulanya bangunan ini diperuntukkan bagi karyawan PT Nurtanio, yang kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia, baik sebagai rumah dinas maupun hunian milik pribadi. Namun saat ini, kepemilikan dan peruntukan bangunan tersebut telah bergeser secara signifikan.
Sebagian besar unit hunian kini sudah sepenuhnya beralih fungsi menjadi milik pribadi para pensiunan, ahli waris, atau masyarakat luas, sehingga kawasannya menjadi lebih terbuka untuk umum. Sementara itu, hanya sebagian kecil unit saja yang statusnya masih dipertahankan sebagai rumah dinas aktif bagi pekerja yang memenuhi syarat.
Kompleks hunian vertikal ini berdiri kokoh dengan sembilan blok rumah susun berlantai empat, yang menampung total 864 unit hunian bertipe 36. Setiap bloknya dirancang secara simetris, menaungi 64 unit rumah yang terbagi rata ke dalam empat tingkat bangunan.
Dengan luas 36 meter persegi untuk setiap unitnya, ruang-ruang ini awalnya didesain sebagai tempat bernaung yang hangat bagi keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua hingga tiga anak yang masih belia.
Mengutip dari penelitian Maria Fransiska Fantur berjudul "Kajian Pengelolaan Persampahan di Rumah Susun Studi Kasus: Rumah Susun Sarijadi Kota Bandung" 2017, menyebutkan bahwa fasilitas di sekitarnya mencakup area niaga, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan pelayanan umum, sehingga penghuni dapat memenuhi kebutuhan harian tanpa harus terlalu jauh dari hunian. Ruang antarblok juga dimanfaatkan untuk utilitas lingkungan, termasuk jalur sirkulasi dan area penunjang.
2. Rusunawa Cingised
Rusunawa Cingised berada di Jalan Cingised, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik. Mengutip dari jurnal Sevira Julistia dan Ria Haryatiningsih berjudul "Preferensi Penghuni Rusunawa Cingised Kota Bandung dalam Memilih Lokasi Tempat Tinggal" 2023, menyebutkan bahwa pembangunannya dimulai pada 2005, sementara penempatan sebagian penghuni berlangsung bertahap sejak 2008 hingga 2014.
Rusun ini dibangun untuk menyediakan hunian layak bagi warga, terutama karena kawasan sekitarnya kerap menghadapi masalah banjir. Dalam pengembangannya, isu yang lebih banyak muncul bukan konflik fisik, melainkan persoalan pengelolaan dan pemanfaatan hunian pascapembangunan. Namun, dari sisi tata ruang, Cingised dirancang cukup lengkap.
Selain itu, kompleksnya memiliki lima gedung, kantor unit pengelola, masjid, ruang pertemuan terbuka, pos keamanan, lapangan basket, lapangan futsal, tempat pembuangan sampah sementara, parkir, pertokoan, dan taman. Terdapat pula ruang terbuka hijau seluas sekitar 316 meter persegi di tengah blok rusun.
3. Rusunawa Rancaili
Rusunawa Rancaili, yang juga sering ditulis Rancacili, dibangun oleh Kementerian Perumahan Rakyat pada 2008. Blok pertama merupakan twin block yang kemudian diikuti pembangunan dua blok lainnya pada 2013. Melansir dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung bahwa rusun ini mulai dihuni oleh puluhan kepala keluarga setelah tahap awal pembangunannya selesai.
Rusunawa ini juga dikenal sebagai lokasi fasilitasi bagi warga yang memerlukan penempatan sementara. Pada 2022, sejumlah warga difasilitasi menuju Rancacili dan ditempatkan secara gratis selama enam bulan sebagai bagian dari program pemerintah.
Hal ini menunjukkan fungsi rusunawa tidak hanya sebagai hunian sewa jangka panjang, tetapi juga sebagai instrumen penanganan permukiman dan relokasi. Fasilitas umumnya mengikuti pola rusunawa pemerintah, yakni unit hunian sederhana, ruang pengelola, area keamanan, serta ruang bersama untuk aktivitas warga.
4. Rusunawa Sadang Serang
Rusunawa Sadang Serang memiliki kisah yang sangat berkaitan dengan penataan kawasan Babakan Siliwangi dan Sungai Cikapundung. Mengutip dari beberapa sumber, bangunan ini dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya pada akhir 2008 hingga 2009, dengan satu twin block berisi 99 unit hunian tipe 24 meter persegi. Pemerintah Kota Bandung berperan dalam penyiapan lahan.
Konflik atau ketegangan sosial di rusun ini lebih berkaitan dengan proses relokasi. Warga Babakan Siliwangi yang sebelumnya tinggal di bantaran Sungai Cikapundung direlokasi ke Sadang Serang pada Oktober 2015, dalam rangka proyek Teras Cikapundung.
Sebelumnya, rusun tersebut sempat kosong cukup lama sehingga sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan akibat minimnya perawatan. Kini, fasilitas sanitasi meliputi air bersih, persampahan, pengelolaan air limbah, dan drainase, sedangkan unit hunian dilengkapi ruang keluarga, dapur, kamar mandi, serta teras.
5. Rumah Susun Industri Dalam
Rumah Susun Industri Dalam terletak di RW 08, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Berdasarkan jurnal karya Aan Mochammad Abdullah berjudul "Keberlanjutan Pengelolaan Rumah Susun Indal Melalui Kolaborasi Lintas Stakeholders" (2024), menyebutkan bahwa pembangunan Rusun Indal diprakarsai pada tahun 1992 oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Bandung melalui program peremajaan kota untuk mengatasi masalah permukiman kumuh.
Pembangunannya semula direncanakan di atas lahan seluas 2,4 hektare, namun yang terealisasi hanya 3 blok hunian di atas lahan seluas sekitar 4.000 m². Rusun ini memiliki keunggulan lokasi yang strategis di pusat kota dengan aksesibilitas tinggi terhadap berbagai aktivitas ekonomi dan fasilitas publik.
Di antaranya dekat dengan Stasiun Bandung, Bandara Husein Sastranegara, serta kawasan perbelanjaan. Fasilitas pendukung di kawasan ini mencakup sekolah, tempat ibadah (musala), posyandu, warung, kios, dan sarana kebutuhan sehari-hari lainnya.
Sejak mulai dihuni sekitar tahun 1992, Rumah Susun Indal belum memiliki kejelasan status kepemilikan dan legalitas lahan. Hal ini menyebabkan pengelolaannya dilakukan secara mandiri oleh warga melalui Persatuan Penghuni Rumah Susun (PPRS) Indal, yang dalam perkembangannya menghadapi kendala operasional sehingga memicu penurunan kualitas pelayanan dan kondisi lingkungan hunian.
6. Rusunawa Kejati Jawa Barat
Mengutip laman resmi Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kemen PKP), peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini telah dilaksanakan pada Januari 2026 di atas lahan seluas 4.145 meter persegi yang bertempat di Jalan Babakan Sari III, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. Kompleks perumahan ini dibangun dalam bentuk 1 tower setinggi 2 lantai dengan total kapasitas 44 unit hunian tipe 36.
Mengutip dari beberapa sumber lainnya, hunian dinas dengan skema sewa ini diprioritaskan khusus bagi pegawai ASN Kejati Jabar golongan II dan III-A (staf non-jaksa) yang belum memiliki rumah tinggal pribadi di wilayah Jawa Barat guna mengoptimalkan efisiensi kerja mereka.
Setiap unit hunian tipe 36 didesain secara modular mencakup dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi, serta ruang cuci dan jemur. Hunian tersebut juga telah dilengkapi dengan mebel terintegrasi.
Untuk fasilitas bersama, publikasi resmi Kementerian PKP mencatat keberadaan sarana pelengkap terpadu meliputi balai warga dan ruang serbaguna, musala, minimarket internal, area parkir komunal berkapasitas 24 unit mobil dan 46 unit sepeda motor.
7. Rusunawa Cibeureum
Melansir dari laman resmi DPKP Pemerintah Kota Cimahi, Rusunawa Cibeureum merupakan bagian dari ekspansi hunian vertikal di wilayah Bandung Raya. Berlokasi di Melong, Kota Cimahi, kompleks hunian vertikal khusus Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) ini telah resmi beroperasi dan melayani warga sejak tahun 2009.
Kompleks ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektare. Pembangunannya disokong oleh kementerian pusat dan daerah melalui anggaran gabungan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perumahan Rakyat, dan dana APBD Pemerintah Kota Cimahi.
Secara kapasitas, Rusunawa Cibeureum merupakan wadah hunian vertikal terbesar di Kota Cimahi. Tempat ini memiliki total daya tampung sebanyak 371 unit kamar hunian yang terbagi ke dalam empat gedung atau twin block utama.
Gedung A, B, dan C merangkum sebanyak 297 unit hunian dengan Tipe 24. Sementara itu, Gedung D khusus menyediakan sebanyak 72 unit hunian dengan Tipe 27 yang memiliki ukuran ruangan sebesar 3x9 meter.
Untuk fasilitas umum, pengelola menyediakan sarana ibadah musala, taman bermain, dan area niaga. Terdapat pula area parkir kendaraan roda dua dan roda empat yang kini sudah diawasi oleh kamera pengawas CCTV selama 24 jam.
8. Rusun Cisaranten Bina Harapan
Melansir dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung, rusun ini berlokasi di Jalan Golf Raya Blok A Nomor 5, RW 10, Kelurahan Cisaranten Bina Harapan, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, di kawasan Kompleks Pusjatan.
Pemerintah menargetkan penyediaan 1.879 unit apartemen yang terbagi dalam lima tower utama. Kompleks modern berwawasan lingkungan ini merangkul konsep bangunan gedung hijau ramah energi serta memiliki fasilitas pemandangan tepi sungai.
Tipe huniannya sendiri mencakup studio, satu kamar tidur, dua kamar tidur, tiga kamar tidur, hingga unit difabel, bangunan direncanakan setinggi 10-11 lantai. Fasilitas yang direncanakan meliputi pasokan air bersih dari SPAM Gedebage, pengelolaan air limbah, konsep bangunan hijau, serta pemandangan riverside.
9. Rusunawa Jatisari
Melansir dari laman resmi UPTD Rumah Susun Kabupaten Bandung, rusunawa ini berlokasi di Jl. Raya Soreang-Cipatik No.5-8, Gajahmekar, Kec. Kutawaringin, Kabupaten Bandung, tepat di samping Puskesmas Kutawaringin serta dekat dengan area kantor kecamatan dan Stadion Si Jalak Harupat.
Tipe huniannya sendiri mengusung tipe hunian susun sederhana dengan total sekitar 384 unit yang tersebar di 4 twin block bangunan bertarif terjangkau. Fasilitas yang tersedia meliputi kamar hunian yang tertata rapi, musala di blok TB1, area taman hijau, serta kantor pengelolaan di lantai dasar TB4 untuk melayani administrasi penghuni.
10. Rusunawa Baleendah
Mengutip dari beberapa sumber, rusunawa ini berlokasi di Jl. Jaksa Naranata No.5, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, tepat di area strategis yang dekat dengan berbagai fasilitas kesehatan, pusat perbelanjaan, serta kawasan industri pabrik di sekitarnya.
Tipe huniannya sendiri mengusung tipe hunian susun sederhana dengan total kapasitas sekitar 74 unit yang tersebar di bangunan bertingkat 4 lantai berbiaya sewa terjangkau. Fasilitas yang tersedia meliputi unit hunian Tipe 27 yang dilengkapi sirkulasi ventilasi dan sanitasi dasar, ruang komersial, area bersama untuk aktivitas penghuni, serta ruang pengelolaan untuk melayani kebutuhan administrasi.
11. Rusunawa Kodam III Siliwangi
Melansir dari jurnal karya Ardhiana Muhsin, Oky Septiariani Permadi, Nadya Olga Saraswati, dan Gita Purwita Sari yang berjudul "Prasarana Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Serta Pengaruhnya terhadap Perancangan Rumah Susun" 2017, Rusunawa Kodam III Siliwangi berlokasi di kawasan Kodam III/Siliwangi, Bandung, dengan markas utama Kodam terletak di Jalan Aceh Nomor 69.
Hunian dinas ini diperuntukkan khusus bagi personel TNI AD beserta keluarganya yang bertugas di lingkungan Kodam III/Siliwangi. Bangunan rusunawa ini terdiri dari enam lantai dengan total 96 unit hunian, di mana setiap lantainya menampung 16 unit.
Fasilitas pendukung yang tersedia disesuaikan dengan kebutuhan kawasan militer, mencakup area parkir, ruang pengelola, serta akses ke berbagai fasilitas di lingkungan Rindam III/Siliwangi seperti aula, GOR, dan kolam renang.
12. Rusunawa DENMADAM III Siliwangi
Mengutip dari beberapa sumber, Rusunawa DENMADAM III Siliwangi berlokasi di Jalan Papanggungan Nomor 7, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung.
Rumah susun ini berada di bawah naungan Detasemen Markas Kodam (Denmadam) III/Siliwangi dan berfungsi khusus sebagai hunian dinas bagi personel TNI AD beserta keluarganya. Fasilitas yang tercatat mencakup sistem keamanan kawasan serta area parkir bagi para penghuni.
