Selasa malam, warga di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berbondong-bondong berkumpul di masjid yang berdekatan dengan rumah seorang kakek berusia 72 tahun, berinisial MH. Aksi geruduk ini dilakukan warga setelah terbongkar dugaan aksi bejat MH yang menyasar belasan anak-anak.
Berikut fakta-fakta dalam kejadian ini:
Berawal Dari Celetukan
Ketua RW setempat, Hendra (52), mengungkapkan kasus ini pertama kali terungkap secara tidak sengaja dari celetukan salah seorang anak saat mengikuti kegiatan pengajian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pas di pengajian si anak itu teh nyeletuk, 'urang oge dikitukeun' (saya juga digituin). Akhirnya disampaikan ke orang tua," kata Hendra, Selasa (21/7) malam.
Modus Pelaku
Sebelumnya, para korban tidak berani melapor lantaran mendapat ancaman dari pelaku. Modusnya, pelaku memberikan uang berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000 serta meminta korban agar tidak menceritakan perbuatan tersebut kepada siapa pun.
"Sebenarnya anak ini takut, sama si abah diancam 'ntong bebeja' (jangan ngomong) sambil dikasih uang. Itu pengakuan dari anak-anak, dikasih Rp5 ribu, dikasih Rp2 ribu," ujarnya.
Mendengar pengakuan tersebut, para ibu kemudian berkumpul untuk meminta kejelasan. Berdasarkan pendataan sementara dari catatan para orang tua, jumlah korban yang tadinya dikira hanya segelintir orang, kini terus bertambah.
"Tadi saya kumpulkan itu kan hanya para ibu (korban) saja, karena bapak-bapaknya ada yang lagi bekerja. Warga pabeja-beja (saling memberitahu) akhirnya berkerumun. Tadi kurang lebih di rumah ada 7 anak, ternyata berkembang karena tadi tidak datang semuanya. Dari si ibu yang korban ini dikasih catatan, ternyata ada 12 orang," jelas Hendra.
Korban Usia PAUD-SMP
Adapun para korban rata-rata merupakan anak perempuan dengan rentang usia yang masih sangat muda, mulai dari anak usia PAUD, SD, hingga yang hendak menginjak bangku SMP. Berdasarkan pengakuan korban, aksi bejat tersebut diduga sudah terjadi sejak bulan puasa atau Februari 2026.
Hendra menyebutkan, terduga pelaku yang sudah berusia 72 tahun tersebut kesehariannya dikenal sebagai sosok yang religius dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Pelaku merupakan warga pindahan dari Kecamatan Baros, Kota Sukabumi dan tinggal bersama anaknya di lingkungan tersebut.
"Sehari-hari dia baik, suka berjemaah di masjid, ikut pengajian, aktif. Ibadahnya bagus, enggak tahu gimana, bisa seperti itu," tuturnya.
Dilakukan di Area Masjid
Aksi tidak senonoh itu diduga kerap dilakukan pelaku pada siang hari di sekitar area masjid, yang biasa dijadikan tempat bermain anak-anak. Pelaku sendiri sehari-hari sering nongkrong di pelataran, samping masjid, dan gardu.
"Tempat kejadiannya itu di depan masjid, seringnya, karena tempat anak-anak bermain. Halaman masjid, tapi kalau yang lainnya saya enggak tahu karena bapak ini nongkrongnya seringnya di samping masjid dan di gardu," ujar Hendra.
Meski demikian, aksi bejat ini sempat membuat warga sekitar terkejut. Pasalnya, keluarga dari anak pelaku dikenal sebagai orang baik dan dermawan di lingkungan tersebut.
Warga yang geram sempat berkumpul di area masjid untuk meminta kejelasan dari pihak keluarga pelaku. Pihak kepolisian pun sempat berada di lokasi untuk memastikan kondisi dan situasi tetap kondusif.
Di sisi lain, warga dan para orang tua korban dengan tegas menolak keberadaan pelaku di lingkungan mereka. Warga khawatir keberadaan pelaku akan memicu trauma berkepanjangan bagi anak-anak korban.
"Dari lingkungan itu keinginannya si bapak jangan tinggal di kita, karena dikhawatirkan trauma ke anak, sieun aya si abah (takut ada si abah), gitu lah bahasa anak. Menolak, karena setahu saya dia juga punya rumah, karena dia sendiri jadi sama anaknya," kata Hendra.
Dilaporkan ke Polisi
Beberapa orang tua korban sudah berada di Polres Sukabumi Kota untuk dimintai keterangan. Kasus itu pun tengah ditangani Unit PPA Sat Reskrim Polres Sukabumi Kota.
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sukabumi Kota mengungkap modus operandi di luar nalar yang dilakukan oleh seorang kakek MH, terduga pelaku pencabulan terhadap belasan anak di bawah umur. Berdalih rasa sayang dan rindu, pelaku melancarkan aksi bejatnya di area terbuka, tepat di pelataran sebuah masjid.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi Kota AKP Hartono mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengamankan terduga pelaku. Berdasarkan pendalaman sementara, jumlah korban yang diduga disasar oleh predator anak ini mencapai 12 bocah.
"Sementara terduga melakukan itu ya dilakukan di depan masjid. Eh dengan modus dia sayang, merasa kangen," ujar AKP Hartono saat dikonfirmasi detikJabar, Rabu (22/7).
Polisi Lakukan Penyelidikan
Hingga saat ini, penyidik Satreskrim Polres Sukabumi Kota masih bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan alat bukti serta mendata seluruh anak yang menjadi korban. Mengingat potensi jumlah korban yang mencapai 12 orang, pemeriksaan intensif terus dikebut untuk mengungkap seluruh rangkaian kejahatan pelaku.
"Hari ini kita sudah mengamankan terduga. Namun kita lagi dalam pendalaman dengan jumlah, terhadap para korban pun kita lagi masih dalam tahap pemeriksaan dan pendataan," jelas Hartono.
Pelaku Dievakuasi
Aparat kepolisian bergerak cepat berkoordinasi dengan perangkat desa setempat untuk melakukan pengamanan preventif.
Berkat kesigapan tersebut, terduga pelaku berhasil dievakuasi dari amukan massa dan kini diamankan dalam kondisi sehat untuk menjalani proses hukum di kantor polisi. "Karena di sana perangkat desa juga turun langsung mengamankan dan kondisi terduga juga sehat, aman," pungkasnya.
Pihak kepolisian juga terus menggandeng Polsek setempat guna memperkuat langkah preventif Harkamtibmas (Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) demi meredam keresahan warga pascapengungkapan kasus kakek predator anak ini.
Tindaklanjut Pemerintah
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi memperketat pengawalan hukum dan pemulihan psikologis bagi 12 anak yang menjadi korban dugaan pencabulan oleh MH. Langkah ini diambil guna memastikan para korban mendapatkan penanganan intensif pasca-terungkapnya aksi bejat kakek tersebut.
Kasus ini mencuat setelah salah satu korban berani bersuara. Hingga Rabu (22/7/2026), tercatat sebanyak 12 anak di bawah umur, mulai dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP, menjadi korban tindakan asusila pelaku. Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, menyatakan telah menginstruksikan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) PPA Wilayah Utara untuk mendampingi korban sekaligus berkoordinasi dengan kepolisian.
"Kami sudah menginstruksikan UPTD Wilayah Utara untuk pendampingan terhadap korban secara psikologis dan koordinasi dengan pihak polres kota untuk mengawal kasus tersebut," ujar Agus Sanusi kepada detikJabar.
Sejauh ini, proses hukum dan penanganan medis terus berjalan. Berdasarkan data terbaru, dua dari 12 korban telah menjalani tindakan medis lanjutan berupa visum di RS Bhayangkara Secapa Polri untuk melengkapi alat bukti penyidikan. Seluruh proses ini dilakukan melalui koordinasi erat dengan Unit PPA Satreskrim Polres Sukabumi Kota.
Dinas Berikan Pemulihan Kepada Korban
Selain aspek hukum, DP3A memberikan perhatian khusus pada pemulihan trauma para korban. Tim psikolog dijadwalkan mulai melakukan pendampingan pada esok hari guna memulihkan kondisi mental anak-anak yang terdampak.
Sementara itu, MH saat ini telah mendekam di sel tahanan dan menjalani pemeriksaan intensif di Polres Sukabumi Kota. Polisi masih mendalami keterangan pelaku untuk memastikan jumlah pasti korban dalam kasus ini.
"Hari ini kita sudah mengamankan terduga. Namun kita lagi dalam pendalaman dengan jumlah, terhadap para korban pun kita lagi masih dalam tahap pemeriksaan dan pendataan," kata Kasat Reskrim Polres Sukabumi Kota AKP Hartono.
(wip/dir)
