Film Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu film yang banyak dibicarakan bulan ini. Tayang di bioskop sejak 8 Oktober 2026, film ini mengangkat kisah perjalanan penyintas kekerasan seksual untuk kembali hidup di tengah masyarakat yang penuh stigma.
Tokoh Raras, seorang anak perempuan tuli, digambarkan menjadi salah satu korban kekerasan seksual di film tersebut. Adegan saat Raras berupaya membuat laporan di kantor polisi merupakan salah satu momen paling intens yang berhasil menyentuh emosi penonton.
Didampingi sang ibu dan Pertiwi yang membantunya berkomunikasi melalui bahasa isyarat, Raras berusaha mengungkapkan kronologi kekerasan seksual yang dialaminya bersama sang adik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emosi Raras yang menggebu-gebu saat menyampaikan kesaksian dengan segala keterbatasannya terasa begitu nyata. Kekecewaan sang ibu, hingga suasana frustrasi ketika mereka berusaha mengungkapkan pengalaman traumatis tergambar melalui ekspresi para pemerannya.
Adegan tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan penyintas kekerasan seksual untuk mendapatkan keadilan dapat menjadi semakin kompleks ketika mereka juga menghadapi hambatan komunikasi.
Empat Musim Pertiwi sendiri bercerita tentang Pertiwi (Putri Marino), perempuan yang kembali ke kampung halamannya di kawasan Pegunungan Tengger, Jawa Timur, setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun karena membunuh seorang pria saat berusaha membela diri dari kekerasan seksual.
Kepulangannya justru disambut penolakan, termasuk dari keluarganya sendiri. Dalam perjalanan menyusuri kampung halaman, Pertiwi kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya dan menemukan berbagai persoalan sosial yang masih mengakar.
Ia bertemu Mak Ira (Christine Hakim), mantan pekerja seks yang hidup dalam keterasingan, serta Kuntet (Dwika Pradnyana), penyandang disabilitas yang dipasung karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Pengalaman tersebut mendorong Pertiwi membangun rumah aman bagi orang-orang yang mengalami penolakan serupa.
Namun, upayanya menghadirkan tempat tinggal yang lebih layak tidak berjalan mudah. Pertiwi harus menghadapi stigma masyarakat yang terus meminggirkan orang-orang yang dianggap berbeda.
Soroti Kompleksitas Kekerasan Seksual terhadap Difabel
Persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan difabel menjadi salah satu isu yang disorot dalam Empat Musim Pertiwi. Sutradara sekaligus penulis naskah Empat Musim Pertiwi, Kamila Andini, mengatakan, kompleksitas persoalan tersebut masih jarang disadari.
"Tingkat kekerasan terhadap teman-teman difabel masih sangat tinggi dan lebih kompleks dari konflik kita," ungkap Kamila selepas screening film di CGV BEC Bandung, Minggu (11/10/2026).
Melalui karakter Raras, film ini menggambarkan tantangan yang dapat dihadapi penyintas difabel ketika mengalami kekerasan, termasuk hambatan komunikasi dan kebutuhan pendampingan khusus saat berupaya mengungkapkan pengalaman traumatik tersebut.
"Masalah ini perlu sekali untuk disentuh dan disadari," jelas Kamila.
Dalam proses pemilihan pemeran Raras, Kamila mengaku melihat kemampuan akting yang istimewa dari Hanna Aretha. Ia menilai penampilan Hanna terasa natural sehingga tidak ragu memilihnya untuk terlibat dalam film.
"Sejak awal melihat casting Hana itu luar biasa, talentanya sangat natural. Ia juga aktif di teater, jadi tidak ragu untuk memilih dia," ungkap Kamila.
Hanna sendiri mengungkapkan bahwa kesempatan tersebut datang secara tidak terduga. Ia dihubungi oleh ketua komunitas tuli yang menyampaikan adanya tawaran untuk mengikuti casting film.
"Awal itu aku tiba-tiba ditanya sama ketua komunitas tuli, ada film yang meminta Hanna untuk kirim video acting," ujar Hanna.
Setelah mengirimkan video, Hana kemudian dipanggil untuk mengikuti casting. Ia kembali diminta datang ke Forka beberapa hari kemudian sebelum akhirnya dinyatakan lolos.
Latar Perjuangan Pengesahan RUU TPKS
Kamila menuturkan, gagasan Empat Musim Pertiwi muncul pada 2017 ketika dirinya mengunjungi kawasan Bromo, Jawa Timur.
Ia menjelaskan bahwa Bromo menjadi salah satu tempat yang memberinya inspirasi visual. Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan cerita tentang kehidupan perempuan dan berbagai persoalan yang mereka hadapi.
"Bromo itu salah satu tempat di Indonesia yang bisa merasakan empat musim di satu waktu dan satu ruang. Dari sana jadi kepikiran bikin (film) soal kehidupan perempuan juga," ujarnya.
Pada masa itu, perjuangan pengesahan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) juga masih berlangsung. Kamila mengaku merasa frustrasi melihat perjuangan panjang para aktivis untuk mendorong pengesahan aturan tersebut.
"Dan saat itu juga kita masih berusaha sahkan RUU TPKS, padahal perjuangan teman-teman aktivis sudah panjang. Jadi cukup frustrated juga melihat kondisi itu. Jadi ide ini muncul di momen-momen itu," katanya.
RUU TPKS yang ketika itu masih diperjuangkan kini telah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Meski demikian, persoalan yang diangkat film ini tetap relevan untuk melihat tantangan perlindungan penyintas kekerasan seksual, serta stigma masyarakat yang kerap muncul melabeli mereka.
Bagi Kamila, film merupakan salah satu cara untuk memahami dunia dan mengolah pertanyaan yang muncul dari pengalamannya sebagai perempuan.
"Film bagi saya adalah cara bagaimana memahami dunia bekerja. Apalagi sebagai perempuan, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan proses bikin film itu bagi saya adalah jalan untuk membebaskan pikiran sendiri," ujar Kamila.
Ia mengatakan, karakter perempuan kerap menjadi pusat cerita dalam film-filmnya karena ia merasa dapat memahami pengalaman eksternal sekaligus pergulatan batin karakter tersebut dengan lebih terperinci.
"Selama ini kenapa karakter perempuan karena saya bisa relate, bukan cuma dunia eksternal tapi internalnya bisa saya pahami lebih detail kalau karakternya perempuan," katanya.
Ia menilai proses pembuatan film memberinya ruang untuk memahami persoalan secara lebih mendalam, termasuk menentukan sudut pandang dan keberpihakan terhadap isu yang diangkat.
"Tapi makin sini makin mendalami jadi punya banyak pertanyaan, standpoint saya seperti apa, bagaimana cara saya memandang suatu masalah dan bagaimana cara saya berpihak," ujarnya.
Hadirkan Unsur Fantasi dan Supranatural
Kamila menyebut Empat Musim Pertiwi sebagai film dengan genre suspense drama. Meski demikian, film ini memadukan beberapa genre, termasuk fantasi, realisme, dan supranatural.
"Sebenarnya genre-nya kami sebut suspense drama, tapi memang filmnya mix genre. Kami berusaha enggak kasih batasan-batasan genre dalam film ini. Ada fantasinya, realism dan supranaturalnya, tapi semua dibungkus suspense drama," kata Kamila.
Ia menjelaskan bahwa unsur surealis dan misteri sebenarnya juga muncul dalam film-film sebelumnya. Kali ini, ia ingin mengeksplorasi cara bercerita yang lebih leluasa tanpa terpaku pada batasan genre tertentu.
"Kalau ikuti film-film saya sebelumnya, mix genre itu muncul tanpa disengaja. Ada scene-scene surealis dan misteri itu selalu muncul. Sekarang ingin coba keluar dari batasan-batasan genre itu," ujarnya.
Nuansa suspense dalam film ini turut dibangun melalui scoring yang digarap Bottlesmoker, musisi elektronik asal Bandung. Musik latar yang intens memperkuat ketegangan di sejumlah adegan, termasuk ketika karakter berhadapan dengan situasi yang menekan.
Pesan penting yang berupaya dibawa Empat Musim Pertiwi berhasil membuat film tersebut mendapat sambutan di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 sebelum tayang di bioskop Indonesia. Dalam festival itu, Putri Marino meraih Face of Asia Awards dari Marie Claire Korea Selatan.
Putri juga masuk nominasi Best Performance di Singapore International Film Festival 2026. Tak hanya itu, Empat Musim Pertiwi kini turut terpilih dalam proses seleksi untuk mewakili Indonesia menuju Academy Awards atau Oscar 2027.
Simak Video "Video: Bebas Bersyarat Mas Bechi Dicabut, 6 Petugas Diperiksa"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
