Kisah Lea, Wisudawan Terbaik Magister ITB yang Bedah Kampung Sewu Solo

Kisah Lea, Wisudawan Terbaik Magister ITB yang Bedah Kampung Sewu Solo

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Jumat, 09 Jan 2026 14:03 WIB
Kisah Lea, Wisudawan Terbaik Magister ITB yang Bedah Kampung Sewu Solo
Lea saat Wisuda Oktober 2025 di Sabuga ITB.
Bandung -

Nama Aprilea Sofiastuti Ariadi menjadi sorotan dalam wisuda Institut Teknologi Bandung (ITB) periode Oktober 2025 lalu. Perempuan yang akrab disapa Lea ini sukses dinobatkan sebagai wisudawan terbaik program magister.

Lea merupakan lulusan program studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Lantas, bagaimana perjalanan Lea hingga meraih predikat bergengsi tersebut?

Berawal dari Praktisi Lapangan

Lea bukan warga asli Bandung. Ia merantau ke Kota Kembang untuk bekerja di sebuah biro arsitektur. Selama lima tahun berkarier, Lea sudah terlibat dalam berbagai proyek publik, mulai dari perancangan alun-alun hingga perpustakaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalaman menangani proyek-proyek besar itulah yang mendorongnya untuk kembali ke bangku kuliah. Ia merasa perlu mendalami ilmu yang selama ini ia praktikkan di lapangan.

"Kalau dari aku pribadi, (jadi) ingin belajar lebih banyak untuk memberi lebih banyak," ujarnya dikutip dari laman ITB, Rabu (7/1/2026).

ADVERTISEMENT

Lea melihat adanya perbedaan kontras antara ruang akademik dan dunia profesional. Meski demikian, lewat pendidikan, ia yakin bisa mengeksplorasi gagasan secara lebih luas. Selama menempuh magister, Lea mendapatkan banyak ilmu baru dan kesempatan mengikuti studio bersama exchange student yang memberinya pengalaman kolaborasi lintas budaya.

"Lebih fresh di idea-nya, referensi-referensinya," tuturnya.

Lea saat Wisuda Oktober 2025 di Sabuga ITB.Lea saat memberikan pidato pada upacara Wisuda Oktober 2025 (Dokumentasi Wisuda ITB)

Mengangkat Keunikan Kampung Sewu Solo dalam Tesis

Dalam menyusun tesis, Lea memilih topik yang berakar dari pengalaman profesional dan kompetensi desain yang pernah ia jalani. Ia merasa banyak entitas di kampung halamannya yang memiliki keunikan tersendiri.

Ketertarikannya pada skala rancang kota bermula saat ia mengikuti kompetisi desain di Singapura. Dari sana, ia merasa tertantang untuk merancang arsitektur wilayah yang lebih luas.

"Itu pertama kali saya merancang skala yang sebesar itu. Itu benar-benar besar banget dan ternyata skala itu harusnya multidisiplin, ada rancang kota, ada Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) segala macam. Tapi karena waktu itu kita hanya dari arsitektur saja, jadi yang didesain arsitekturnya," katanya.

Lea kemudian menelusuri sejarah kampung-kampung di Pulau Jawa yang berkembang dari tepian sungai menjadi pemukiman. Pencariannya berlabuh pada Kampung Sewu di Solo.

"Ada kampung yang diapit oleh Bengawan Solo, dan sungai yang menghubungkannya bernama Kali Pepe. Dulunya terdapat kedua sungai yang menghubungkan kota Solo dengan major port di Pulau Jawa. Dari situ akhirnya saya memulai tesis itu," katanya.

Lea saat Wisuda Oktober 2025 di Sabuga ITB.Salah satu objek penelitian (Pohon Pamrih Kelurahan Sewu) bersama salah seorang narasumber, Surakarta, 16 November 2025. (Brigita Theora Mega)

Kampung Sewu dipilih karena daerah tersebut dulunya merupakan bandar penting yang menghubungkan wilayah dalam Kota Solo dengan kawasan sekitar sungai. Namun, fungsi strategis daerah tersebut kini memudar akibat perubahan moda transportasi masyarakat modern.

Melalui penelitiannya, Lea berusaha menemukan cara untuk mengembalikan fungsi kawasan tersebut dengan tetap menjaga nilai sejarah, budaya, dan identitas lokalnya. Setelah lulus S2, Lea berencana kembali aktif bekerja profesional untuk mengembangkan pengalaman praktiknya di masa depan.




(tya/tey)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads