Bagi sebagian orang, berjalan kaki di trotoar mungkin perkara sederhana. Tinggal melangkah, memperhatikan jalan di depan, lalu menghindari setiap penghalang yang muncul. Namun, situasinya berbeda bagi penyandang tunanetra.
Trotoar yang seharusnya menjadi jalur aman pejalan kaki bisa berubah menjadi ruang penuh tantangan. Pedagang yang menggunakan badan trotoar, kendaraan yang parkir sembarangan, lubang di jalan, hingga benda yang menggantung menjadi ancaman yang tidak selalu bisa dikenali hanya dengan mengandalkan tongkat.
Persoalan itulah yang kemudian menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Pendidikan Pendidikan Indonesia (UPI). Mereka adalah Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari persoalan tersebut lahirlah Netravest, sebuah prototipe rompi navigasi cerdas berbasis sensor fusion, computer vision, dan LIDAR yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali berbagai objek di sekitarnya.
Nama Netravest sendiri memiliki makna sederhana. Netra berarti melihat, sementara vest berarti rompi. Najwa Adistia Nisrina menjelaskan, Netravest dirancang agar penyandang tunanetra seolah-olah memiliki kemampuan untuk melihat objek di hadapannya.
"Jadi Netravest itu, Netra itu artinya melihat dan Vest itu rompi. Jadi memang Netravest ini dibuat merupakan prototipe yang dirancang untuk membantu tuna netra seolah-olah melihat," kata Najwa saat berbincang dengan detikJabar, Selasa (8/9/2026).
Netravest (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar). |
Ide tersebut tidak lahir semata-mata dari meja laboratorium. Kelima mahasiswa itu terlebih dahulu berdiskusi dan berbicara langsung dengan teman-teman tunanetra untuk memahami persoalan yang benar-benar mereka hadapi ketika melakukan mobilitas.
Mereka menemukan satu hal penting di mana tongkat yang biasa digunakan, bukan sesuatu yang ingin mereka gantikan. Tongkat merupakan identitas sekaligus alat bantu utama bagi penyandang tunanetra. Karena itu, Netravest tidak dirancang untuk mengambil alih fungsi tongkat tersebut.
Sebaliknya, teknologi yang mereka bangun dimaksudkan untuk melengkapi kemampuan pengguna ketika berjalan.
"Jadi adanya masalah dan kondisi seperti ini akhirnya kita mencoba untuk berdiskusi dan berwawancara dengan para tuna netra untuk mengetahui sebenarnya kebutuhan mereka tuh untuk melakukan mobilitas seperti apa," ujar Najwa.
Dari percakapan tersebut, mereka mengetahui salah satu kekhawatiran terbesar penyandang tunanetra ketika berada di jalan yakni keberadaan objek yang tidak bisa terdeteksi hanya lewat tongkat.
"Dan menjawab dari permasalahan tersebut, mereka bilang kalau misalnya mereka ketakutan apabila adanya lubang ataupun misalnya objek-objek di depannya yang kadang suka tidak bisa terdeteksi oleh tongkat," katanya.
Masalah itu kemudian diterjemahkan menjadi sebuah sistem yang tidak hanya mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna, tetapi juga melihat rintangan pada posisi yang selama ini sulit dijangkau oleh tongkat.
"Jadi akhirnya kita membuat si kamera ini bisa mendeteksi objek yang di bawah, baik lubang dan juga di atas gitu untuk misalnya ada banner atau palang agar mereka tetap aman gitu saat melakukan mobilitas di jalan," ujar Najwa.
Bukan Sekadar Rompi
Netravest bekerja dengan memanfaatkan kamera untuk mendeteksi objek ketika rompi dinyalakan. Informasi yang diperoleh kemudian disampaikan kepada pengguna melalui suara.
Namun, suara tersebut tidak dikeluarkan melalui earphone* biasa yang menutup telinga. Tim memilih menggunakan *bone conduction, sehingga pengguna tetap dapat mendengar suara dari lingkungan sekitar. Sistem itu kemudian diperkuat dengan umpan balik berupa getaran.
"Jadi nanti ketika dinyalakan si Netravest ini tuh akan mendeteksi objek lewat kameranya. Terus kemudian ada output audio dari earphone yang bentuknya bone conduction. Jadi yang bentuknya nggak masuk ke dalam telinga supaya mereka masih bisa mendengar suara-suara dari lingkungan sekitar," jelas Najwa.
"Sudah mendapatkan feedback audio, mereka juga akan mendapatkan feedback getaran gitu. Jadi di belakang rompi ada getarannya gitu," sambungnya.
Teknologi yang dibangun kelima mahasiswa tersebut juga tidak berhenti pada kemampuan mendeteksi rintangan. Mereka mengembangkan sistem AI pendeteksi objek berbasis YOLOv8n dengan lebih dari 30.000 dataset dan lebih dari 20 kelas objek rintangan yang dapat ditemukan di jalan.
Ada pula fitur untuk mengenali nominal mata uang rupiah. Fitur ini ditujukan agar pengguna dapat melakukan transaksi secara lebih mandiri tanpa selalu bergantung kepada orang lain ketika harus mengenali uang yang diterimanya.
Netravest juga dilengkapi aplikasi pendamping yang memungkinkan pengguna dipantau secara real-time oleh keluarga maupun pendamping.
Fitur keselamatan turut menjadi perhatian. Tombol SOS tersedia pada rompi dan aplikasi sehingga dapat digunakan ketika pengguna mengalami kondisi darurat, seperti terjatuh atau mengalami kecelakaan saat melakukan mobilitas.
"Selain itu ada bentuk aplikasinya. Jadi aplikasinya bisa mereka gunakan untuk membaca buku panduan dan juga ada fitur SOS. Jadi ada misalnya ketika tuna netra itu jatuh atau mengalami kecelakaan ketika mobilitas, ada fitur tombol SOS di rompinya dan juga di aplikasinya untuk menghubungi orang-orang yang mereka percaya dan juga kontak-kontak darurat seperti polisi dan ambulans seperti itu," tuturnya.
Dibangun Sejak Juni
Proses pengembangan Netravest dimulai pada Juni 2026. Sebelumnya, pada Mei, kelima mahasiswa tersebut mendapat pengumuman terkait Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang kemudian menjadi ruang bagi mereka untuk mengembangkan gagasan tersebut.
Rompi Netravest sendiri telah selesai dibuat pada akhir Juli. Namun, pekerjaan mereka belum berhenti. Sepanjang Agustus hingga sekarang, prototipe tersebut masih melalui proses pemantauan dan uji coba untuk melihat bagian mana yang perlu diperbaiki. Sebab, bagi mereka, Netravest belum bisa disebut sebagai produk akhir.
Hanif Muzaffar Gunawan mengatakan masih banyak aspek yang perlu dikembangkan, terutama karena Netravest yang dibuat dalam program PKM tersebut memang masih berada pada tahap prototipe.
"Kalau dibilang udah selesai atau belum, sebenarnya masih banyak lagi perkembangannya, masih perlu dikembangkan lebih lanjut lagi. Karena memang mengingat juga lomba PKM ini kan kita di bidang KC, di mana itu luarannya prototipe. Artinya prototipe masih bisa dikembangkan lagi lebih lanjut," kata Hanif.
Salah satu pekerjaan rumah mereka adalah membuat perangkat tersebut lebih ringkas. Netravest yang ada saat ini masih memiliki ukuran perangkat yang cukup besar.
"Dari rompinya sendiri juga yang sekarang kita buat memang masih besar gitu alatnya, tapi ke depan masih banyak potensi yang bisa dioptimalisasi lagi dari mulai AI-nya sampai ke hardware-nya. Jadi harapannya nanti ke depan bisa lebih ringkas lagi dan lebih optimal lagi gitu ke depannya mungkin gitu," pungkasnya.
Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

