Kenapa Dinamakan Tarwiyah dan Arafah? Ini Sejarahnya

Kenapa Dinamakan Tarwiyah dan Arafah? Ini Sejarahnya

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Selasa, 19 Mei 2026 22:30 WIB
Ornamental Arabic lantern with burning candle glowing at night. Festive greeting card, invitation for Muslim holy month Ramadan Kareem.
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Choreograph)
Bandung -

Sebagian umat Islam menjalankan anjuran berpuasa pada hari Tarwiyah dan hari Arafah. Namun, sebagian lainnya hanya menunaikan puasa pada hari Arafah saja. Kedua hari itu jatuh pada tanggal 8 dan 9 Zulhijah, yaitu dua hari sebelum hari 'Nahar' atau Iduladha yang jatuh pada tanggal 10 bulan tersebut.

Baik Tarwiyah maupun Arafah merupakan hari-hari yang bersejarah. Dari penamaan keduanya, kita bisa mengetahui asal-usul di baliknya. Ada banyak versi mengenai asal-usul hari Tarwiyah dan Arafah. Di sini, detikJabar mengulas salah satu di antaranya. Simak, yuk!

Asal-Usul Hari Tarwiyah dan Arafah

Penamaan kedua hari tersebut didasarkan pada kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapatkan mimpi. Dalam mimpi itu, beliau diperintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hari Tarwiyah

Mimpi bagi para nabi memang menjadi salah satu jalan menerima wahyu ilahi, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Ash-Shaffat. Nabi Ibrahim AS bermimpi bahwa beliau diminta untuk menyembelih putranya.

Untuk memastikan mimpi itu datang dari Allah SWT dan bukan dari iblis, Nabi Ibrahim AS merenung dan menimbang-timbang keabsahan mimpi tersebut.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari artikel berjudul 'Kisah Penamaan Tarwiyah, Arafah, dan Nahr Menurut Syekh Nawawi', disebutkan bahwa aktivitas merenung Nabi Ibrahim AS itulah yang membuat hari pada tanggal 8 Zulhijah dinamakan hari Tarwiyah. Dalam bahasa Arab, tarwiyah bisa berarti perenungan.

Hari Arafah

Nabi Ibrahim AS telah melakukan perenungan atas mimpi yang didapatkannya pada 8 Zulhijah. Ketika mendapati mimpi serupa pada malam berikutnya, beliau akhirnya yakin dan menyadari bahwa itu adalah perintah Allah SWT.

Karena Nabi Ibrahim AS mengenali perintah itu sebagai perintah ilahiah, maka hari tersebut dinamakan Arafah (dari kata arafa, ya'rifu).

Hari Nahar

Meski telah merenung dan mengetahui perintah itu datang dari Allah SWT, dalam pelaksanaan penyembelihan, Nabi Ibrahim AS tetap bertanya kepada putranya mengenai pendapat Nabi Ismail AS atas perintah tersebut.

Al-Qur'an mengisahkan bahwa tidak ada jeda antara pertanyaan Nabi Ibrahim AS dan jawaban yang disampaikan Nabi Ismail AS. Nabi Ismail AS menjawab: "Kerjakanlah apa yang diperintahkan, dan engkau akan melihatku insyaallah sebagai bagian dari orang-orang sabar".

Pada hari ketika Nabi Ismail AS telah siap disembelih, posisi beliau digantikan oleh seekor kibas atau domba yang dibawa oleh Malaikat. Dikisahkan bahwa domba itu adalah domba yang dipersembahkan Habil, putra Nabi Adam AS, dahulu kala.

Hari penyembelihan ini disebut sebagai Yaumu Nahrin atau hari Nahar, yang lebih dikenal luas sebagai hari raya Iduladha.

Anjuran Puasa Sebelum Iduladha

Pada bulan Zulhijah, sebelum memasuki tanggal 10, terdapat anjuran untuk berpuasa. Ada yang berpuasa sejak tanggal 1 sampai 7, kemudian dilanjutkan pada tanggal 8 dan 9.

Ada pula yang menunaikan puasa sunnah pada tanggal 8-9 Zulhijah saja, atau hanya pada tanggal 9 Zulhijah. Semuanya memiliki landasan dalil yang diyakini oleh masing-masing umat.

Berikut ini adalah puasa-puasa pada bulan Zulhijah sebelum Iduladha, sebagaimana dikutip dari laman Badan Amil Zakat Nasional:

1. Puasa Zulhijah (1-7 Zulhijah)

Puasa Zulhijah merupakan puasa sunnah yang dilakukan pada tujuh hari pertama bulan Zulhijah. Amalan ini sangat dianjurkan karena 10 hari pertama bulan Zulhijah termasuk waktu yang sangat dicintai Allah SWT untuk memperbanyak amal saleh.

Dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah."

2. Puasa Tarwiyah (8 Zulhijah)

Puasa Tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Zulhijah, sehari sebelum puasa Arafah. Puasa ini memiliki keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam sejumlah riwayat. Salah satunya menyebutkan bahwa pahala puasa Tarwiyah setara dengan berpuasa selama satu tahun.

3. Puasa Arafah (9 Zulhijah)

Puasa Arafah menjadi salah satu puasa sunnah yang paling dianjurkan sebelum Iduladha. Puasa ini dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah atau sehari sebelum Hari Raya Iduladha. Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."

Karena keutamaannya yang sangat besar, banyak umat Islam berlomba-lomba menjalankan puasa ini setiap tahunnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads