Cara Membangunkan Orang Tidur untuk Salat

Cara Membangunkan Orang Tidur untuk Salat

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 05:04 WIB
Beautiful Asian muslim young woman sleeping - relaxing on the bed during the day. Cozy and relaxing lifestyle of modern muslim woman concept.
Ilustrasi tidur (Foto: Getty Images/golfcphoto)
Bandung -

Membangunkan seseorang untuk melaksanakan salat perlu dilakukan dengan cara yang baik dan penuh kelembutan. Terlebih ketika orang tersebut sedang tertidur, pendekatan yang digunakan sebaiknya tidak membuatnya kaget, tersinggung, atau merasa dipaksa.

Lantas, bagaimana langkah yang tepat untuk membangunkan orang tidur agar melaksanakan salat? Apa saja adab yang perlu diperhatikan ketika mengingatkan seseorang untuk beribadah?

Berikut beberapa panduan membangunkan orang untuk salat sesuai tuntunan Islam, mulai dari cara mengingatkan dengan santun hingga memahami kondisi orang yang sedang tidur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perintah untuk Menyuruh Salat

Perintah untuk saling mengingatkan agar setiap muslim melaksanakan salat sudah tercantum di dalam Al-Qur'an. Kitab suci itu memberi isyarat untuk tolong-menolong di dalam kebaikan dan ketakwaan.

Termasuk dalam hal ini adalah saling mengingatkan untuk melaksanakan salat. Tetapi, itu untuk sesama muslim. Khusus bagi yang punya pertalian keluarga, ada keharusan 'menyuruh' salat kepada anggota keluarganya.

ADVERTISEMENT

Hal ini sebagaimana dicantumkan dalam Surah Taha ayat 132 yang memuat perintah agar menyuruh salat kepada anggota keluarga.

ΩˆΩŽΨ£Ω’Ω…ΩΨ±Ω’ Ψ§ΩŽΩ‡Ω’Ω„ΩŽΩƒΩŽ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩŽΩ„Ω°ΩˆΨ©Ω ΩˆΩŽΨ§Ψ΅Ω’Ψ·ΩŽΨ¨ΩΨ±Ω’ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡ΩŽΨ§Ϋ— Ω„ΩŽΨ§ Ω†ΩŽΨ³Ω’Ω€Ω”ΩŽΩ„ΩΩƒΩŽ رِزْقًاۗ Ω†ΩŽΨ­Ω’Ω†Ω Ω†ΩŽΨ±Ω’Ψ²ΩΩ‚ΩΩƒΩŽΫ— ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨ§Ω‚ΩΨ¨ΩŽΨ©Ω لِلΨͺΩ‘ΩŽΩ‚Ω’ΩˆΩ°Ω‰ ۝ّ٣ْ

"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa."

Dalam hal ini, seorang ibu Muslimah menyuruh anaknya untuk melaksanakan salat adalah sebuah kewajaran, karena itu sesuai dengan perintah.

Namun, membangunkan orang yang tidur perlu tata krama. Membangunkan anggota keluarga yang tengah tertidur untuk salat, harus dengan lemah lembut supaya tidak syok dan tersinggung.

Cara Membangunkan yang Tidak Memaksa

Detikers, jika Anda membaca buku Fiqhud Da'wah yang merupakan kumpulan tulisan-tulisan M. Natsir, akan terdapat pandangan pemikir Islam Indonesia itu tentang keimanan yang lahir tanpa tekanan.

Seseorang tidak boleh memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu, sebab pemaksaan hanya akan melahirkan kemunafikan. Keimanan yang kuat hanya bisa tumbuh dalam nuansa tanpa tekanan. Termasuk juga ketika 'dakwah' atau mengajak orang yang tidur untuk salat. Sangat perlu dengan santun.

"Iman seseorang hanya dapat ditumbuhkan dalam suasana bebas, sunyi daripada tekanan dan paksaan. Memang sudah begitu pembawaan fithrah manusia. Hati bila dipaksa jadi buta." tulis M. Natsir dalam Fiqhud Da'wah hal. 123 (1989).

Orang Tidur Tidak Dicatat Amalnya

Orang yang tidur tidak dikategorikan sebagai orang-orang yang dicatat amalnya. Sebab, dia merupakan orang yang akalnya sedang tidak berfungsi. Sementara, syarat orang melaksanakan perintah agama adalah dua: Akil atau berakal dan baligh.

Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa orang yang tidur itu tidak dicatat amalnya, maksudnya tidak punya beban syariat. Catatan amalnya mulai aktif lagi ketika dia terbangun.

"Dari Aisyah, dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda: Diangkat pena (tidak dikenakan dosa) atas tiga kelompok: Orang tidur hingga bangun, anak kecil hingga mimpi basah dan orang gila hingga berakal" [HR Ahmad, Addarimi dan Ibnu Khuzaimah]

Dalam hal ini, sejatinya harus diterapkan kebijaksanaan dalam bersikap. Orang-orang yang tidur perlu sadar bahwa jika ada yang membangunkan untuk salat, memang dianjurkan demikian. Ada perintah menyuruh salat. Namun, bagi yang membangunkan, tidak memaksa agar orang yang tidur bangun.

Pendapat Para Ulama Tentang Membangunkan Orang Tidur untuk Salat

Dikutip dari laman NU Online Lampung, dikatakan bahwa kebijaksanaan orang yang membangunkan tidur seseorang yang belum salat harus didasari ukuran apakah awal tidur seseorang sudah masuk waktu salat atau sebelum waktu salat tiba.

Laman itu mengutip pendapat Sulaiman Al-Jamal dalam Hasyiyatul Jamal, bahwa hukum membangunkan seseorang yang sedang tidur untuk melaksanakan salat dapat berbeda, tergantung pada keadaan orang tersebut.

Jika seseorang sengaja tidur setelah masuk waktu salat, sementara ia tidak memiliki keyakinan bahwa dirinya akan terbangun sebelum waktu salat berakhir, maka orang yang mengetahui keadaan tersebut wajib membangunkannya. Namun, kewajiban tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak mengetahui kondisi tidurnya.

Secara umum, hukum membangunkan orang yang tertidur untuk salat terbagi menjadi dua, yakni wajib dan sunnah. Hukumnya menjadi wajib apabila orang tersebut tidur setelah masuk waktu salat dalam keadaan yang berpotensi membuatnya melewatkan salat.

Pandangan ini antara lain didasarkan pada penjelasan As-Suyuthi mengenai kewajiban amar makruf nahi mungkar. Seseorang yang sengaja tidur setelah masuk waktu salat, padahal ia telah memiliki kewajiban untuk melaksanakannya, dinilai telah melakukan perbuatan maksiat apabila tidurnya menyebabkan kewajiban tersebut ditinggalkan.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads