Ngabuburit Jadi Warisan Budaya Tak Benda Tanah Priangan

Ngabuburit Jadi Warisan Budaya Tak Benda Tanah Priangan

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Senin, 09 Mar 2026 17:32 WIB
Suasana ngabuburit di Ciamis
Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar
Bandung -

Ngabuburit sebagai bagian dari adat istiadat, ritus dan perayaan-perayaan yang berkembang di tanah Priangan ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2026 ini.

Dikutip dari laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, dikatakan 'Ngabuburti' ini sebagai warisan budaya yang berkembang di wilayah Priangan.

Ada 66 karya budaya yang dijadikan sebagai WBTb tahun ini. Karya budaya lain lebih spesifik tempat asalnya, seperti Golok Kala Petok dari Sukabumi atau Sega Lengko dari Kota Cirebon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Proses sidang penetapan dilaksanakan di Purwakarta dan Cirebon pada Agustus hingga Oktober 2025 lalu. Awalnya terdapat 87 usulan karya budaya. Namun setelah dikurasi, ditetapkan 66 karya budaya menjadi WBTb Provinsi Jawa Barat tahun 2026." tulis laman tersebut.

Ngabuburit, karena umum dilakukan di berbagai wilayah di Jawa Barat, dikatakanlah menjadi bagian dari warisan budaya tanah Priangan. Ngabuburit sendiri merupakan aktivitas menunggu senja, lebih tepatnya menunggu waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan berlangsung.

ADVERTISEMENT

Asal Usul Ngabuburit

Ngabuburit saat ini telah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Dilihat dari akar katanya 'burit' yang berarti sore menjelang petang, jelas bahwa tradisi ngabuburit berasal dari tanah Priangan. Kata 'ngabuburit' berarti berkegiatan menunggu waktu burit.

Sekarang ini, ngabuburit dilakukan dengan kegiatan berburu kudapan takjil. Orang yang mau pergi ngabuburit, haruslah membawa uang. Ngabuburit seperti ini mahal dan kurang cocok dengan makna puasa yang dijalani sepanjang Ramadan.

Pada masa-masa awal abad ke-20 di Priangan, ngabuburit dilakukan dengan sangat murah. Bahkan, kegiatannya tidak 'berburu takjil' melainkan duduk-duduk saja di keramaian.

Kegiatan duduk-duduk menikmati sore di tanah lapangan seperti Alun-alun menjadi kegiatan utama ngabuburit. Aktivitas lainnya seperti ngurek atau mencari belut dengan seutas benang nilon berkail menjadi pilihan kaum muda saja.

Ngabuburit di Priangan

Masyarakat di Bandung pada awal abad ke-20 ngabuburit dengan cara ke luar rumah pada bulan puasa sore-sore. Merek menuju Alun-alun Bandung, menuju Leuwi Pajati untuk menyelam, atau mandi dengan air dari sumur bor. Hal ini diungkapkan Muhamad Fajar N, Sulasman, dan Usman Supendi dalam Jurnal Historia Madania, Vol. 2, No. 2, 2018 mengutip deskripsi Haryoto Kunto (1996).

"Selain mandi-mandi, lubuk di bawah Viaduct itu, airnya jernih dan banyak ikannya. Mereka yang pandai menyelam, terkadang berhasil menangkap udang kecil, berbagai macam ikan, seperti deleg, beunteur, bogo, dan tawes. Lumayan dibawa ke rumah untuk lawuh berbuka puasa," tulis jurnal itu.

Yang paling berkesan dari aktivitas ngabuburit orang Bandung dahulu kala adalah 'hanya duduk-duduk'. Konon, seiring banyak dibuatkan sumur bor berikut pemandian umumnya, kaum lelaki pada sore-sore pergi ke pemandian umum.

Mereka mandi di tempat itu. Sebelumnya, dari rumah, mereka keluar dengan membawa sarung dan mengalungkan handuk di leher. Di antara yang banyak dikunjungi masyarakat pada sore hari saat bulan puasa adalah sumur bor di Gedung Kantor Pos. Kaum lelaki mandi dengan tujuan selesai mandi, mereka akan ngabuburit di Alun-alun. Mereka duduk-duduk di bawah beringin Alun-alun.

"Jadi bukan pemandangan yang aneh bila ba'da Ashar pada bulan puasa, kaum pria keluar rumah membawa sarung dan berkalung handuk menuju Alun-alun. Dapat dipastikan mereka akan mandi di sumur bor dekat Kantor Pos, lalu ngabuburit dengan duduk-duduk di bawah Wilhelmina dan Juliana Boom. Yakni, sepasang pohon beringin yang ditanam di Alun-alun Bandung untuk memperingati ratu Belanda," tulis jurnal itu.



(tya/tey)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads