Hari Peringatan KAA 18 April: Sejarah Lahirnya Semangat Dasasila Bandung

Hari Peringatan KAA 18 April: Sejarah Lahirnya Semangat Dasasila Bandung

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 18 Apr 2026 08:36 WIB
Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung pada 18-24 April 1955. Salah satu pertemuan internasional terbesar pada masanya itu dihadiri sejumlah pemimpin dunia.
Kilas Balik Konferensi Asia Afrika yang Digelar di Bandung 1955 (Foto: Dok. asianafricanmuseum.org)
Bandung -

Hari ini, Sabtu 18 April 2026, menandai 71 tahun berlangsungnya peristiwa penting yang berlangsung di Bandung pada 1955. Kala itu, puluhan negara Asia dan Afrika berkumpul dalam satu forum untuk menyuarakan kepentingan bersama, yang dikenal sebagai Konferensi Asia Afrika.

Di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan, pertemuan tersebut melahirkan semangat solidaritas dan persatuan melawan kolonialisme yang dirangkum dalam Dasasila Bandung. Tiap tahunnya, tanggal 18 April ditetapkan sebagai Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika untuk mengenang semangat persatuan tersebut.

Berikut sejarah singkat Konferensi Asia Afrika dan isi 10 poin Dasasila Bandung, sebagaimana dilansir dari laman resmi Museum Konperensi Asia Afrika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Singkat Konferensi Asia Afrika 1955

Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945 tidak langsung menciptakan stabilitas global. Konflik masih terjadi di berbagai wilayah, sementara persoalan baru terus bermunculan.

Penjajahan yang berlangsung sejak abad ke-15 masih menjadi masalah utama di Asia dan Afrika. Setelah 1945, banyak negara-negara di Asia mulai merdeka. Namun di Afrika, perjuangan masih berlangsung di sejumlah wilayah seperti Aljazair, Tunisia, Maroko, dan Kongo.

ADVERTISEMENT

Negara yang telah merdeka juga menghadapi persoalan yang tidak ringan. Sengketa wilayah seperti Irian Barat, Kashmir, Aden, dan Palestina terus memicu ketegangan. Selain itu, konflik internal juga terjadi akibat warisan politik pecah belah dari masa kolonial.

Situasi global semakin rumit dengan munculnya dua blok kekuatan besar, yaitu Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah Uni Soviet. Persaingan ideologi ini berkembang menjadi Perang Dingin dan memicu konflik terbuka di berbagai wilayah seperti Korea dan Indo-Cina.

Perlombaan senjata nuklir menambah kekhawatiran dunia. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun dinilai belum dapat menjadi penengah. Dari situasi inilah muncul gagasan untuk mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika dalam satu forum bersama.

Pada awal 1954, Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang para pemimpin dari Birma, India, Indonesia, dan Pakistan dalam sebuah pertemuan yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Kolombo.

Dalam forum tersebut, muncul kesadaran bahwa persoalan yang dihadapi tidak hanya dialami oleh negara-negara peserta, tetapi juga oleh banyak negara lain di Asia dan Afrika. Presiden Indonesia, Soekarno, melalui Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, mendorong agar gagasan penyelenggaraan konferensi yang lebih luas segera diwujudkan.

Sebagai langkah awal, Indonesia menggelar pertemuan di Wisma Tugu, Puncak, pada 9 hingga 22 Maret 1954. Pertemuan ini membahas rumusan yang akan diajukan dalam Konferensi Kolombo.

Dalam Konferensi Kolombo yang berlangsung pada 28 April hingga 2 Mei 1954, Indonesia secara resmi mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika.

Indonesia kemudian melakukan pendekatan diplomatik kepada negara-negara Asia dan Afrika. Sebagian besar negara memberikan respons positif dan mendukung Indonesia sebagai tuan rumah konferensi.

Diawali Konferensi Bogor

Langkah penting berikutnya adalah Konferensi Bogor yang digelar pada 28 hingga 29 Desember 1954. Pertemuan ini dihadiri oleh lima negara peserta Konferensi Kolombo, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Ceylon, dan Birma.

Konferensi Bogor menjadi titik penentu karena menghasilkan kesepakatan mengenai tujuan, agenda, serta daftar negara yang akan diundang. Dalam forum ini juga ditegaskan bahwa konferensi Asia Afrika perlu segera dilaksanakan untuk merespons situasi global yang semakin tidak menentu.

Konferensi tersebut digagas oleh lima negara, yaitu Indonesia, Birma atau Myanmar, India, Ceylon atau Sri Lanka, dan Pakistan. Pelaksanaan konferensi dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani.

Kelima negara tersebut kemudian bertindak sebagai sponsor Konferensi Asia Afrika, dengan Indonesia sebagai tuan rumah dan Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan. Dari sana, pemerintah Indonesia membentuk Sekretariat Bersama yang dipimpin oleh Roeslan Abdulgani. Selain itu, dibentuk pula panitia interdepartemental untuk menangani berbagai kebutuhan teknis.

Gedung Concordia dipersiapkan sebagai lokasi utama dan kemudian diubah namanya menjadi Gedung Merdeka. Gedung Dana Pensiun juga diubah menjadi Gedung Dwiwarna. Berbagai hotel dan penginapan disiapkan untuk menampung sekitar 1.500 peserta.

Undangan resmi dikirimkan kepada 25 negara Asia dan Afrika. Seluruh negara yang diundang menyatakan kesediaan untuk hadir, kecuali Federasi Afrika Tengah yang masih berada dalam jajahan Prancis.

Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika 1955

Konferensi Asia Afrika berlangsung pada 18 hingga 24 April 1955 di Bandung. Sebanyak 29 negara berpartisipasi dan mewakili lebih dari setengah populasi dunia saat itu.

Fokus utama pertemuan ini adalah membangun kerja sama ekonomi dan budaya antarnegara Asia dan Afrika, serta menyuarakan penolakan terhadap kolonialisme. Pertemuan ini juga menjadi ruang bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat posisi mereka dalam hubungan internasional.

Hasil konferensi dituangkan dalam komunike akhir yang menekankan pentingnya kerja sama teknis antarnegara. Bentuknya mencakup pertukaran tenaga ahli, pengembangan teknologi, hingga pembentukan lembaga pendidikan dan penelitian.

Selain itu, salah satu hasil paling penting dari Konferensi Asia Afrika adalah lahirnya Dasasila Bandung pada 24 April 1955. Prinsip ini menjadi rumusan nilai-nilai bersama yang disepakati oleh negara peserta sebagai pedoman dalam hubungan internasional.

Dasasila Bandung menegaskan pentingnya saling menghormati antarnegara, menjaga kedaulatan, serta menyelesaikan konflik dengan cara damai. Rumusan ini juga menjadi bentuk sikap kolektif negara-negara Asia dan Afrika dalam menolak kolonialisme, intervensi asing, serta dominasi kekuatan besar dunia.

Pelopor dan Negara Peserta Konferensi Asia Afrika

Lima negara penggagas Konferensi Asia Afrika yaitu Indonesia, Birma atau Myanmar, India, Ceylon atau Sri Lanka, dan Pakistan. Pelaksanaan konferensi dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani.

Sementara itu, negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika terdiri dari:

  • Afghanistan
  • Indonesia
  • Pakistan
  • Burma (Myanmar)
  • Filipina
  • Kamboja
  • Irak
  • Iran
  • Arab Saudi
  • Ceylon (Sri Lanka)
  • Jepang
  • Sudan
  • Republik Rakyat Tiongkok
  • Yordania
  • Suriah
  • Laos
  • Thailand
  • Mesir
  • Libanon
  • Turki
  • Ethiopia
  • Liberia
  • Vietnam Utara
  • Vietnam Selatan
  • Pantai Emas
  • Libya
  • India
  • Nepal
  • Yaman

Isi Dasasila Bandung

Berikut sepuluh poin Dasasila Bandung yang disepakati dalam Konferensi Asia Afrika:

1. Menghormati hak asasi manusia serta tujuan dan prinsip Piagam PBB.

2. Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.

3. Mengakui persamaan derajat semua ras dan semua negara.

4. Tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

5. Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan diri sesuai Piagam PBB.

6. Tidak menggunakan perjanjian pertahanan untuk kepentingan negara besar dan tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.

7. Tidak melakukan ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap negara lain.

8. Menyelesaikan perselisihan internasional dengan cara damai.

9. Mengembangkan kerja sama untuk kepentingan bersama.

10. Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban internasional.

Demikian ulasan mengenai sejarah singkat Konferensi Asia Afrika 1955 yang semangatnya diperingati pada 18 April setiap tahunnya, lengkap dengan petikan isi Dasasila Bandung. Semoga membantu!

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads