Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Bandung Lautan Api, termasuk pada 24 Maret 2026 hari ini. Momen ini menjadi pengingat atas aksi heroik rakyat Bandung yang rela membumihanguskan kotanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi sejarah, melainkan simbol pengorbanan, keberanian, dan semangat juang rakyat dalam melawan penjajah. Berikut ulasan lengkap mengenai sejarah Bandung Lautan Api, peristiwa ledakan di Dayeuhkolot, hingga tokoh-tokoh penting di baliknya.
Sejarah Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api berawal dari kondisi genting setelah Indonesia merdeka pada 1945. Usai Jepang menyerah, para pemuda di Bandung bergerak cepat merebut senjata dari tentara Jepang pada September hingga Oktober 1945.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun situasi berubah ketika pasukan Sekutu datang pada Oktober 1945 dengan membonceng Belanda (NICA). Kehadiran mereka menjadi ancaman baru karena berupaya menguasai kembali wilayah Indonesia, termasuk Kota Bandung.
Ketegangan pun meningkat saat Sekutu mulai mengeluarkan ultimatum kepada warga.
Ultimatum Sekutu dan Ketegangan di Bandung
Pimpinan tentara Inggris di Bandung saat itu, Brigjen MacDonald, memerintahkan warga Bandung Utara untuk mengosongkan wilayah tersebut dan pindah ke selatan rel kereta api sebelum 29 November 1945.
Kebijakan ini jelas menguntungkan Belanda yang ingin menguasai Bandung secara strategis. Rakyat Bandung pun tidak tinggal diam. Mereka mendirikan pos pertahanan dan melakukan perlawanan di berbagai titik.
Sepanjang Desember 1945 hingga awal 1946, pertempuran antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu terus terjadi.
Keputusan Membumihanguskan Bandung
Situasi semakin memanas ketika Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum agar seluruh warga Bandung meninggalkan kota dalam radius 11 kilometer.
Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia bersama pimpinan militer mengambil keputusan besar. A.H. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Komandan Divisi III TRI, memerintahkan pengosongan Bandung Selatan.
Keputusan ini menjadi awal dari peristiwa Bandung Lautan Api.
Evakuasi dan Pembakaran Kota
Pada malam 23 Maret 1946, sekitar 200.000 warga Bandung meninggalkan kota secara massal. Sebelum pergi, mereka membakar rumah serta bangunan penting agar tidak dapat dimanfaatkan oleh musuh.
Beberapa kawasan strategis yang dibakar antara lain:
- Banceuy
- Cicadas
- Braga
- Tegalega
- Asrama tentara
Keesokan harinya, 24 Maret 1946, Bandung Selatan berubah menjadi lautan api. Kobaran api yang meluas membuat kota tampak terbakar habis dari kejauhan.
Aksi ini menjadi strategi militer sekaligus bentuk perlawanan rakyat agar Bandung tidak digunakan sebagai basis kekuatan penjajah.
Ledakan di Dayeuhkolot: Aksi Heroik Para Pejuang
Selain pembakaran kota, peristiwa heroik juga terjadi di Dayeuhkolot. Di wilayah ini terdapat gudang amunisi milik Sekutu yang menjadi target sabotase.
Dua pejuang dari Barisan Rakyat Indonesia (BPRI), yaitu Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, mendapat tugas untuk menghancurkan gudang tersebut.
Mereka menyeberangi Sungai Citarum dengan membawa bahan peledak. Misi ini sangat berisiko karena dijaga ketat oleh tentara Belanda.
Saat menjalankan aksi, terjadi baku tembak sengit. Moh Ramdan gugur di medan pertempuran, sementara Mohammad Toha diduga berhasil meledakkan gudang amunisi tersebut.
Ledakan besar pun terjadi dan menghancurkan gudang mesiu. Namun, Mohammad Toha juga gugur dalam aksi tersebut. Pengorbanan keduanya menjadi simbol keberanian luar biasa dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Tokoh-Tokoh Penting di Balik Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api tidak terlepas dari peran sejumlah tokoh penting yang berkontribusi besar, baik dalam strategi militer maupun perjuangan di lapangan.
1. A.H. Nasution
Sebagai Komandan Divisi Siliwangi, ia memerintahkan pembumihangusan Bandung untuk mencegah kota digunakan oleh musuh.
2. Mohammad Toha
Pejuang muda yang gugur setelah berhasil meledakkan gudang amunisi di Dayeuhkolot.
3. Sutan Sjahrir
Perdana Menteri Indonesia saat itu yang berperan dalam strategi diplomasi dan pertahanan negara.
4. Atje Bastaman
Jurnalis yang mendokumentasikan peristiwa Bandung Lautan Api melalui tulisannya.
5. Rukana
Komandan Polisi Militer Bandung yang mengusulkan strategi pembakaran Bandung Selatan.
6. Ismail Marzuki
Seniman yang mengabadikan peristiwa ini melalui lagu legendaris "Halo-Halo Bandung".
Dampak Bandung Lautan Api
Peristiwa ini memberikan dampak besar, baik secara militer maupun psikologis.
1. Menggagalkan Strategi Musuh
Bandung tidak dapat dimanfaatkan sebagai basis militer oleh Sekutu.
2. Simbol Perlawanan Rakyat
Rakyat menunjukkan bahwa mereka lebih memilih kehilangan tempat tinggal daripada kembali dijajah.
3. Menguatkan Nasionalisme
Peristiwa ini menjadi inspirasi perjuangan di berbagai daerah di Indonesia.
Monumen Bandung Lautan Api dan Situs Bersejarah
Untuk mengenang peristiwa ini, berbagai monumen dibangun di Bandung.
Monumen Bandung Lautan Api
Monumen setinggi 45 meter ini terletak di Taman Tegalega dan menjadi simbol semangat perjuangan rakyat Bandung.
Monumen Moh Toha
Monumen ini berdiri di lokasi bekas gudang amunisi yang diledakkan oleh Mohammad Toha.
Bandung Lautan Api dalam Lagu "Halo-Halo Bandung"
Peristiwa ini juga menginspirasi lagu Halo-Halo Bandung karya Ismail Marzuki.
Liriknya menggambarkan semangat rakyat untuk kembali merebut kota Bandung dari penjajah.
Peristiwa ini mengandung banyak pelajaran penting, di antaranya:
Pengorbanan demi kemerdekaan
Kekuatan persatuan rakyat
Semangat pantang menyerah
Bandung Lautan Api menjadi bukti bahwa kemerdekaan diraih dengan perjuangan besar.
Peringatan Bandung Lautan Api setiap 24 Maret, termasuk pada tahun 2026 ini, menjadi momen refleksi bagi generasi bangsa. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan semangat persatuan dan pengorbanan.
(tya/tya)











































