2 Atlet Dry Tooling Bandung Tantang Dunia di Korea Selatan

Whisnu Pradana - detikJabar
Sabtu, 11 Jul 2026 08:00 WIB
Atlet dry tooling climbing asal Kabupaten Bandung Barat (Foto: Istimewa)
Bandung -

Adam Armandhany (29) dan Iyas Bachrul Khayat (29), menatap jalan di depan mata mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dua atlet dry tooling climbing itu bakal berlaga di ajang '2026 Dry Tooling Club Summer Festival' di Korea Selatan.

Kompetisi internasional yang berlangsung di Yongin Sport Climbing Center, Yongin-si, Gyeonggi-do, Korea Selatan pada 11-12 Juli 2026, mempertemukan atlet-atlet dry tooling climbing dari banyak negara. Terlebih, Korea Selatan merupakan kiblat olahraga yang menguras fisik tersebut.

Dry tooling climbing sebetulnya turunan dari olahraga panjat tebing pada permukaan es menggunakan peralatan khusus. Sementara pada dry tooling, permukaan yang dipanjat merupakan tebing batu tanpa es namun peralatan yang digunakan tetap sama dengan yang dipakai saat memanjat tebing es.

Adam dan Iyas didampingi oleh Tantan Kurnia, yang berperan sebagai official tim. Ketiganya sudah menginjakkan kaki di Negeri Ginseng pada Rabu, 8 Juli 2026. Adaptasi diperlukan sebelum delegasi Ibu Pertiwi akan menaklukkan ketangguhan delegasi negara lain.

"Alhamdulillah sudah sampai di Korea kemarin, sekarang sedang persiapan menjelang kompetisi. Kompetisi dimulai hari Sabtu besok sampai Minggu," kata Adam Armandhany, salah satu atlet yang bakal berlaga saat dikonfirmasi detikJabar, Jumat (10/7/2026).

Adam menceritakan ia dan Iyas bisa ikut berkompetisi pada even internasional itu berawal dari kesukaan mereka terhadap olahraga panjat tebing. Dry tooling climbing sebetulnya masih sangat baru di Indonesia, belum banyak yang melakoni olahraga tingkat lanjut dari panjat tebing.

"Kenapa bisa ikut kompetisi? Jadi awalnya saya tertarik dengan dry tooling, karena di Asia ini dry tooling baru berkembang di 3 negara yaitu Korea, Cina, dan Jepang. Dari situ, saya dan Iyas cari informasi di media sosial. Kemudian kita komunikasi dengan orang dari Korea sebagai penyelenggara kompetisi, kemudian berlanjut sampai akhirnya bisa berkompetisi," kata Adam.

Atlet dry tooling climbing asal Kabupaten Bandung Barat Foto: Istimewa

Olahraga yang masih baru ini, tentunya belum banyak punya penyokong baik dana maupun dukungan dalam bentuk lainnya. Adam dan Iyas bertolak ke Korea Selatan demi mengharumkan nama Indonesia dengan modal pribadi. Namun mereka tak menjadikan keterbatasan finansial sebagai halangan mengejar prestasi tingkat dunia.

"Ya, betul sekali, untuk anggaran kegiatan ini sangat pas-pasan. Namun berkat dorongan dari pembina dan rekan-rekan, kami sangat yakin tim ini bisa mendapatkan hasil terbaik di kompetisi dry tooling ini," ujar Adam.

Persiapan Singkat Hingga Kendala Visa

Batu sandungan yang dialami putra terbaik bangsa ini tak cuma finansial. Kendala lain menjelang keberangkatan yakni penerbitan paspor dan visa yang lagi-lagi mereka urus secara mandiri tanpa bantuan dari pemerintah.

Pengajuan visa pertama mereka ditolak pada 25 Juni 2026 karena alasan rincian tujuan kedatangan yang dinilai belum dijabarkan secara gamblang. Menolak untuk menyerah, Tantan, Adam, dan Iyas bergerak cepat dibantu oleh para pembina.

"Ada yang membantu kami dan perannya sangat krusial, yakni Mayjen (Purn) Asrobudi sebagai pembina, serta Pak Alvian Bayu selaku Atase Imigrasi di Seoul. Setelah kami melengkapi berkas yang kurang dan persyaratan lainnya, akhirnya pengajuan visa kedua akhirnya berhasil," kata official tim, Tantan Kurnia.

Persiapan yang dilewati oleh tim juga terbilang sangat kilat dan alakadarnya. Dalam waktu kurang lebih satu bulan setelah pengumuman resmi kompetisi, dua atlet yang akan berlaga dituntut maksimal dalam mempersiapkan ketahanan fisik atlet hingga kebutuhan logistik.

"Fasilitas latihan formal masih terbatas, akhirnya Adam dan Iyas ini secara mandiri mempelajari dan mendalami berbagai teknik dry tooling tingkat lanjut hanya melalui tayangan di internet dan media sosial," kata Tantan.

Kejuaraan ini menjadi tantangan besar mengingat Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara pionir dan kiblat utama untuk olahraga dry tooling climbing di Asia. Namun, menghadapi tantangan besar tersebut, ia mengaku sangat optimistis dengan performa yang akan ditunjukkan oleh tim.

"Tentunya kita harus optimis meraih hasil terbaik, jangan kalah oleh berbagai kendala dan keterbatasan. Seperti kata pembina, 'kibarkan merah putih di seluruh dunia'. Itu yang jadi pelecut semangat buat tim ini," ujar Tantan.




(yum/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork