Di tengah ribuan orang yang berhasil menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Tahun Ajaran 2026/2027, nama Kevin Sitanggang mendadak jadi sorotan. Pasalnya, ia yang kini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) tersebut memiliki hal yang tidak biasa.
Sorak sorai dan decak kagum ribuan mahasiswa memeriahkan aula Sasana Budaya Ganesha Bandung, Selasa (5/8/2026) ketika nama Kevin diumumkan sebagai mahasiswa termuda ITB tahun ini. Pada layar utama yang dipasang di tengah acara Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) ITB, tertulis bahwa Kevin baru berusia 15 tahun.
"Sebenarnya belum genap 15 tahun sih, karena ulang tahun saya ke-15 baru di tanggal 22 Agustus nanti," ungkap Kevin pada detikJabar ketika ditemui selepas sidang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Remaja asal Bandung ini mengaku perjalanan akademiknya berbeda dengan kebanyakan pelajar seusianya. Titel mahasiswa termuda berhasil ia raih karena jenjang Sekolah Dasar sudah ia cicipi lebih cepat dibanding anak-anak lain. Tak hanya itu, ia pun lulus lebih cepat dibanding sebayanya.
"Saya masuk SD itu di usia kurang dari lima tahun, dan hanya sekolah SD selama empat tahun karena ikut akselerasi," paparnya.
Kevin bercerita, keputusan mengikuti program akselerasi bukan berasal dari keinginannya sendiri. Sang ayah, yang merupakan alumni ITB Jurusan Teknik Pertambangan, melihat potensi akademiknya sejak kecil.
"Beliau punya prinsip yang cukup kuat soal pendidikan. Beliau merasa saya bisa belajar lebih cepat, jadi kenapa harus mengikuti ritme yang sama dengan yang lain," katanya.
Kevin mengaku awalnya tidak setuju mengikuti akselerasi karena membayangkan beban belajar yang jauh lebih berat dibanding teman-teman seusianya. Namun, keputusan itu tetap dijalankan oleh orang tuanya.
"Sebenarnya saya enggak mau akselerasi karena pasti bebannya berat. Tapi ayah saya tetap mendorong saya. Akhirnya SD saya selesai dalam empat tahun," ujarnya.
Karena menyelesaikan SD lebih singkat, Kevin juga mengawali pendidikan formal di usia yang lebih muda dibanding rata-rata anak Indonesia. Ia bersekolah di salah satu SD negeri di kawasan Bandung Kulon sebelum melanjutkan pendidikan SMP di Kota Cimahi dan SMA Negeri 13 Bandung.
Meski menempuh SD melalui akselerasi, Kevin mengatakan pendidikan SMP dan SMA dijalani secara normal. Namun, usianya tetap menjadi yang paling muda hampir di setiap jenjang pendidikan.
"SMP dan SMA normal, tapi karena SD saya lebih cepat, akhirnya saya selalu jadi yang paling muda di angkatan," katanya.
Kevin mengaku tidak terlalu merasa kesulitan mengikuti pelajaran meski usianya terpaut cukup jauh dari teman-temannya. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari pola belajar yang diterapkan ayahnya sejak kecil.
"Ayah saya ngajarin dengan cukup keras dan sangat terstruktur. Jadi saya sudah enggak terlalu melihat umur lagi. Yang saya lihat itu apa yang harus saya pelajari," tuturnya.
Di rumah, Kevin terbiasa mempelajari materi yang tingkat kesulitannya berada dua hingga tiga tahun di atas kurikulum sekolah. Pola tersebut telah diterapkan sejak ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
"Dari TK saya sudah diajarkan calistung ketika teman-teman masih belajar membaca. Memang dulu perjuangannya berat karena sering dimarahi, tapi sekarang saya merasa hasilnya terbayar," kenangnya.
Ia mengaku pernah mempertanyakan alasan sang ayah membuatnya mempelajari materi yang jauh lebih sulit dibanding pelajaran di sekolah. Saat itu, Kevin merasa tidak memahami tujuan di balik metode belajar tersebut.
"Saya sempat nanya, ini buat apa sih? Kenapa teman-teman masih belajar materi ini, saya sudah dipaksa belajar materi dua sampai tiga tahun di atasnya," ujarnya.
Jawaban atas pertanyaan itu baru ia rasakan ketika berhasil diterima di ITB. Kevin menyadari tekanan akademik di perguruan tinggi akan jauh lebih tinggi sehingga bekal yang diberikan ayahnya sejak kecil menjadi keuntungan tersendiri.
"Pas saya sampai di ITB, saya baru sadar ternyata tekanan belajarnya memang akan seberat itu. Baru sekarang saya paham maksud ayah saya," katanya.
Meski disiplin belajar menjadi bagian dari kesehariannya, Kevin mengatakan orang tuanya tetap memberikan ruang untuk bermain. Ia mengaku memperoleh waktu luang setelah menyelesaikan target belajar atau mengikuti kompetisi.
"Kalau saya bisa menyelesaikan lomba atau belajar dengan baik, ayah saya kasih waktu buat main. Jadi tetap ada keseimbangannya," ujarnya.
Kevin juga menuturkan bahwa budaya belajar disiplin bukan hanya diterapkan kepadanya. Kedua kakaknya juga dididik dengan pola yang sama.
Sama seperti dirinya, sang kakak pun menempuh pendidikan tinggi di usia yang lebih muda dibanding rata-rata mahasiswa.
"Kakak saya juga begitu. Yang satu kuliah di BINUS, satu lagi di Unpad. Mereka juga selalu jadi yang paling muda di angkatannya," katanya.
Selama menempuh pendidikan, Kevin aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik. Ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika saat SMA, berpartisipasi dalam kompetisi matematika di Universitas Pasundan, hingga meraih juara dalam lomba pidato Bahasa Inggris tingkat Kota Bandung.
"Saya memang sering ikut lomba. Memang belum banyak juara di kompetisi akademik besar, tapi saya terus mencoba," ujarnya.
Keberhasilan lolos SNBT 2026 membawanya mengikuti jejak sang ayah di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Kevin mengakui pilihan jurusan tersebut dipengaruhi pengalaman ayahnya yang lebih dulu berkarier di bidang pertambangan.
"Kebanyakan memang karena ayah. Beliau sudah menjalani bidang itu, jadi bisa banyak mengarahkan saya," katanya.
Meski menjadi mahasiswa di usia yang masih sangat muda, Kevin mengaku tidak terlalu memikirkan perbedaan usia dengan teman-teman kuliahnya. Baginya, tantangan akademik harus dihadapi apa adanya.
"Kalau melihat materinya susah, ya sudah hadapi saja. Enggak ada cara untuk kembali lagi," ujarnya.
Sempat Stres
Di balik pencapaian akademiknya, Kevin mengaku sempat mengalami tekanan mental akibat ritme belajar yang padat. Karena itu, ia mulai belajar menjaga kesehatan mental.
"Saya sempat stres juga. Jadi saya belajar supaya enggak menekan diri terlalu keras, tapi tetap maju," katanya.
Ia memiliki cara tersendiri untuk mengelola tekanan tersebut. Setelah belajar, Kevin memilih beribadah sebagai bentuk refleksi sekaligus menenangkan diri.
"Setiap selesai belajar saya harus ibadah. Itu cara yang paling ampuh sih buat saya untuk mengurangi stres," ujarnya.
Memasuki kehidupan sebagai mahasiswa ITB, Kevin telah menyiapkan sejumlah target. Ia ingin aktif mengikuti Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA), kompetisi sains, serta organisasi kemahasiswaan yang mendukung pengembangan akademiknya.
"Saya ingin ikut ONMIPA, ikut lomba-lomba sains, dan aktif di organisasi. Kalau UKM mungkin enggak terlalu banyak, saya ingin lebih fokus ke akademik," kata Kevin.
(yum/yum)
