Infografis: Daftar 32 Nama Anak Hewan Sunda, dari Begu hingga Eneng

Infografis: Daftar 32 Nama Anak Hewan Sunda, dari Begu hingga Eneng

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 16 Agu 2026 10:00 WIB
Ilustrasi Hewan Kurban Sapi
Infografis daftar nama anak hewan bahasa Sunda (Foto: Notebook LM)
Bandung -

Pernahkah Anda mendengar istilah 'Begu' atau 'Menel'? Bagi masyarakat perkotaan saat ini, istilah-istilah tersebut mungkin terdengar asing. Padahal, dalam kekayaan Bahasa Sunda, setiap anak hewan memiliki sebutan unik yang membedakannya dengan hewan dewasa.

Sayangnya, seiring perubahan gaya hidup, kekayaan kosakata ini mulai luntur. "Nama-nama hewan di Sunda ini mungkin sudah jarang disebut-sebut di wilayah perkotaan," tulis laporan yang dikutip dari sumber budaya lokal. Hal ini terjadi karena pola pekerjaan masyarakat yang kini semakin menjauh dari dunia pertanian dan peternakan.

Jejak Budaya dan Kegagahan dalam Nama Hewan

Dalam tradisi masyarakat Jawa Barat, hewan bukan sekadar makhluk hidup, melainkan simbol kekuatan. Dalam bahasa Sunda, hewan disebut sebagai 'sato'. Menariknya, nama-nama hewan yang gagah seringkali disematkan sebagai nama tokoh besar atau bangsawan dalam cerita rakyat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebut saja Mundinglaya Dikusumah yang mengambil kata 'Munding' (kerbau) untuk melambangkan sosok yang besar, kuat, dan bertenaga. Ada juga kisah Badak Pamalang hingga tokoh Gagak Lumayung dalam naskah wawacan. Kedekatan ini membuktikan bahwa sejak dulu, masyarakat Sunda telah hidup berdampingan secara natural dengan alam dan binatang.

Daftar 32 Nama Anak Hewan dalam Bahasa Sunda

Berdasarkan buku Peperenian (Kandaga, Unak-anik, Rusiah Basa Sunda) karya Drs. Ahmad Hadi, dkk. (1991), berikut adalah daftar lengkap nama anak hewan yang perlu Anda ketahui agar tidak salah sebut:

ADVERTISEMENT

Anak Hewan Peliharaan dan Ternak

1. Anak anjing : Kicik atau Kirik
2. Anak bagong (babi hutan) : Begu
3. Anak bandeng : Nanar
4. Anak banteng : Bangkanang
5. Anak bangbung (kumbang) : Kuuk
6. Anak bangkong (katak) : Buruy
7. Anak belut : Kuntit
8. Anak bogo (gabus) : Cingok
9. Anak boncel : Bayong
10. Anak buhaya (buaya) : Bocokok
11. Anak deleg : Boncel/kocolan/kokocolan
12. Anak entog (bebek) : Titit
13. Anak embe (kambing) : Ceme
14. Anak gajah : Menel
15. Anak hayam (ayam) : Ciak/pitik
16. Anak japati (merpati) : Piyik
17. Anak kancra (ikan kancra) : Badal
18. Anak keuyeup (kepiting) : Bonceret
19. Anak kuda : Belo
20. Anak kukupu (kupu-kupu) : Hileud
21. Anak kutu : Kuar
22. Anak lancah : Aom
23. Anak lauk : Kebul/burayak
24. Anak lele : Nanahaon
25. Anak lubang : Leungli
26. Anak maung (harimau) : Juag/aum
27. Anak meri : Titit
28. Anak monyet : Begog
29. Anak munding (kerbau) : Eneng
30. Anak reungit (nyamuk) : Utek-utek
31. Anak sapi : Pedet
32. Anak ucing : Bilatung

Pentingnya Melestarikan Istilah Lokal

Bagi masyarakat yang tinggal di perbatasan hutan, istilah seperti 'Bagong' masih sangat akrab karena mereka harus berjaga agar kebun tidak dirusak. Namun, bagi orang kantoran, istilah ini mungkin hampir punah dari ingatan.

Mengenal kembali nama-nama anak hewan ini bukan sekadar urusan komunikasi, melainkan upaya menjaga identitas budaya Sunda yang kaya akan detail dan filosofi alam. Jadi, wargi Jabar, sudah tahu kan sekarang kalau anak harimau itu namanya Juag?

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads