Isra Miraj adalah dua peristiwa agung yang penting untuk diamini umat Muslim. Peristiwa tersebut terjadi dalam satu malam, dan diriwayatkan dalam berbagai hadis.
Di malam tersebut, Nabi Muhammad S.A.W melakukan Isra, yakni perjalanan fisik dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), dilanjut dengan perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu dari Allah SWT (Mi'raj).
Peristiwa ini salah satunya dipaparkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Hammad ibn Salamah dari Tsabit, dari Anas r.a. Hadis tersebut dinilai sebagai hadis yang paling kuat tentang Isra Mi'raj dan bebas dari perselisihan.
Imam Al Qusyairi melalui bukunya Kisah dan Hikmah Mikraj Rasulullah mengatakan bahwa riwayat hadis ini dianggap sahih dan merupakan salah satu narasi paling rinci tentang Isra Mi'raj yang digunakan oleh para ulama. Imam Muslim (juga Imam Ahmad dalam Musnadnya) meriwayatkannya melalui jalur ini.
Sahabat-sahabat yang lain juga meriwayatkan hadis tentang Isra Mi'raj, namun hadis yang diriwayatkan Anas r.a dinilai lebih terperinci dan jelas. Berikut adalah petikan lengkap hadis tersebut beserta rangkumannya.
Perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Dalam hadis tersebut, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap tingkatan langit, yakni Nabi Adam, Isa dan Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Dalam perjalanan itu, beliau menunggangi Buraq dan didampingi oleh malaikat Jibril.
Nabi Muhammad SAW kemudian memasuki Baitul Makmur, tempat di mana 70.000 malaikat beribadah setiap harinya, serta Sidratul Muntaha, yakni pohon bidara batas tertinggi di atas langit ketujuh. Di Sidratul Muntaha-lah, Beliau bertemu Allah SWT dan menerima perintah salat secara langsung.
Mulanya, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat wajib 50 kali sehari. Namun, beliau kemudian berkali-kali meminta keringanan kepada Allah SWT atas saran Nabi Musa AS hingga menyisakan perintah shalat wajib lima waktu setiap harinya.
Simak Video "Video: One Way Arah Puncak Selesai, Lalin Normal Dua Arah"
(tya/tya)