Kerja Akrobat Picu Burnout, Ini 3 Cara Ampuh Memulihkannya

Kerja Akrobat Picu Burnout, Ini 3 Cara Ampuh Memulihkannya

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 05:30 WIB
Stress headache, burnout and woman in office overwhelmed with workload at desk with laptop. Frustrated, overworked and tired woman with computer at startup, anxiety from deadline time pressure crisis
Ilustrasi burnout (Foto: Getty Images/PeopleImages)
Bandung -

Burnout bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di Indonesia seolah menjadi sebuah keniscayaan. Penghasilan yang statis memicu banyak orang untuk setiap hari berakrobat, mengambil lebih dari satu pekerjaan demi menyambung hidup.

Belum lagi pekerjaan utama selesai, tuntutan pekerjaan lain sudah menanti untuk segera dituntaskan. Kebiasaan ini lama-kelamaan membuat pelakunya bukan menjadi 'kebal', melainkan justru mengalami kelelahan hebat. Kondisi inilah yang disebut sebagai burnout.

Dikutip dari artikel detikJabar berjudul, "Burnout pada Gen Z: Penyebab, Tanda-Tanda, dan Cara Mengatasinya" dikatakan, istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Freudenberger pada tahun 1970-an.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada mulanya, kondisi ini identik dengan dunia kerja. Namun saat ini, mahasiswa dan pelajar pun turut rentan terpapar burnout. Pada generasi yang lebih muda, yakni Gen Z, kondisi ini semakin kompleks karena perpaduan sejumlah tekanan hidup.

Di antaranya adalah tekanan produktivitas yang tinggi, pengaruh media sosial, ketidakpastian ekonomi, serta budaya kerja berlebihan atau "kerja akrobat".

ADVERTISEMENT

Kenali Tanda Burnout

Dikutip dari artikel yang sama, terdapat sejumlah gejala yang penting untuk dikenali sejak dini sebagai upaya mencegah dampak burnout yang lebih serius.

Burnout sering muncul sebagai kondisi yang menyentuh banyak aspek dalam diri seseorang. Secara fisik, misalnya, tubuh tetap terasa lelah meski sudah beristirahat, yang kerap disertai sakit kepala, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan.

Dari sisi emosional, muncul perasaan hampa, kehilangan semangat, dan sulit merasakan kebahagiaan. Kondisi ini kemudian berkembang menjadi sikap sinis dan negatif, di mana pekerjaan terasa tidak lagi berarti dan motivasi perlahan menghilang.

Dampaknya juga terlihat pada penurunan produktivitas, seperti sulit fokus, sering melakukan kesalahan, dan hasil kerja yang merosot. Emosi pun menjadi tidak stabil, sehingga seseorang menjadi lebih mudah marah atau tersinggung oleh hal-hal kecil.

Gangguan kognitif atau brain fog juga menjadi tanda nyata burnout. Brain fog membuat pikiran sulit jernih, mudah lupa, dan lambat dalam mengambil keputusan penting.

Kontemplasi untuk Atasi Burnout

Menurut KBBI, kontemplasi memiliki arti 'merenung dan sebagainya dengan kebulatan pikiran dan perhatian penuh'. Pengertian ini memiliki kemiripan dengan konsep mindfulness.

Kontemplasi adalah salah satu cara efektif untuk mengatasi burnout. Ada banyak aktivitas yang bersifat kontemplatif. Berkontemplasi tidak melulu harus mengasingkan diri lalu duduk bersila meresapi kehidupan dalam waktu lama; aktivitas fisik pun bisa menjadi sarana kontemplasi.

Paling tidak, ada tiga cara yang bisa dilakukan sebagai bentuk kontemplasi untuk mengembalikan fokus yang hilang akibat burnout. Ketiganya bisa dilakukan sekaligus, atau cukup memilih salah satu di antaranya.

1. Olahraga Rutin

Benar kata pepatah, 'mens sana in corpore sano', jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. Maka, berolahraga secara rutin dapat mengembalikan kondisi tubuh dan mental ke level yang prima. Mentalitas akan kembali stabil dan pekerjaan pun akan kembali menggairahkan untuk dituntaskan.

Olahraga paling sederhana yang mengandung unsur kontemplasi adalah berjalan kaki. Pilihan terbaik memang berjalan kaki di sekitar area hijau atau hutan. Namun, jika pun tidak memiliki banyak waktu, menyusuri perkampungan atau gang-gang perkotaan bisa menjadi alternatif yang menarik.

Saat berjalan kaki, tubuh merasakan kesegaran baru dan pikiran akan mendapat asupan inspirasi dari hal-hal yang tertangkap mata, seperti fasad bangunan, taman kota, hingga pertemuan dengan orang-orang baru di perjalanan.

Di tempat yang lebih sunyi, saat berjalan kaki, kita bahkan dapat mendengar bunyi napas sendiri. Dalam momen itulah, biasanya terbit rasa syukur atas kehidupan yang berharga. Sikap syukur dan nrimo dapat membuat diri lebih tenang. Ini semua adalah bagian dari praktik mindfulness.

2. Uzlah

Uzlah adalah istilah dalam tasawuf untuk tindakan mengasingkan diri dan sejenak 'tidak berjumpa dengan manusia'. Nabi Muhammad SAW gemar beruzlah di Gua Hira. Di sana, beliau merenung dan memikirkan solusi untuk membenahi kondisi masyarakat di sekitarnya.

Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab tasawuf 'Al-Hikam' turut mengulas tentang uzlah. Menurutnya, uzlah bukan sebatas menyepi menghindari pertemuan fisik dengan manusia. Hal terpenting dari uzlah adalah memusatkan pikiran.

Pemusatan pikiran, atau dalam bahasa Ibnu Athaillah 'masuk ke medan berpikir', adalah tindakan mindfulness. Langkah ini bisa mengembalikan diri pada kesadaran penuh dan pada akhirnya membantu pemulihan dari burnout.

"Tidak ada sesuatupun yang berguna untuk (tumbuh kembang) hati, kecuali uzlah. Dengan itu, seseorang masuk ke dalam medan pemikiran," tulis Ibnu Athaillah.

3. Bercerita

Bercerita adalah jalan untuk melepaskan emosi yang terbelenggu. Sumbatan perasaan yang menyebabkan burnout akan terlepas melalui cerita. Ada banyak media untuk bercerita. Selain menyampaikannya secara lisan kepada pendengar yang tepat, cara lainnya adalah melalui tulisan.

Orang-orang yang terbiasa menulis catatan harian cenderung lebih mudah pulih dari burnout. Hal ini terjadi karena menulis adalah pekerjaan kontemplatif. Diperlukan perenungan mendalam untuk bisa menuangkan pemikiran ke dalam bentuk tulisan. Selain kontemplatif, menulis untuk tujuan penyembuhan terasa lebih jernih, tenang, dan tidak berisik.

Burnout dengan sendirinya akan mereda seiring dengan keberanian kita menjalani kehidupan yang penuh kesadaran. Kontemplasi adalah obat mujarab untuk burnout. Gejala gangguan psikologis itu harus kita upayakan kesembuhannya sendiri. Pepatah Arab mengatakan: 'Siapa yang tidak tahu cara mengobati dirinya sendiri, selamanya dia tidak akan sembuh'.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads