Setelah lebih dari satu dekade, panggung IBL All-Star akhirnya kembali menyapa Bandung. Ajang bergengsi bola basket Indonesia ini akan digelar pada 11 April 2026 di Bandung Arena, mengulang euforia yang pernah tercipta pada 2012 silam.
Laga utama bakal mempertemukan dua tim pilihan yang dipimpin oleh peraih suara terbanyak, yakni Yudha Saputera dan Andakara Prastawa Dhyaksa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim Yudha diperkuat deretan nama beken seperti Abraham Grahita, Yesaya Saudale, dan Dame Diagne, hingga legiun asing Jordan Ivy-Curry serta Brandone Francis di bawah asuhan pelatih Cesar Camara Perez.
Sementara itu, Tim Prastawa tak kalah solid dengan kehadiran Arki Wisnu, Agassi Goantara, Jeffree Withey, hingga Stephaun Branch yang ditangani David Singleton.
Direktur Utama Indonesian Basketball League, Junas Miradiarsyah, menyebut All-Star kali ini bukan sekadar pertandingan, melainkan representasi wajah basket Indonesia saat ini.
"Ini kombinasi antara basket yang kita tahu dan kita rasa semua masyarakat Indonesia perlu melihat potret basket Indonesia hari ini dengan kehadiran pemain-pemain terbaik di ajang All Star," ucap Junas saat konferensi pers di Bandung, Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, konsep penyelenggaraan IBL All-Star tahun ini dirancang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda. Ajang ini bahkan diharapkan mampu mengangkat potensi lokal ke level nasional.
"Kemudian kita ingin menunjukkan olahraga basket dekat dengan masyarakat, dekat dengan budaya, gaya hidup dan di sini kita akan kolaborasi antara olahraga dan kehidupan anak muda," katanya.
Dari sisi format, IBL All-Star 2026 membawa pendekatan berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dua pemain dengan suara tertinggi, yakni Yudha dan Prastawa, diberi kebebasan penuh untuk memilih rekan setimnya.
"Tiap tahun pasti berbeda, dari pertandingan, pemainnya. Konsep kali ini berbeda dimana dua pemain dengan voting tertinggi yaitu Yudha dan menjadi tim kapten dan diberi kebebasan memilih timnya sendiri," jelas Junas.
Ia menilai pendekatan ini memberikan sentuhan emosional sekaligus nostalgia bagi pemain dan penggemar. "Di sini pembedanya pemain ingin membuat timnya sendiri, karena selain soal pertandingannya ada sisi nostalgia juga dan memberikan yang terbaik untuk fans," tambahnya.
Pemilihan Bandung sebagai tuan rumah juga sarat makna historis dan kultural. Pada 2012, Junas ingat betul bagaimana pertandingan All-Star yang digelar di Bandung mampu menyedot antusiasme penonton yang begitu besar.
"Bandung 2012 pernah digelar All Star, ada pemain NBA dan sangat luar biasa antusiasnya. Namun belum ada kesempatan lagi membawa All Star ke Bandung," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa ekosistem basket di Bandung tetap hidup dan memiliki keterikatan kuat dengan budaya anak muda.
"Padahal Bandung basketnya tidak pernah mati dan kedekatan dengan culture sangat dekat sehingga kita ingin menunjukkan kesempatan ini membantu mitra lokal besar lagi," tutup Junas.
(bba/orb)
