Berbagai teks dan film telah mencoba mengisahkan peristiwa ini. Sebuah peristiwa yang bertalian dengan tradisi menyusui bayi-bayi di kota kepada perempuan pedalaman di Arab. Masa ini juga dialami oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau baru dilahirkan.
Memberi susuan kepada bayi-bayi di kota selain mengandung imbalan bagi ibu susu, juga melahirkan konsekuensi 'kekeluargaan' yang di kemudian hari dalam Islam dikenal sebagai 'radha'ah' atau saudara sepersusuan.
Nabi Muhammad SAW saat itu agak sulit mendapatkan ibu susuan karena alasan ekonomi. Keadaannya yang yatim membuat para ibu susu yang datang ke kota Makkah ketika itu enggan menghampiri Aminah, sang ibu. Ketiadaan sosok ayah berarti ketiadaan pelindung, yang berarti juga ketiadaan orang yang akan membayar jasa mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, dengan izin Allah SWT, seorang perempuan bernama Halimah Sa'diyah, yang miskin dan air susunya tidak banyak, bersedia menyusui bayi Muhammad SAW. Di sini, keajaiban datang. Anugerah dirasakan seketika oleh Halimah. Keadaan serba kekurangan kini berbalik menjadi serba sejahtera. Bagaimana kisahnya? Simak yuk!
Halimah yang Merasakan Berkah Sejak Gendongan Pertama
Sejak pertama kali menggendong bayi Muhammad SAW, Halimah Sa'diyah merasakan sesuatu yang berbeda. Perempuan dari Bani Sa'ad bin Bakar itu semula datang ke Makkah untuk mencari bayi yang bisa disusuinya. Namun, tak disangka, keputusan menerima seorang bayi yatim justru menjadi awal datangnya berbagai keberkahan dalam kehidupan keluarganya.
Dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, sebagaimana dilansir detikEdu, ada riwayat dari Abdullah bin Ja'far. Saat itu, Halimah binti Al-Harits datang ke Makkah bersama rombongan perempuan Bani Sa'ad bin Bakar. Mereka hendak mencari bayi dari keluarga Makkah untuk disusui.
Namun, ketika bayi Muhammad ditawarkan kepada para perempuan tersebut, tidak seorang pun bersedia menerimanya. Statusnya sebagai anak yatim menjadi salah satu alasan mereka enggan mengambilnya. Mereka berharap mendapatkan bayi dari keluarga yang memiliki ayah sehingga memperoleh imbalan yang pantas.
Meski demikian, Sayyidah Aminah sebagai ibu Nabi tetap memperlakukan rombongan tersebut dengan baik. Sementara para ibu susu lainnya akhirnya mendapatkan bayi yang akan mereka bawa pulang, Halimah justru belum memperoleh satu pun.
Tak ingin pulang dengan tangan kosong, Halimah kemudian kembali menemui keluarga Aminah. Ia memutuskan menerima Muhammad kecil untuk disusui.
Kepada suaminya, Halimah berkata, "Demi Allah, aku akan mengambil bayi yatim dari Bani Abdul Muthalib ini. Semoga melalui dia Allah akan melimpahkan kebaikan kepada kami. Aku tidak ingin kembali pulang bersama teman-temanku tanpa membawa bayi."
Sang suami menyetujui keputusan tersebut. Halimah kemudian menggendong Muhammad kecil.
Air Susu yang Kering Tiba-tiba Melimpah
Kisah ini bertutur tentang berkah yang dirasakan Halimah. Saat itu, sebuah peristiwa yang membuatnya terkesan terjadi. Air susunya yang sebelumnya tidak banyak tiba-tiba mengalir deras.
Halimah segera menyusui Muhammad, kemudian memberikan susu tersebut kepada anaknya sendiri. Keduanya pun dapat menyusu hingga kenyang.
Keberkahan itu kemudian kembali terlihat ketika suami Halimah mendatangi unta betina milik mereka. Unta yang sebelumnya tidak banyak menghasilkan susu-bahkan sempat terpikir untuk dijual karena pemiliknya putus asa-tiba-tiba mengeluarkan susu dalam jumlah melimpah.
Sang suami pun merasa takjub. Ia berkata kepada Halimah, "Wahai Halimah, demi Allah kita benar-benar mendapatkan bayi yang diberkahi. Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada kita sebelum kita meminta."
Malam itu, keluarga Halimah dapat beristirahat dengan tenang dalam keadaan kenyang. Keesokan harinya, mereka bersama rombongan bersiap kembali ke kampung halaman.
Halimah menaiki seekor keledai berwarna abu-abu sambil menggendong Muhammad. Dalam perjalanan, terjadi hal yang kembali membuatnya heran. Keledai yang ditungganginya justru berjalan cepat hingga mampu mendahului rombongan lainnya.
Padahal, sebelum perjalanan tersebut, keledai itu berada dalam kondisi lemah dan terluka. Kini, hewan tersebut justru mampu melaju dengan cepat sepanjang perjalanan.
Keadaan Berubah Total
Sesampainya di kampung halaman, keberkahan yang dirasakan Halimah dan keluarganya belum berhenti. Kehidupan mereka perlahan menjadi lebih baik. Dalam sumber lain dikatakan, hujan turun ke kampung itu dan menumbuhkan rerumputan. Dengan begitu, hewan-hewan ternak yang mereka miliki hidup dengan lebih gemuk dan sehat.
Setiap hari, ternak milik keluarga Halimah pergi ke ladang-ladang rumput dan kembali ke kandang dalam keadaan kenyang.
Kocap tercerita, kondisi itu berbeda dengan ternak milik keluarga lain dari Bani Sa'ad yang tetap kurus dan tidak mendapatkan makanan sebanyak ternak Halimah.
Bukan hanya kondisi ternak yang berubah. Kambing-kambing milik Halimah juga menghasilkan susu lebih banyak. Ia dapat memerah susu dalam jumlah melimpah dan mengonsumsinya bersama keluarganya.
Perubahan tersebut akhirnya menjadi perhatian warga sekitar. Mereka mulai membicarakan keadaan ternak Halimah yang tampak berbeda dibandingkan ternak milik keluarga lainnya.
Bagi Halimah Sa'diyah, semua itu menjadi rangkaian peristiwa yang ia saksikan sejak menerima Muhammad kecil sebagai bayi susuannya.
(iqk/iqk)
