Enam Venue Ikonik Bandung Jadi Panggung Soundrenaline 2025

Enam Venue Ikonik Bandung Jadi Panggung Soundrenaline 2025

Shifa Lupiah Ajijah, Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 30 Nov 2025 09:00 WIB
Perform Efek Rumah Kaca di Savoy Homan
Perform Efek Rumah Kaca di Savoy Homan (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Bandung menjadi salah satu kota penyelenggara Soundrenaline 2025 yang tahun ini hadir dengan format Sana-Sini atau multilokasi. Enam titik di pusat kota yakni Hotel Savoy Homan, De Majestic, Kimaya Braga, Filosofi Kopi, Landmark Braga, dan Le Braga Coffee and Kitchen menjadi venue rangkaian program musik, seni visual, hingga aktivitas kreatif.

Festival ini mengusung tiga pilar utama The Stage, The Space, dan The Lab. Di Bandung, seluruh pilar tersebut terdistribusi di berbagai venue untuk memberi pengalaman bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain.

Deretan musisi tampil di berbagai panggung, di antaranya Efek Rumah Kaca, Pusakata, Bilal Indrajaya, White Shoes and The Couples Company, Mocca, Endah N Rhesa, serta kolaborasi 510 x Svarawestjava Orchestra. Musisi lokal dan talenta baru juga mendapat ruang tampil bergantian di venue kecil dan menengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengunjung mengaku antusias dengan format multilokasi yang membuat festival tersebar di berbagai titik kota. Rana Ismael (23) pengunjung asal Jatinangor, mengatakan konsep tersebut membuat pengalaman festival terasa berbeda.

ADVERTISEMENT

"Keren soalnya baru pertama datang ke konser yang dia pakai konsep gini dan eventnya tuh di kafe-kafe tapi masih di satu kawasan, experience nya beda dan kerasnya gak crowded banget," ucap Rana.

Dia pun menginginkan di penyelenggaraan tahun depan, konsep ini tetap dipertahankan. Di sisi lain, Rana meminta agar panitia menghadirkan artis dari luar negeri untuk memeriahkan Soundrenaline. "Bawain konsep kaya gini lagi asik, seru dan bawa artis luar. Pengennya Lump," ujarnya.

Sementara Yulia (24), yang mengikuti penampilan Efek Rumah Kaca di Savoy Homan mengaku terkesima dengan konsep Soundrenaline yang baru pertama kali diselenggarakan di Bandung ini. "Keren, baru pertama kali nonton Soundrenaline," singkatnya.

Penyelenggara menyebut Soundrenaline 2025 dirancang untuk menghidupkan ruang kota melalui perpaduan musik, seni visual, dan komunitas. Format multilokasi tersebut juga memberikan dampak ekonomi pada pelaku usaha sekitar venue dan komunitas kreatif yang terlibat.

Rangkaian Soundrenaline 2025 kemudian akan berlanjut ke Palembang pada 6 Desember dan Jakarta pada 18-21 Desember mendatang setelah sebelumnya hadir di Makassar dan Medan.

Pengalaman Baru

Penampilan Endah N Rhesa di Landmark Stage Soundrenaline Bandung.Penampilan Endah N Rhesa di Landmark Stage Soundrenaline Bandung. Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar

Soundrenaline baru saja menggelar festival di Bandung, salah satu pusat kreativitas di Indonesia. Mengusung konsep "Sana-Sini", festival ini memanfaatkan ruang-ruang publik ikonik sebagai lokasi panggung dan acara kreatif. Acara ini tidak hanya melibatkan konser musik. Soundrenaline Sana-Sini Bandung menghadirkan acara musik dan kreatif dengan tiga pilar utama.

Pilar utama Soundrenaline Sana-Sini Bandung, The Stage, hadir dengan konsep yang berbeda dari biasanya. Jika festival lain biasanya memusatkan panggung di satu area, Soundrenaline Sana-Sini Bandung justru membaginya ke dalam enam venue ikonik yang tersebar, sekaligus menghidupkan aspek sejarah dan budaya kota. Enam lokasi tersebut meliputi Savoy Homann, Kimaya Braga, Landmark, De Majestic, Filosofi Kopi, dan Le Braga. Tempat-tempat ini menjadi titik temu bagi musisi dari berbagai daerah di Nusantara, seperti Efek Rumah Kaca, Mocca, Pusakata, White Chorus, Eleventwelfth, Pure Saturday, Sigmun, Marie Joe, Paradiksi, White Shoes and The Couples Company, Lips!, Bilal Indrajaya, Endah n Rhesa, 510, dan musisi lainnya.

Konsep panggung yang tersebar ini dirancang untuk menciptakan pengalaman festival yang berbeda, dengan mendorong pengunjung agar lebih bereksplorasi, dengan bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain.

Salah satu pengunjung menyatakan bahwa konsep panggung tersebar menciptakan pengalaman festival yang unik, mengurangi kepadatan penonton, dan ia berharap konsep ini dapat dipertahankan.

"Keren sih, soalnya baru pertama kali datang ke konser atau event yang pakai satu jalan begini. Ada juga stage-nya itu di beberapa kafe, tapi masih di satu jalan gini. Jadi pengalamannya beda dan seru. Jadi rasanya tidak terlalu padat," ujar salah satu pengunjung, yang juga berharap ada penambahan musisi internasional untuk kolaborasi lintas batas.

Antusiasme tidak hanya datang dari pengunjung. Musisi yang tampil pun merasakan respons positif dari Kota Kembang. Grup band Mocca mengungkap bahwa konsep ini terasa mirip seperti festival South by Southwest (SXSW) yang ada di luar negeri.

"Di balik membuat acara-acara besar, memang sekarang dipecah ke beberapa jenis, ya. Menurut saya, ini lebih efektif. Penyebaran bandnya juga bisa lebih rata, apalagi ini memberi ruang bagi band-band muda untuk tampil," ujarnya.

Beberapa musisi, termasuk Mocca dan Efek Rumah Kaca, mengatakan bahwa tampil di Bandung memberikan nuansa pulang ke rumah yang santai, menciptakan suasana seperti berkumpul sambil tampil. Beberapa musisi juga berharap Soundrenaline menyasar kota-kota yang lebih kecil.

Selain The Stage, konsep Sana-Sini juga terasa di pilar kedua yakni The Space. Area ini didedikasikan untuk komunitas kreatif, pop-up market, seni visual, dan suvenir resmi. The Space bertujuan memfasilitasi kreativitas visual selain aspek audio.

Faisal, yang akrab disapa Tinteen, seorang seniman tufting dari Hip Huru Hara mengatakan, "Aktivitasnya di sini beragam. Ada sablon langsung, ada barista takeover dari White Shoes, dan saya sendiri terlibat dalam tufting langsung bersama Endah N Rhesa. Ini memperkenalkan seni kami dan membuat aktivitasnya menjadi lebih menyenangkan," ucapnya.

Soundrenaline Bandung juga memiliki pilar The Lab, yakni sesi diskusi, lokakarya, dan pertukaran pengetahuan yang melibatkan musisi, pelaku industri, seniman visual, dan kolektif kreatif.

Soundrenaline Sana-Sini Bandung berupaya mengembangkan festival musik dengan konsep uniknya. Konsep "Sana-Sini" yang memecah panggung dan menyebar ke seluruh kota bertujuan mengembangkan potensi festival sebagai pendorong ekonomi kreatif. Keterlibatan musisi lokal, seniman visual, dan puluhan komunitas ini menunjukkan upaya Soundrenaline mendukung industri kreatif Indonesia.

Setelah acara ini diselenggarakan di Bandung, rangkaian festival akan bergerak ke Palembang, dengan fokus pada pelaku kreatif di Sumatera Selatan, sebelum rangkaian festival ditutup di Jakarta.

Halaman 3 dari 2
(iqk/iqk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads