9 Rumah Adat Jawa Barat Lengkap dengan Ciri Khas dan Filosofinya

9 Rumah Adat Jawa Barat Lengkap dengan Ciri Khas dan Filosofinya

Jilan Salsabila - detikJabar
Sabtu, 24 Jan 2026 06:30 WIB
Rumah Adat Sunda di Kampung Adat Kranggan, Kota Bekasi
Ilustrasi rumah adat Sunda (Foto: Agung Pambudhy)
Bandung -

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya sangat beragam. Keberagaman tersebut tidak hanya tercermin dari bahasa, pakaian adat, maupun kesenian, tetapi juga dari bentuk rumah adatnya yang unik dan sarat filosofi.

Rumah adat di Jawa Barat dikenal memiliki ciri khas pada bentuk atapnya. Meski tampil unik, rumah-rumah adat ini dibangun menggunakan bahan alami seperti kayu dan bambu, serta dirancang agar nyaman ditempati dan sesuai dengan kondisi alam sekitarnya. Berikut beberapa jenis rumah adat khas Jawa Barat yang masih dikenal hingga kini.

1. Rumah Adat Badak Heuay

Rumah Adat Badak Heuay memiliki arti badak yang menguap. Sesuai namanya, rumah adat ini memiliki bagian depan atap yang menyerupai badak yang sedang menguap. Secara bentuk, rumah ini mirip dengan Rumah Adat Tagog Anjing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ciri khasnya terletak pada atap yang terdiri dari dua sisi. Atap bagian depan berukuran lebih kecil dan tampak lebih pendek, sementara atap bagian belakang lebih panjang dan menurun ke arah belakang. Keunikan lainnya adalah adanya bidang atap yang melewati suhunan yang disebut rambut.

Pada masa lalu, rumah adat Badak Heuay banyak digunakan di daerah Sukabumi. Bahan utama pembuatannya adalah kayu.

ADVERTISEMENT

2. Rumah Adat Tagog Anjing

Tagog berarti duduk, sehingga Tagog Anjing diartikan sebagai anjing yang sedang duduk. Bentuk atap rumah ini memang menyerupai anjing yang duduk. Model rumah adat ini banyak ditemukan di daerah Garut.

Rumah Tagog Anjing berbentuk persegi panjang dengan tambahan teras depan yang disebut sorondoy. Sorondoy berfungsi untuk melindungi bagian depan rumah dari panas dan hujan. Keunikan lainnya, bagian bawah rumah ini tidak disangga oleh tiang.

3. Rumah Adat Julang Ngapak

Julang berarti burung, sedangkan ngapak bermakna mengepakkan sayap. Rumah adat Julang Ngapak memiliki bentuk atap yang menyerupai burung yang sedang mengepakkan sayap.

Atap rumah ini melebar ke samping pada kedua sisinya dan terdiri dari empat bidang atap. Dua bidang membentuk runcing ke atas, sementara dua bidang lainnya lebih landai. Keunikan lainnya adalah adanya hiasan atap bernama capit gunting atau capit hurang yang berfungsi mencegah kebocoran air hujan.

Rumah ini berbentuk panggung dan memiliki kolong. Rumah Adat Julang Ngapak dapat ditemukan di wilayah Garut, Kuningan, serta daerah lain di Jawa Barat.

4. Rumah Adat Jolopong

Jolopong berarti tegak lurus atau terkulai. Rumah adat ini memiliki bentuk sederhana dengan atap segitiga sama kaki yang terdiri dari dua bidang atap, dipisahkan oleh jalur suhunan di bagian tengah bangunan.

Rumah Jolopong berbentuk panggung dengan kolong setinggi sekitar 40-50 sentimeter. Kolong tersebut biasanya dimanfaatkan untuk memelihara ternak seperti ayam dan bebek atau sebagai tempat penyimpanan. Bahan bangunan rumah ini meliputi kayu, bambu, ijuk, tanah, dan daun kelapa.

5. Rumah Adat Capit Gunting

Dalam bahasa Sunda, capit berarti menjepit, sedangkan gunting adalah alat pemotong dengan dua sisi menyilang. Rumah Adat Capit Gunting memiliki ciri khas pada ujung atapnya yang dibuat memanjang dan menyilang seperti gunting.

Kayu yang menyilang tersebut biasanya terdapat di sisi kanan dan kiri atap rumah dengan ukuran yang sama, sekaligus menjadi penanda visual yang khas.

6. Rumah Adat Kasepuhan Cirebon

Rumah adat ini merupakan bagian dari Keraton Kasepuhan di Cirebon. Keunikannya terletak pada pembagian ruang yang terdiri dari empat bagian.

Salah satunya adalah Jinem atau pendopo yang berfungsi sebagai tempat punggawa penjaga keselamatan Sultan. Pringgodani digunakan sebagai tempat Sultan memberi perintah kepada para adipati, sementara Prabayasa berfungsi sebagai ruang menerima tamu penting serta tempat kerja dan istirahat Sultan.

7. Rumah Adat Parahu Kumureb

Rumah Adat Parahu Kumureb memiliki bentuk atap dengan empat bidang. Dua bidang atap berbentuk trapesium sama kaki dan saling berhadapan, dipisahkan oleh garis suhunan.

Sementara itu, dua bidang atap lainnya berbentuk segitiga sama kaki. Ujung suhunan menjadi titik puncak segitiga, sedangkan sisi miringnya menyatu dengan bidang atap trapesium, menciptakan bentuk yang khas dan seimbang.

8. Rumah Adat Saung Ranggon

Rumah Adat Saung Ranggon terletak di kawasan Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-16 Masehi oleh Pangeran Rangga, putra Pangeran Jayakarta.

Rumah ini berbentuk panggung dengan bagian bawah sebagai tempat penyimpanan. Ruang dalamnya terbuka tanpa sekat, meski terdapat satu kamar. Atapnya menggunakan model Julang Ngapak dengan penutup sirap kayu. Dinding terbuat dari papan dan bilik bambu, tanpa jendela, namun memiliki bukaan kecil sebagai ventilasi.

9. Rumah Adat Buka Palayu

Rumah Adat Buka Palayu banyak ditemukan di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Ciri khas rumah ini terletak pada posisi pintu depan yang menghadap salah satu sisi bidang atap.

Model rumah ini biasanya dibangun sesuai keinginan pemilik agar bangunan dan atap menghadap langsung ke jalan. Potongan Buka Palayu umumnya menggunakan bentuk atap suhunan panjang atau suhunan pondok.

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads