Pengakuan Mengejutkan Ayi yang Nekat Bacok Mati Ki Danu di Tasikmalaya

Pengakuan Mengejutkan Ayi yang Nekat Bacok Mati Ki Danu di Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Kamis, 20 Agu 2026 18:15 WIB
Ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi pembunuhan Foto: (Getty Images/ilbusca)
Tasikmalaya -

Penyidik Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota resmi menetapkan pria berinisial E (35) alias Ayi sebagai tersangka pembunuhan Tata Hendro (45) alias Ki Danu. Warga Kampung Ciaren, Desa Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya tersebut kini mendekam di sel tahanan menyusul insiden berdarah yang terjadi pada Rabu (19/8) siang.

Dalam pemeriksaan di Mapolres Tasikmalaya Kota pada Kamis (20/8/2026), Ayi membeberkan kronologi peristiwa yang terjadi di halaman rumah korban. Tragisnya, aksi kekerasan tersebut berlangsung di hadapan kedua orang tua tersangka.

Ayi menceritakan, kejadian bermula saat ia menerima panggilan telepon dari ibunya ketika sedang berada di luar rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lagi di luar, ditelepon sama ibu saya. Dia terdengar seperti menjerit-jerit. Di sana kan sinyal jelek," kata Ayi kepada polisi.

ADVERTISEMENT

Meski komunikasi terputus-putus, Ayi merasa ada yang tidak beres dan segera memacu sepeda motornya menuju rumah orang tuanya yang bertetangga dengan korban. Saat itu, ia membawa sebilah golok yang memang sudah tersimpan di motor karena baru saja pulang berkebun.

"Kalau golok sudah menggantung di motor, bekas dari kebun," kata Ayi.

Setibanya di lokasi, Ayi disambut teriakan histeris sang ibu yang menunjuk ke arah ayahnya. "Begitu sampai, ibu saya bilang, "A itu si Bapak, itu si Bapak," kata Ayi.

Ayi sempat menghunus goloknya sebelum turun dari motor, namun ia memasukkannya kembali ke sarung dan memilih menghampiri korban dengan tangan kosong. Ia melihat ayahnya sudah dalam kondisi babak belur, namun ia memilih langsung mengonfrontasi Ki Danu.

"Bapak ada, sudah terlihat babak belur juga, tapi dilewat, nggak saya tanya," kata Ayi.

Ketegangan memuncak saat Ayi membentak korban. Duel fisik pun tak terhindarkan setelah adu mulut singkat.

"Saya langsung ngomong, "naha sia neunggeul bapa aing?" (mengapa kamu memukul bapak saya). Nah dia menjawab "cicinglah, cicing" (diam). Saya ngomong lagi "nangtunglah gelut jeung aing" (berdirilah, berkelahi sama saya), langsung bukbek (baku hantam)," papar Ayi.

Perkelahian tangan kosong sempat terjadi sebelum akhirnya korban masuk ke dalam rumah. Khawatir korban mengambil senjata tajam, Ayi kembali ke motornya untuk mengambil golok.

"Terus korban masuk rumah, nggak tahu mau ngambil apa, takutnya dia mau bawa pisau. Saya balik ke motor ambil golok," kata Ayi.

Keduanya kembali berhadapan. Pada awalnya, Ayi mengaku masih berusaha menahan diri dengan menggunakan bagian tumpul golok saat menebas pinggang korban.

"Pertama saya masih inget (sadar akan bahaya) tebasan pertama pakai bagian tumpulnya kena ke pinggang korban," kata Ayi.

Situasi semakin liar ketika korban memberikan perlawanan dengan melemparkan tanah ke wajah Ayi dan menggunakan dahan kelapa kering (barangbang) sebagai senjata.

"Korban membawa barangbang (dahan kelapa kering), dia juga sempat melempar tanah ke muka saya," kata Ayi.

Ayi kemudian memutar posisi goloknya. Saat korban mengayunkan dahan kelapa, Ayi menangkisnya dengan tangan kiri dan langsung melayangkan sabetan fatal ke arah leher korban dengan tangan kanan. Ki Danu seketika ambruk bersimbah darah. Ayi mengaku sempat terpaku melihat kondisi korban sebelum akhirnya ditegur oleh ayahnya.

"Setelah itu saya diam saja, bapak menghampiri, "naha a nepi ka kieu? (mengapa A sampai begini?), ya memarahi saya," kata Ayi.

Ia membenarkan bahwa seluruh adegan tersebut disaksikan langsung oleh orang tuanya yang terus menjerit ketakutan. "Iya dilihat bapak dan ibu sambil menjerit-jerit," kata Ayi.

Usai kejadian, Ayi pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan senjatanya. Ia mengaku tidak berniat melarikan diri dan berencana menyerahkan diri ke pihak berwajib.

"Terus pulang ke rumah, sempat mencuci tangan karena darah. Golok dimasukan ke tas, sudah niat mau ke Polsek," kata Ayi.

Kini, Ayi hanya bisa menyesali perbuatannya. Tangisnya pecah saat teringat istri dan anak-anaknya yang berada di Bandung. Ia menjelaskan bahwa keberadaannya di Karangjaya sebenarnya hanya untuk menjenguk anak sulungnya yang baru masuk pesantren.

"Istri ada di Bandung, saya juga tinggal di Bandung, kemarin pulang ke Karangjaya untuk menengok anak yang paling besar. Dia tinggal sama kakeknya, baru kemarin masuk pesantren," kata Ayi menutup keterangannya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads